Menurutku Garuda yang baru di IPO masih bagus kok untuk di collect, alasannya: 1. DI IPO Garuda itu mayoritas kan yang dapat investor domestik, tentunya investor asing yang punya modal lebih bnyak dari investor domestik masih pada mau dunk mengambil saham tersebut, karena Garuda kan memiliki brand image yang cukup baik di kalangan masyarakat Indonesia dan international. 2. Emank sich kalo dilihat secara PER cukup mahal, tapi kan Garuda masih bisa berkembang, buat apa kita beli saham perusahaan bagus yang bakal turun, mending beli saham perusahaan yang peluang growth-nya tinggi...Aku sich yakin dengan IPO ini Garuda bisa memperbaiki kualitasnya dan meningkatkan pelayanan-nya. 3. Kita harus mendukung bisnis penerbangan Indonesia, masa sich kita sebegitu teganya membuat saham Garuda gak berharga, apalagi di tengah kondisi pasar yang gak menentu begini, yah mending invest di Garuda lah yah yang punya peluang growth ok untuk long term investment. Jadi, sebagai kesimpulan yah investasi di Garuda masih cukup ok kok...Semuanya balik lagi ke tangan kita sebagai investor, mau optimis apa pesimis, kalo semuanya pesimis yah nih pasar saham bakal makin jeblok, thnx.
--- In [email protected], "caknoval" <noval_akt@...> wrote: > > Tapi kenapa Jamsostek tertarik mengcollect iponya garuda ya? Industri > penerbangan masih okelah. Apalagi di tahun 2011 ini pemerintah menghapus > biaya fiskal yang sangat mencekik penumpang yang mau bepergian ke luar > negeri. Tentunya hal tsb makin mempercerah prospek industri penerbangan. > Apalagi kawasan asia pasifik adalah kawasan gemuk di mana garuda termasuk > pemain utama di situ. > So tenang saja bro and sist. Cuma dua candle aja kok, hehehe... > > > --- In [email protected], sahamvalas <sahamvalas@> wrote: > > > > numpang copas dr sbelah > > Â > > Baca-baca berita terakhir soal IPO Garuda, banyak yang menyebutkan kalau > > IPO-nya ternyata akhirnya nggak laku. Lebih dari separuh saham yang dilepas > > hanya diserap oleh penjamin emisinya, alias gak diserap oleh investor > > publik. Padahal jumlahnya sudah dikurangi dari 9.4 milyar menjadi hanya 6.4 > > milyar lembar saham saja. Oversubscribe yang terjadi pun hanya 1.3 kali. > > Hmm, apakah karena harganya mahal? Mungkin nggak juga. > > > > Harga saham Garuda memang mahal, terutama kalau dilihat dari sisi > > fundamental. Tapi kalau cuma itu masalahnya, seharusnya tidak sampai > > membuat masyarakat jadi nggak berminat terhadapnya. IPO-IPO sebelum Garuda > > juga ditetapkan pada harga mahal, namun minat masyarakat tetap saja tinggi. > > Martina Berto (MBTO) contohnya, oversubscribe yang terjadi (atau setidaknya > > yang diklaim penjamin emisinya) mencapai 11 kali. > > > > Jadi apa masalahnya? Ada beberapa poin. Pertama, waktu penyelenggaraan > > IPO-nya. Seperti kita ketahui, Garuda menggelar IPO pada saat sekarang ini, > > dimana kondisi market mulai âistirahatâ setelah terus menerus menguat > > sejak September tahun lalu. Seharusnya, Garuda menggelar IPO-nya pada > > Oktober atau November lalu, yaitu ketika IHSG lagi tinggi-tingginya. > > Nyatanya pada periode tersebut, banyak sekali perusahaan yang menggelar IPO > > karena memanfaatkan momen pasar yang lagi bullish, dan mereka memang sukses > > menjaring dana sebesar-besarnya dari masyarakat. Sepanjang September â" > > Desember 2010 lalu, gak pernah kedengaran ada kabar yang menyebutkan bahwa > > ada saham IPO yang gak laku. > > > > Nah, para pihak-pihak yang berkepentingan dengan IPO Garuda ini seharusnya > > mengerti bahwa meski harga saham Garuda ditetapkan pada harga terendah > > sekalipun, harga tersebut akan tetap dinilai mahal, karena fundamental > > Garuda memang buruk. Jadi? Mereka seharusnya menjual Garuda ketika IHSG > > lagi dipuncak, sama seperti perusahaan-perusahaan swasta. Investor ketika > > itu sedang sangat bersemangat, sehingga mereka akan lebih fokus pada status > > BUMN-nya Garuda (sehingga secara spekulatif sahamnya mungkin masih bisa > > melejit, dan juga karena didukung kondisi market yang kondusif), daripada > > fundamentalnya. Alhasil, seperti IPO-IPO lainnya yang sukses, IPO Garuda > > kemungkinan besar juga akan diserap habis oleh publik. > > > > Tapi sayangnya, IPO BUMN yang digelar ketika itu malah Krakatau Steel > > (KRAS), yang secara fundamental jauh lebih baik dari Garuda. Seharusnya, > > IPO Garuda-lah yang digelar ketika itu, dan IPO KRAS baru digelar sekarang. > > Memangnya kenapa? Karena yang namanya bullish di market itu gak pernah > > bertahan selamanya. Selalu akan ada masa dimana harga-harga saham akan > > kembali ke level normalnya masing-masing, sehingga indeks sahampun akan > > terkoreksi, juga untuk kembali ke level normalnya. Jadi jika Garuda baru > > menggelar IPO-nya sekarang ini, maka itu sudah sangat terlambat, karena > > bullish di market sudah keburu pergi. Kalau dilihat dari tindakan > > Kementerian BUMN yang mengurangi jumlah saham Garuda yang dilepas hanya > > karena faktor market yang lagi lesu, maka sepertinya mereka gak punya orang > > yang ngerti konsep sederhana soal bullish â" bearish ini. Mungkin mereka > > pikir IHSG akan selalu berada diatas selamanya. > > > > Dan masalah keterlambatan itu diperburuk dengan peristiwa dimana beberapa > > saham IPO sebelum Garuda yang dihargai kemahalan, mulai berjatuhan hingga > > dibawah harga IPO-nya karena IHSG mulai terkoreksi (atau bisa juga > > sebaliknya, turunnya saham-saham IPO itulah yang menyebabkan IHSG > > terkoreksi). Kalaupun ada seorang investor yang tadinya sangat berminat > > dengan Garuda ini, maka setelah melihat jatuhnya IPO-IPO sebelum Garuda > > tersebut, dia pasti akan terpengaruh, dan mulai berpikir bahwa Garuda pun > > mungkin akan mengalami hal yang sama, bahkan meskipun seandainya Garuda > > dijual murah. > > > > Itu satu masalah, terkait waktu penyelenggaraan IPO yang kurang tepat. > > Masalah lainnya, berkaitan dengan Bank Mandiri. Tindakan BMRI yang langsung > > menjual sahamnya di Garuda (yang merupakan hasil konversi utang) pada saat > > IPO-nya, menyebabkan investor semakin tidak yakin dengan prospek dari > > Garuda ini. > > > > Memangnya kenapa? Begini, ketika BMRI seperti tergesa-gesa untuk melepas > > sahamnya di Garuda, maka investor yang paling awam sekalipun akan langsung > > berpikir kalau saham Garuda ini nggak berharga sama sekali. Lha wong BMRI > > aja langsung menjualnya kok? Itu kan berarti bank terbesar di Indonesia ini > > juga nggak berminat sama saham Garuda. Kalau memang Garuda ini bagus, > > sehingga katakanlah harganya mungkin bisa naik ke setidaknya 1,000 setelah > > listing nanti, maka BMRI seharusnya tetap memegang sahamnya tersebut, dan > > baru menjualnya pada harga 1,000 tadi. Lumayan kan, gain lebih dari 30% lho > > itu. Eh, ini langsung dijualnya pada harga 750. Berarti BMRI juga gak > > percaya kalau saham Garuda akan sukses di market, dan kemungkinan akan > > turun. Dan kalau institusi sebesar BMRI saja sudah tidak percaya, gimana > > investor publik mau percaya? > > > > Berikutnya, pemerintah atau dalam hal ini manajemen Garuda, juga tidak > > melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh perusahaan yang akan IPO. Apa > > itu? Meningkatkan kinerja perusahaan, atau setidaknya mempercantik laporan > > keuangan terakhirnya, agar investor tertarik. Ibaratnya, sayap-sayap Garuda > > ini sudah patah (kinerjanya jelek) sejak dulu, jadi cobalah sekali ini > > diperbaiki agar nanti dia (sahamnya) bisa terbang. Kalau penulis baca-baca > > laporan keuangan terbaru perusahaan yang akan IPO, maka selalu saja > > kinerjanya yang terakhir sekilas tampak meningkat drastis dibanding periode > > sebelumnya, meski kadang-kadang kalau dianalisis lebih dalam lagi ternyata > > cuma kelihatannya saja. Sementara Garuda? Kinerjanya pada september 2010 > > malah turun dibanding periode sebelumnya, dan hal itu terlihat sangat jelas > > di laporan keuangannya. > > > > Dan terakhir, berbagai informasi yang beredar terkait IPO Garuda, terkesan > > simpang siur, sehingga membuat investor mulai berpikir kalau pelaksanaan > > IPO Garuda ini nggak beres. Kementrian BUMN mengumumkan bahwa Garuda akan > > meraih dana 4.8 trilyun dari IPO. Tapi anehnya ada versi lain yang > > menyebutkan bahwa Garuda seharusnya hanya akan memperoleh dana 4.3 trilyun > > saja. Jadi mana yang benar? Terus, setelah sebelumnya disebutkan bahwa BMRI > > akan meraup 1.1 trilyun dari IPO Garuda ini, belakangan naik menjadi 1.4 > > trilyun. Dan lain sebagainya. > > > > Kesimpulannya, IPO Garuda ini boleh dibilang digelar tanpa strategi sama > > sekali. Sepertinya tidak ada niatan dari Pemerintah untuk menjadikan go > > private-nya Garuda ini sebagai upaya untuk membuat Garuda menjadi lebih > > baik. Jadi wajar kalau IPO-nya akhirnya kurang sukses. Mungkin itu karena > > pemiliknya adalah negara (Angkasa Pura I dan II juga merupakan BUMN). Jadi > > meski proses IPO Garuda ini tidak berjalan dengan baik, namun sepertinya > > tidak akan ada pihak yang protes, sebab yang dirugikan adalah negara > > sebagai pemilik Garuda. Bukan Pemerintah, atau siapapun. > > > > Kalaupun ada yang protes, paling-paling anggota DPR dari partai oposisi. > > Â > > http://teguhidx.blogspot.com/2011/01/kegagalan-ipo-garuda.html > > > ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. [email protected] untuk berhenti dari milis saham [email protected] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
