Turut nimbrung sedikit, terlepas dari besar kecilnya porsi saham, apa
yg bapak "beli" adalah sama yaitu saham suatu perusahaan.  Yang
membedakan kalau saya baca dari tulisan bapak adalah cara pandang
bapak tentang arti dari saham2 perusahaan tersebut.  Bukan berarti
karena hanya punya modal 25 jt terus harus trading/short term
speculation, bisa saja toh anda beli saham sebuah perusahaan seniali
25 jt dan anda biarkan saja dan menunggu dividen dari perusahaan
tersebut dan tetap memegang saham yg bapak beli hingga 20 tahun
kedepan, karena itulah yg telah saya lakukan, saya ada memegang saham
yg nilainya mungkin tidak seberapa dibeberapa perusahaan multinasional
baik didalam maupun di luar negeri selama belasan tahun dan saya rasa
sama saja dengan saham perusahaan kecil (toko) yg saya juga miliki
saat ini, maupun saham perusahaan (toko) yg hanya saya pegang selama 3
tahun sebelum saya jual kepada orang lain.

Garis besarnya adalah, bagaimana anda memperlakukan dana anda lah yg
membedakan apakah anda melakukan spekulasi jangka pendek ataupun
investasi jangka panjang, bukan jumlahnya.

On 4/11/11, Panda Kuswadi <[email protected]> wrote:
> hehehehehe, ternyata saya memang banyak salah dalam menulis ya, mohon maaf
> karena semalam pake BB jadi banyak yang salah tulis, juga mengenai thread
> yang saya buat sebenarnya kurang lebih sama dengan yang ada di thread bang
> ian, jadi saya kembali meluruskan intinya adalah sama, hanya saya yang salah
> tulis
>
> jika dikembalikan lagi ke permasalahan apakah investasi di sektor riil =
> dengan investasi saham, memang esensi pembahasan adalah mengenai investasi
>
> contoh yang saya ajukan sebenarnya coba menjawab namun dari sisi yang
> berbeda atau lebih beragam, saya rasa masih agak nyambung, intinya adalah
> jika disektor riil dengan modal 25 juta masih memungkinkan kita memiliki
> saham mayoritas (cth yang saya maksud dengan modal usaha 100 juta, dan kita
> memiliki 25% senilai 25 juta, dan yang 75% dibagi oleh 3 orang) jadi semua
> porsi kepemilikan sama
> sehingga kita termasuk pemegang saham mayoritas dan kosekuensi yang
> menyertainya
>
> sedangkan di investasi saham apakah dengan angka 25 juta bisa seperti itu??
> saya rasa tidak
>
> ambil contoh dengan pemilikan saham ASII (bukan astra, maaf saya salah tulis
> lagi) senilai 25 juta, apakah investasi ini yang sangat kecil porsinya bsa
> diperlakukan sama dengan diatas
>
> saya mengerti yang hendak bang ian sampaikan mengenai investasi ini, hanya
> saja menurut pandangan saya, kita perlu melihat situasi berdasarkan
> kenyataan yang ada atau kondisi saat ini, di milis ini saya rasa lebih
> banyak investor dengan modal kecil, jelas harapan dari investasi disaham
> adalah kenaikan sahamnya, jadi komoditas nya adalah saham itu bukan
> perusahaannya
>
> tidak bisa disalahkan jika kenyataannya memang seperti itu dan memang
> digiring kesana karena keadaan
>
> jadi jika dikembalikan ke pertanyaan awal apakah investasi di sektor riil =
> investasi di saham maka jawaban yang saya temukan adalah berbeda, karena
> dari awal tujuan dan porsinya pun berbeda, karena memang tidak bisa
> disamakan
>
> pernah saya berdebat dengan teman soal kejelekan mobil avanza (yang saya
> miliki) dibandingkan dengan lexus, beliau bilang bak langit dan bumi dengan
> perincian teknis yang panjang lebar sembari terus mengagungkan si lexus dan
> menjelek2an avanza, saya bilang tanpa penjelasan panjang lebar secara teknis
> saya rasa sudah tau kok, masalahnya kemampuan saya memang hanya bisa membeli
> avanza dan itu realitanya, saya tantang dia kalau memang dia sangat
> mengidolakan lexus kenapa tidak membeli?? malah dia punya avanza juga,
> itulah realita yang ada berdasarkan kemampuan saat ini
>
> mudah2an masih nyambung ya
>
> saya tetap kagum dengan yang bang ian upayakan, hanya saja buat saya dan
> mungkin sebagian juga masih belum bisa masuk area tersebut, saya beli saham
> ASII 1 lot misalnya, harapan saya tentunya saham tersebut naik dan saya bisa
> jual diatas harga tersebut
> paling ekstrim ketika melakukan TA didapat saham BNBR layak dibeli, semua
> indikator dan rekomendasi misalnya mengisyaratkan BNBR akan menuju angka 80
> (misalnya ya) maka kita akan membeli (investasi??) disaham BNBR tersebut
> walaupun kita tahu kondisi fundamental saham tersebut tidak bagus, jadi
> jelas yang diperjual belikan adalah BNBR nya
>
> menarik kasus yang bang ian sampaikan ke pak oguds mengenai fifi dan erni :)
> hehehehe, kalau boleh saya ikutan ya, investasi disektor riil awalnya tidak
> berharap akan penjualan sahamnya ke pihak lain, jika pun terjadi seperti itu
> bisa diyakini bahwa tujuan awalnya memang tidak seperti itu, dan seandainya
> investasi disektor riil tersebut terus berpindah2 tangan dan bisa dilakukan
> maka komoditas yang terjadi persis seperti investasi di saham, lama2 yang
> diperdagangkan adalah sahamnya bukan perusahannya, jadi tujuannya jadi
> berubah, persis seperti investasi di saham
>
>
>
> 2011/4/11 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>
>>
>>
>> Pak Panda, judut thread ini berbeda dengan judul thread yang saya buat.
