kompas:http://cetak.kompas.com/read/2011/04/08/04111248/Malinda.dan.Mitos.PerbankanMalinda
 dan Mitos Perbankan
Christianto Wibisono

Skandal penggelapan dana nasabah Citibank oleh Malinda Dee membuktikan bahwa 
mitos kejayaan dan profesionalisme Citibank rapuh.

Terdapat keterkaitan tiga isu utama dunia: pencucian uang oleh para koruptor 
melalui perbankan global; eksploitasi dana haram—plus sebagian dana 
halal—nasabah oleh eksekutif perbankan yang dicemplungkan ke dalam kasino 
derivatif global yang tak aman; serta kegagalan pemerintah ataupun otoritas 
global mengarahkan dana perbankan untuk pembangunan sektor riil.

Pembobolan Citibank oleh Malinda, penggelapan oleh Bernie Madoff, serta skandal 
spekulasi dan manipulasi valas Nick Leeson dan Dicky Iskandardinata yang 
membangkrutkan Barings dan Bank Duta harus kita pahami sebagai modus dan gejala 
universal.

Sampai di mana otoritas moneter suatu negara-bangsa dan otoritas moneter global 
bisa membenahi penyakit ini dalam konteks yang lebih struktural untuk 
menciptakan arsitektur keuangan global yang bertanggung jawab, transparan, dan 
bermanfaat bagi kebutuhan dunia akan pembangunan sektor riil? Perlu aliran dana 
guna meningkatkan kesejahteraan manusia secara lebih mangkus.

Laba terbesar

Anthony Sampson dalam buku The Money Lenders, mengutip pernyataan Walter 
Wriston, petinggi Citibank kurun 1970-an, menyatakan, keuntungan terbesar 
Citibank diraup dari cabang Jakarta. Ketika bank itu buka cabang pada 1967, 
modal setornya hanya 1 juta dollar AS. Modal itu pasti hanya dipakai untuk beli 
atau sewa kantor. Lalu, perusahaan AS yang berinvestasi di Indonesia menjadi 
nasabah, disusul oleh masyarakat perusahaan dan perorangan Indonesia. Nah, 
dengan modal reputasi dan kepercayaan terhadap Citibank itu, cabang 
Jakarta—satu satunya di Indonesia—jadi juara penyetor untung bagi Citibank 
global.

Wartawan Vincent Lingga pernah mengeluh, tabungannya selama 30 tahun sebagai 
wartawan terkuras habis karena dibelikan produk keuangan Lehman Brothers yang 
dibiarkan bangkrut oleh Presiden Bush dan memicu krisis keuangan AS dan global 
pada 2008. Vincent membeli produk derivatif itu oleh bujukan pegawai Citibank. 
Bandingkan dengan Robert Tantular dan Bank Century yang menjual sekuritas 
Antaboga.

Arsitektur keuangan global era 1980-an memang didominasi produk derivatif yang 
sangat tak terkait dengan sektor riil. Dana yang berputar triliunan dollar AS 
di rekening antarbank sedunia, milik pelbagai perusahaan dan nasabah kakap 
koruptor ataupun konglomerat sejati, sebagian besar justru tak pernah menyentuh 
sektor riil, seperti infrastruktur.

Karena itulah Wapres AS Joseph Biden mengusulkan pembentukan Bank Infrastruktur 
AS karena prasarana jalan dan jembatan serta perkeretaapian di AS kumuh dan 
lamban seperti Dunia Ketiga.

Direktur Pengelolaan IMF Dominique Strauss-Kahn, Selasa lalu di Washington DC, 
menyatakan bahwa perbankan dan sistem moneter dunia harus segera menggebrak 
sektor riil pembangunan infrastruktur serta kebutuhan pangan, energi, dan 
pemenuhan kebutuhan primer masyarakat, seperti pendidikan dan kesehatan. Semua 
itu memerlukan kebijakan agar dana yang terhimpun pada sistem moneter global 
bisa dimanfaatkan dan diinvestasikan di sektor riil jangka menengah-panjang dan 
bukan sekadar dikonsumsi atau dispekulasikan dalam kasino derivatif global.

Gertak sambal

Anggota DPR dengan galak mengancam akan mencabut izin Citibank. Saya rasa tak 
semudah gertak sambal antarkoalisi atau partai sempalan. Soalnya, pemilik 
Citibank itu adalah konsorsium global yang melibatkan Pemerintah AS (36 
persen), Pemerintah Singapura melalui BUMN GSIC (11,1 persen), Kuwait 
Investment Authority (6 persen), Abu Dhabi Investment Authority (4,9 persen), 
dan Kingdom Holding Company Arab Saudi pimpinan Pangeran Al Waleed bin Talal.

Jadi, Citibank merupakan wajah perusahaan transnasional, multinasional, dan 
global yang tak didominasi satu kelompok pun. Ia konsorsium multilateral.

Bagaimana menyelesaikan dan menghukum masalah Citibank ini? Praktik Malinda 
pasti bukan hanya terjadi di Citibank. Bisa terjadi di bank BUMN dan bank milik 
konglomerat kita. Jadi, otoritas moneter global, regional, dan nasional harus 
waspada, seperti kata Dominique Strauss- Kahn yang akan mencalonkan diri 
sebagai presiden dalam pemilihan di Perancis.

Segala praktik campur aduk spekulasi dan manipulasi derivatif harus diawasi 
ketat oleh otoritas moneter. Akumulasi dana—baik halal maupun haram (dari 
aliran pencucian uang diktator dan koruptor)—sedunia seyogianya disalurkan bagi 
investasi sektor riil, infrastruktur, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mumpung ada dosa kolektif Obama, Al Waleed, dan Ho Ching (pemegang saham 
Citibank mewakili GSIC), usul pembentukan Bank Pembangunan Infrastruktur baik 
di AS oleh Wapres Biden maupun di Indonesia oleh Kadin bisa segera direalisasi. 
Pemerintah bisa bernegosiasi atas dasar terobosan pemikiran membangun 
arsitektur keuangan global yang bertanggung jawab, transparan, dan bermanfaat 
bagi kualitas hidup manusia.

Pengarahan dana perbankan dari sektor derivatif ke sektor riil harus digerakkan 
otoritas moneter global. Sekarang kesempatan bagi otoritas global dan G-20 
memperlihatkan wibawa mengatasi praktik skandal model Leeson, Madoff, dan 
Malinda. Jika tidak, Malindagate bisa terulang di mana, kapan, dan oleh bank 
apa saja.

KPK mesti turun tangan menelusuri rekening terkait Malinda sebab sebagian pasti 
ada unsur korupsinya. Hukum karma bagi koruptor yang rekeningnya digelapkan 
Malinda: Anda merampok dana negara dan rakyat, aparat penegak hukum mungkin tak 
bisa mengejar, tetapi Anda disikat Malinda. Itulah tangan siluman karma.

 Christianto Wibisono CEO Global Nexus Institute
Love is a VERB!!

------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke