Hati-hati baca valuasi saham
By: daniri
http://www.madani-ri.com/2008/11/10/hati-hati-baca-valuasi-saham/
Bisnis Indonesia, Minggu, 9 November 2008
Sebagai pencinta matematika, beberapa kali saya mendapatkan kesempatan
mempresentasikan makalah tentang aplikasi matematika dalam investasi dan
keuangan dalam seminar nasional dan internasional matematika serta metode
kuantitatif.
Terakhir, September lalu saya kembali mengikuti seminar nasional matematika di
sebuah universitas swasta favorit di Bandung yang tahun ini mengambil tema
kontribusi matematika dalam menjawab tantangan dunia kerja.
Sesuai dengan tema ini, dua orang pembicara utama dihadirkan yaitu seorang
mantan CEO sebuah perusahaan multinasional dan seorang chief economist BEI.
Yang menarik dari paparan kedua pembicara ini, sehingga saya merasa perlu untuk
menuliskannya adalah perbedaan pandangan mereka tentang sebuah isu dasar.
Pembicara pertama, mantan CEO yang sekarang berkiprah sebagai pimpinan puncak
di sebuah perusahaan penerbangan terkemuka, mengatakan kalau pekerjaannya
sangat terbantu dengan matematika.
“Matematika memungkinkan saya selalu mempunyai banyak solusi untuk sebuah
permasalahan,” ujarnya. “Kontribusi matematika dalam dunia kerja adalah nyata
dan saya mengalaminya.”
Pembicara kedua justru berpendapat sebaliknya. Dengan tegas dia menyatakan
ketidaksetujuannya atas pernyataan pembicara pertama. Menurutnya, yang benar
itu adalah matematika membuat kita mendapatkan satu solusi tunggal untuk banyak
persoalan. “Matematika akan memberikan kita satu solusi sapu jagat untuk
multipel masalah yang kita hadapi,” komentarnya.
Banyak cara penyelesaian
Mendengar dua pandangan yang bertolak belakang ini, saya pun langsung
memanfaatkan sesi tanya jawab untuk meluruskan kedua pernyataan yang sama-sama
salah ini. Tanpa bermaksud menggurui kedua tokoh yang saya hormati ini, saya
katakan kalau pernyataan yang benar adalah, “Matematika mengajarkan kita kalau
ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu persoalan.
Semua cara itu, dalam matematika, mesti memberikan hasil yang sama. Dalam
banyak kasus, solusinya adalah tunggal. Namun, tidak jarang kita memperoleh
banyak solusi atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.” Itulah sebabnya,
matematika pernah disebut sebagai ilmu pasti sebelum tahun 1980-an.
Lebih lanjut saya juga menyatakan, “Jika sebuah persoalan saja belum tentu ada
solusinya, adalah tidak mungkin kita mempunyai solusi sapu jagat untuk berbagai
persoalan.”
Sebagai contoh, kita semua pernah belajar persamaan linier di sekolah menengah.
Untuk menyelesaikan persamaan linier paling sederhana hingga yang kompleks,
kita mempunyai sedikitnya enam cara yaitu eliminasi, substitusi, determinan
(aturan Cramer), matrik invers, metode Gauss, dan metode Gauss-Jordan.
Semua cara di atas akan memberikan hasil yang persis sama. Jika yang satu
mengatakan ada solusi tunggal, yang lainnya juga akan berkesimpulan seperti
itu. Demikian juga jika yang satu mengatakan persamaan linier mempunyai
multipel solusi atau tidak mempunyai solusi.
Untuk konkretnya, saya akan menggunakan tiga contoh persamaan linier paling
sederhana. Pertama, persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10. Diselesaikan
dengan cara apa pun, persamaan linier ini akan memberikan solusi tunggal yaitu
(X, Y) = (4, 2).
Tetapi, untuk persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16, kita mempunyai
multipel solusi seperti (2, 3), (4, 2), dan lainnya.
Kemudian, jika angka 16 dalam persamaan terakhir kita ganti dengan sembarang
angka lain, 15 misalnya, kita tidak akan pernah mendapatkan solusi karena
persamaan tidak konsisten.
Banyak jalan menuju Roma. Dalam matematika pun, kita mempunyai banyak cara
untuk menyelesaikan sebuah soal dan semuanya harus memberikan hasil yang sama.
Beda metode, beda nilai
Soal banyak cara ini, tidak berbeda dengan matematika, penilaian produk
investasi terutama saham juga mempunyai banyak metode. Sayangnya, hasil
penilaian berbagai metode yang ada ini seringnya tidak sama. Perbedaan
penilaian inilah yang menyebabkan terjadinya transaksi.
Ada pihak yang memandang harga sebuah saham masih murah (pembeli) sementara
pihak lain berpendapat sebaliknya (penjual). Jika semua metode ini memberikan
hasil yang sama, tidak akan banyak transaksi yang terjadi karena hanya akan ada
satu nilai yang disepakati bersama. Jika ini terjadi, frekuensi perdagangan dan
volatilitas harga saham akan menjadi rendah karena investor hanya akan menjual
saham saat memerlukan kas dan membelinya saat kelebihan kas.
Berbagai metode untuk penilaian saham itu adalah metode pendiskontoan dividen,
aliran kas bersih, residual income atau abnormal earnings, EVA (economic value
added), dan price multiple.
Metode pendiskontoan dividen dibagi lagi menjadi model dividen konstan, dividen
bertumbuh, dan dividen dengan beberapa tingkat pertumbuhan.
ntuk aliran kas bersih dan residual income, kita mempunyai model satu tahap dan
banyak tahap (dua dan tiga tahap).
Terakhir, metode price multiple mempunyai varians PER, PEG (price earning to
growth), PBV (price to book value), price to sales, price to cash flows, dan
EV/EBITDA (enterprise value to earnings before interest, taxes, depreciation, &
amortization).
Memahami banyaknya metode di atas, Anda tidak perlu kaget lagi jika valuasi
antaranalis saham tidak sama karena sangat mungkin mereka menggunakan metode
yang berbeda. Untuk metode yang sama saja, nilai wajar saham dapat berbeda jika
asumsinya (tingkat diskonto dan tingkat pertumbuhan) berbeda.
Kesimpulannya, menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya,
tetapi juga banyak hasilnya.
Tip dari saya, hati-hati membaca laporan valuasi saham dari para analis. Jika
dia menargetkan nilai tertentu untuk sebuah saham, dia dapat melakukannya
dengan mudah yaitu dengan mencari metode dan asumsi yang mendukung target
harganya itu.
.
Oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan