Intinya adalah suka-suka analis. Kalo dia pengen valuasinya kemurahan dia bisa 
cari metode yg mendukung perhitungannya. Begitu pula sebaliknya.
Bahkan bila perlu 1 bisa dibuat sama dengan 2.

Bukti:

(a+a)(a-a)=(a+a)(a-a)
(a^2-a^2)=(a+a)(a-a)
a(a-a)       =(a+a)(a-a)

Coret (a-a) pada kedua ruas sehingga tersisa:

a=(a+a)
a=2a 
Masing-masing dibagi a:

1=2 q.e.d.

Hehehe...


"The more quantitative a model, the better the valuation."

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Thu, 24 Mar 2011 14:29:11 
To: SHM<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] valuasi saham [article]

Kook puanjaang banget ya Om?? Inti nya apa sih? Klo memperdebatkan tentang 
matematika...pasti antara alumni IPA vs IPS ya?? ♓έ;)♓έ;)♓έ;)♓έ ...perasaan klo 
di negara asal matematika itu semua nya di Sinergikan lho (maka nya menjadi 
negara maju), ane baru baca setengah artikel tsb  sdh nheek....kesombongan yg 
tersamar ♓έ;)♓έ;)♓έ;)♓έ ..(Baru CEO aja dah blagu ♓έ;)♓έ;)♓έ;)♓έ ...klo dah 
level nya Bill gates or Steve Job, baru boleh ber koar2 n sy yakin beliau2 itu 
pasti nggak mempermasalahkan  Matematika...).gw mlai nylamur neh...maapin yaaa
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: sahamvalas <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 24 Mar 2011 07:17:36 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] valuasi saham [article]

Hati-hati baca valuasi saham
By: daniri
http://www.madani-ri.com/2008/11/10/hati-hati-baca-valuasi-saham/
 
 

Bisnis Indonesia, Minggu, 9 November 2008
 
 Sebagai pencinta matematika, beberapa kali saya mendapatkan kesempatan 
mempresentasikan makalah tentang aplikasi matematika dalam investasi dan 
keuangan dalam seminar nasional dan internasional matematika serta metode 
kuantitatif.
Terakhir, September lalu saya kembali mengikuti seminar nasional matematika di 
sebuah universitas swasta favorit di Bandung yang tahun ini mengambil tema 
kontribusi matematika dalam menjawab tantangan dunia kerja.
 
Sesuai dengan tema ini, dua orang pembicara utama dihadirkan yaitu seorang 
mantan CEO sebuah perusahaan multinasional dan seorang chief economist BEI. 
Yang menarik dari paparan kedua pembicara ini, sehingga saya merasa perlu untuk 
menuliskannya adalah perbedaan pandangan mereka tentang sebuah isu dasar.
Pembicara pertama, mantan CEO yang sekarang berkiprah sebagai pimpinan puncak 
di sebuah perusahaan penerbangan terkemuka, mengatakan kalau pekerjaannya 
sangat terbantu dengan matematika.
 
“Matematika memungkinkan saya selalu mempunyai banyak solusi untuk sebuah 
permasalahan,” ujarnya. “Kontribusi matematika dalam dunia kerja adalah nyata 
dan saya mengalaminya.”
Pembicara kedua justru berpendapat sebaliknya. Dengan tegas dia menyatakan 
ketidaksetujuannya atas pernyataan pembicara pertama. Menurutnya, yang benar 
itu adalah matematika membuat kita mendapatkan satu solusi tunggal untuk banyak 
persoalan. “Matematika akan memberikan kita satu solusi sapu jagat untuk 
multipel masalah yang kita hadapi,” komentarnya.
 
Banyak cara penyelesaian
Mendengar dua pandangan yang bertolak belakang ini, saya pun langsung 
memanfaatkan sesi tanya jawab untuk meluruskan kedua pernyataan yang sama-sama 
salah ini. Tanpa bermaksud menggurui kedua tokoh yang saya hormati ini, saya 
katakan kalau pernyataan yang benar adalah, “Matematika mengajarkan kita kalau 
ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu persoalan. 
 
Semua cara itu, dalam matematika, mesti memberikan hasil yang sama. Dalam 
banyak kasus, solusinya adalah tunggal. Namun, tidak jarang kita memperoleh 
banyak solusi atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.” Itulah sebabnya, 
matematika pernah disebut sebagai ilmu pasti sebelum tahun 1980-an.
Lebih lanjut saya juga menyatakan, “Jika sebuah persoalan saja belum tentu ada 
solusinya, adalah tidak mungkin kita mempunyai solusi sapu jagat untuk berbagai 
persoalan.”
 
Sebagai contoh, kita semua pernah belajar persamaan linier di sekolah menengah. 
Untuk menyelesaikan persamaan linier paling sederhana hingga yang kompleks, 
kita mempunyai sedikitnya enam cara yaitu eliminasi, substitusi, determinan 
(aturan Cramer), matrik invers, metode Gauss, dan metode Gauss-Jordan.
 
Semua cara di atas akan memberikan hasil yang persis sama. Jika yang satu 
mengatakan ada solusi tunggal, yang lainnya juga akan berkesimpulan seperti 
itu. Demikian juga jika yang satu mengatakan persamaan linier mempunyai 
multipel solusi atau tidak mempunyai solusi.
 
Untuk konkretnya, saya akan menggunakan tiga contoh persamaan linier paling 
sederhana. Pertama, persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10. Diselesaikan 
dengan cara apa pun, persamaan linier ini akan memberikan solusi tunggal yaitu 
(X, Y) = (4, 2).
Tetapi, untuk persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16, kita mempunyai 
multipel solusi seperti (2, 3), (4, 2), dan lainnya.
Kemudian, jika angka 16 dalam persamaan terakhir kita ganti dengan sembarang 
angka lain, 15 misalnya, kita tidak akan pernah mendapatkan solusi karena 
persamaan tidak konsisten.
 
Banyak jalan menuju Roma. Dalam matematika pun, kita mempunyai banyak cara 
untuk menyelesaikan sebuah soal dan semuanya harus memberikan hasil yang sama.
 
Beda metode, beda nilai
Soal banyak cara ini, tidak berbeda dengan matematika, penilaian produk 
investasi terutama saham juga mempunyai banyak metode. Sayangnya, hasil 
penilaian berbagai metode yang ada ini seringnya tidak sama. Perbedaan 
penilaian inilah yang menyebabkan terjadinya transaksi.
 
Ada pihak yang memandang harga sebuah saham masih murah (pembeli) sementara 
pihak lain berpendapat sebaliknya (penjual). Jika semua metode ini memberikan 
hasil yang sama, tidak akan banyak transaksi yang terjadi karena hanya akan ada 
satu nilai yang disepakati bersama. Jika ini terjadi, frekuensi perdagangan dan 
volatilitas harga saham akan menjadi rendah karena investor hanya akan menjual 
saham saat memerlukan kas dan membelinya saat kelebihan kas.
 
Berbagai metode untuk penilaian saham itu adalah metode pendiskontoan dividen, 
aliran kas bersih, residual income atau abnormal earnings, EVA (economic value 
added), dan price multiple.
 
Metode pendiskontoan dividen dibagi lagi menjadi model dividen konstan, dividen 
bertumbuh, dan dividen dengan beberapa tingkat pertumbuhan.
ntuk aliran kas bersih dan residual income, kita mempunyai model satu tahap dan 
banyak tahap (dua dan tiga tahap).
 
Terakhir, metode price multiple mempunyai varians PER, PEG (price earning to 
growth), PBV (price to book value), price to sales, price to cash flows, dan 
EV/EBITDA (enterprise value to earnings before interest, taxes, depreciation, & 
amortization).
 
Memahami banyaknya metode di atas, Anda tidak perlu kaget lagi jika valuasi 
antaranalis saham tidak sama karena sangat mungkin mereka menggunakan metode 
yang berbeda. Untuk metode yang sama saja, nilai wajar saham dapat berbeda jika 
asumsinya (tingkat diskonto dan tingkat pertumbuhan) berbeda. 
 
Kesimpulannya, menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya, 
tetapi juga banyak hasilnya.
 
Tip dari saya, hati-hati membaca laporan valuasi saham dari para analis. Jika 
dia menargetkan nilai tertentu untuk sebuah saham, dia dapat melakukannya 
dengan mudah yaitu dengan mencari metode dan asumsi yang mendukung target 
harganya itu.
.
Oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan


      

Kirim email ke