Diskusi dan adu argumen antara saya dengan Pak Oguds tampaknya telah
berkembang lebih jauh sehingga saya berpikir pada akhirnya harus membuat
topik baru ini sekaligus memberikan pencerahan tentang mekanisme pasar
termasuk pemahamannya yang tampaknya beberapa di antara kita belum paham
sehingga jadi salah mengerti dalam menyimpulkan sesuatu.

Saya melihat masih adanya kekurang pemahaman antara capital inflow ke bursa
dengan nilai transaksi perdagangan saham. Sebagian diantara kita tampaknya
masih beranggapan bahwa nilai transaksi harian sama dengan capital inflow,
padahal tidaklah demikian. Di bursa saham, selalu berlaku rumus capital
inflow = capital outflow.
Jadi, berapapun duit baru yg masuk ke bursa (capital inflow) maka segitu
juga ada duit yg keluar dari bursa (capital outflow) dengan asumsi kita
abaikan biaya/fee transaksi.

Saya akan jelaskan satu per satu dengan memberikan contoh kasus:

Asumsikan saya punya uang di bank 100 juta yang saya tarik untuk saya
investasikan di saham.
Data berikut ini adalah data kejadian 1 hari yang sama.
1. Membeli saham BMRI senilai 100 juta, kemudian
2. Sekitar 20 menit kemudian nilainya naik jadi 103 juta. Saya jual. Lalu,
3. Saya uang 103 juta saya belikan BBRI semuanya, dan ternyata
4. Sekitar 30 menit kemudian nilainya naik jadi 105 juta. Saya jual. Setelah
itu,
5. Saya langsung belikan saham ITMG sebanyak 105 juta, sayangnya
6. Sekitar 1 jam kemudian nilainya turun jadi tinggal 102 juta. Saya jual.
7. Lalu 102 juta itu saya belikan saham ASII, lagi2 ternyata turun
8. Jadi tinggal 99 juta. Lalu saya belikan saham TINS sebanyak 99 juta.
9. Beruntunglah nilainya naik jadi 102 juta. Saya jual, dan kemudian
10. Saya belikan INDF senilai 102 juta. Menjelang tutup bursa jam 4 sore,
11. Nilai investasi saya di INDF tinggal 100 juta, lalu saya jual saja.
12. Kas yg 100 juta dari hasil penjualan INDF saya tarik lagi dan masukan ke
bank.


Pertanyaan pertama:
Berapakah nilai investasi saya di saham hari itu? Atau, berapakah capital
inflow dari saya (duit yg masuk ke bursa dari saya) hari itu?

Jawabnya adalah NOL.

Berapakah kontribusi nilai transaksi perdagangan saham yang saya lakukan di
bursa pada hari itu?

Jawabnya adalah Rp1.222.000.000 alias satu milyar dua ratus dua puluh dua
juta rupiah.

Sekarang Pak Oguds dan rekan2 lainnya dapat melihat dengan jelas, dengan
capital inflow NOL ke bursa, saya bisa membuat transaksi perdagangan bursa
harian mencapai Rp1.222.000.000.

Kejadian seperti ini banyak terjadi di bursa, termasuk yang switching dari
investasi di saham ABCD ke saham KLMN alias sebenarnya tidak ada capital
inflow maupun outflow dari peristiwa switching investasi.

Lalu, bagaimana saya bisa menjelaskan bahwa capital inflow di bursa pasti
sama dengan capital outflow di bursa?

Jawabannya sangat mudah sekali. Asumsi fee transaksi beli dan jual kita
abaikan, maka capital inflow akan selalu sama dengan capital outflow. Hal
ini karena sewaktu kita membeli saham (capital inflow) di harga tertentu
dengan jumlah tertentu, katakan 100 juta rupiah, maka disaat yang sama akan
ada orang yang menjual dan menerima dana itu sebesar 100 juta rupiah juga
(capital outflow). Tidak akan pernah mungkin terjadi kita membeli 100 juta
rupiah (capital inflow) sementara orang yg menjual hanya 90 juta rupiah
(capital outflow). Tidak akan pernah mungkin peristiwa ini terjadi di bursa
saham, kecuali brokernya nipu, lakunya di 100 juta tapi dilaporkan hanya
laku senilai 90 juta :)

Jadi, kalau ada duit masuk (fresh money) ke bursa senilai 100 milyar, maka
hari yg sama akan ada duit yg keluar dari bursa senilai 100 milyar. Tidak
bisa tidak, harus ada yang keluar senilai yang sama.

Uang yang keluar dari bursa ini, bisa digunakan banyak hal.
Saya sudah kasihkan contoh terdahulu tentang PT Semangat Untuk Maju yang
sempat menaruh uang di ASII 3 bulan yang lalu. Karena dia sedang membutuhkan
dana untuk digunakan di sektor riil, proyek pembangunan gedung baru, katakan
saja untuk contoh kali ini agar memudahkan dan selaras dengan contoh di
atas, uang PT Semangat Untuk Maju di ASII sekarang nilainya 100 milyar. Maka
capital inflow (investasi di saham) yang masuk senilai 100 milyar itu,
keluar dalam bentuk capital outflow dari PT. Semangat Untuk Maju dengan
nilai yang sama sebesar 100 milyar. Kita bisa lihat dengan contoh kasus
penyederhanaan ini, maka investasi yang dilakukan di saham, akan berdampak
langsung ataupun tidak langsung ke sektor riil.

Yang jadi permasalahan selama ini adalah tidak adanya data berapa capital
inflow yang masuk ke bursa. Yang ada adalah data nilai total transaksi
perdagangan setiap harinya. Sayangnya, sebagian orang yang tidak paham angka
nilai total transaksi perdagangan saham itu suka diartikan sebagai capital
inflow. Mudah2an sekarang menjadi jelas dan paham tentang apa itu nilai
total transaksi perdagangan saham dan apa itu investasi ke saham atau
capital inflow ke saham.

Analisa grafik yang coba menunjukkan berapa besar money inflow dan money
outflow itu sebenarnya adalah istilah ngaco/ngawur dan menyesatkan bila
pemakainya tidak paham dari mana angka itu muncul dan apa maksud dari
istilah itu. Hal ini karena money inflow akan selalu sama dengan money
outflow di bursa saham manapun dengan asumsi mengabaikan fee transaksi.

Pahami dengan benar tentang bursa saham. Jangan mudah terkecoh oleh
pendapat2 umum yang kurang paham mekanisme bursa saham sehingga sering kali
komentar2 ngaco dan ngawur serta menyesatkan jadi meracuni masyarakat yang
kurang paham. Peran media sangat dibutuhkan dalam edukasi masyarakat akan
hal ini agar ada pemahaman yang benar di masyarakat.


Semoga anggota milis ini bisa mendapatkan pencerahan dari pemaparan di atas
dan tidak lagi salah pemahaman akan hal di atas.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke