Numpang nimbrung.. Bang ian ini org matematika, dalam hidupnya selalu ada hitung2an probabilitas. Hidup itu tdk ada kepastian, mksdnya arah ke depan (baca : masa depan) tdk ada yg tahu.
Namun nature nya manusia ingin kepastian (baca : rasa aman), oleh sebab itu matematika bermain dengan probabilitas. Org menilai probabilitas sbg spekulasi krn toh mmg tdk ada kepastiannya. Tinggal anda pilih probabilitas tingkat mana yg anda mau. Rendah, sedang atau tinggi. Nah kalo udh memilih msg2 org pasti punya pilihan dan argumen msg2. Yang pasti pilihan akan Kayak bang ian yg trading dr jaman msih pake white board + kekeran, high risk bisa jd bkn high risk di matanya krn skill trading sdh ditempa puluhan tahun. Namun kyk saya yg trading bru htungan bulan, saham msih high risk. Yang mau saya sampaikan adalah objek(saham) bisa sama, proses(trading) bisa sama namun hasil akhir(cuan) bisa berbeda. Nikmati saja perbedaan itu, dan berpegang teguhlah pada keyakinan anda msg2. Sent from my WhiteBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 31 Mar 2011 23:43:59 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: Re[2]: [saham] Saham (was Re: Congrats! Yang Sudah Take Profit ELSA) Menguasai analisa fundamental maupun analisa teknikal bukan berari akan terbebas dari unsur spekulasi. Selama manusia hidup, akan selalu ada unsur spekulasinya. Bahkan, berdiam diri di rumah pun, memiliki unsur spekulasi/risk. Misalkan, ketiban pesawat, ketiban meteor, ketiban pohon tetangga yang besar banget, rumah kebakaran karena korstleting, dst. Pemahaman mendasar ini sering kurang dipahami oleh sebagian orang. Kalau boleh saya tebak, apakah anda menyamakan tindakan spekulasi ataupun yang memiliki resiko, anda samakan dengan tindakan berjudi? :) Kalau jawabannya ya, saya bisa maklum anda tidak paham terhadap pemaparan2 saya di awal, sehingga anda menganggapnya saya berkomentar asal2an :) jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu 2011/3/31 Oguds <[email protected]> > Thursday, March 31, 2011, 10:25:41 PM, you wrote: > > IAN> Pada akhirnya, semua berpulang ke individunya sendiri. Kalaupun > IAN> MUI telah menyatakan halal, tapi perilaku kita terhadap saham > IAN> masih lebih dekat ke sikap berjudi, maka bagi saya dia masih > IAN> berjudi terhadap saham. Suka atau tidak suka membaca pernyataan > IAN> saya ini, tapi itulah sisi fakta yang saya lihat dan amati. > > Berarti pelaku tadi tidak memahami fatwa MUI, karena ada banyak > persyaratan atas kehalalan transaksi saham. Secara normatif, ada > aturan yg mengikat (buat muslim), fatwa MUI tadi. Saya sepakat, dalam > prakteknya syarat2 tadi boleh jadi tidak dipahami atau malah > diabaikan. Namun dalam tataran normatif-lah kita berpijak. > > Makanya, di posting awal saya menulis, agar tidak terjebak spekulasi > buatlah dasar2 'bermain' saham dan patuhi dasar2 tadi. Nah, di sinilah > sebenarnya peran bang Ian sangat penting, yaitu melatih analisa > teknikal dan fundamental. Bayangkan, berapa orang yg telah ikut > seminar dan sukses, terselamatkan dunia dan akhirat? :-) > > Sebagai penutup, saya punya dua kesimpulan: > - Hukum jual beli saham adalah halal, dengan syarat2 tertentu. > - Kuasai analisa teknikal dan fundamental dengan baik agar tidak > terjebak tindakan2 spekulasi. > > -- > Tertanda, > Oguds [960000031] > > >