>> Kalau yang saya buat buat judulnya,
>> "Investasi Di Saham = Investasi Di Sektor Riil?"
>>
>> Saya masih pakai tanda tanya karena memang sengaja memancing polemik agar
>> muncul banyak pikiran dan pendapat sehingga akan mengalir diskusi pro dan
>> kontra, argumentasi dan kontra argumentasi. :)
>>
>> Sementara yang Pak Panda buat judulnya,
>> "Beda investasi riil dengan beli saham."
>>
>> Sebuah kalimat pernyataan yang beda pula pemilihan istilahnya dengan saya
>> :)
>>
>> Anda berpendapat bahwa tidak sama antara membeli saham di pasar modal
>> dengan investasi di sektor riil. Maka dengan cepat saya akan mengiyakan
>> pernyataan anda tersebut, karena memang beli saham di pasar modal tinggal
>> klik2 dari internet untuk yang online trading atau via telpon untuk yang
>> via
>> broker, langsung bisa beli saham. Sementara untuk investasi di sektor riil
>> dalam artian terjun langsung ke perusahaan (kalau tidak salah saya tangkap
>> maksud anda), ngga bisa seperti itu. Karena harus urus ijin bila bentuknya
>> PT, lalu urus ijin buka usaha termasuk ijin lokasi, membeli perlengkapan
>> usaha,dst...dst.  :)
>>
>> Padahal maksud dari tulisan saya di thread yang saya buat adalah topik
>> atau
>> hal terkait dengan investasi di saham, bukan soal membeli saham, tapi
>> lebih
>> jauh dari membeli saham yaitu investasi di saham. Tentunya untuk investasi
>> di saham itu pengertiannya adalah, pertama dia mempelajari dulu perusahaan
>> yang akan dibeli kepemiilkannya. Setelah lolos seleksi kriteria yg orang
>> tersebut miliki, lalu melihat harga sahamnya apakah sudah masuk
>> hitungannya
>> atau belum. Kemudian kalau sudah masuk dalam perhitungan investasi, maka
>> barulah dia melakukan pembelian saham. Setelah membeli saham, secara
>> periodik dia memantau perkembangan kinerja perusahaan. Bila masih dalam
>> perkembangan yang baik maka dia terus memegang kepemilikan tersebut. Dia
>> tidak peduli bila harga saham turun drastis, selama perusahaan yang dia
>> miliki tersebut tetap masih prospektif dan menunjukkan kinerja yang baik.
>> Karena bagi investor saham, dia membeli perusahaan, dan bukan harga saham
>> (seperti banyak kesalahan pemahaman selama ini). Kira2 seperti itulah
>> investasi di saham.
>>
>> Pak Panda mecoba membedakan dari sisi porsi kepemilkan. Terus terang saya
>> tidak tahu apa yg sedang Pak Panda coba bandingkan, apakah antara membeli
>> saham vs investasi di sektor riil, ataukah maksudnya seperti maksud awal
>> thread yg saya buat yaitu investasi di saham vs investasi di sektor riil?
>> Kalau yang Pak Panda maksudkan dalam perbandingan tersebut adalah
>> investasi
>> di saham vs investasi di sektor riil, maka saya bisa katakan bahwa porsi
>> kepemilikan tidak tepat untuk bisa membedakan sesuatu itu investasi di
>> sektor riil atau bukan.
>>
>> Sebagai contoh yang anda sebutkan dengan usaha roti, modal 100 juta,
>> invest
>> 25 juta. Artinya, kepemilikan anda hanya 25%, bukan mayoritas. Katakan
>> kepemilikan yang 75% lainnya itu dimiliki oleh satu orang, katakan saja
>> namanya Zorro.
>>
>> Berikut beberapa contoh kasus:
>> 1. Katakan anda berdua dengan Zorro sedang menentukan harga jual roti
>> abon.
>> Anda menginginkan harga roti abon dijual dengan harga 6000, tapi Zorro
>> maunya 4000 saja dan dia ngga mau berdiskusi dengan anda pokoknya harga
>> jual
>> harus 4000. Maka, sesuai dengan besarnya kepemilikan anda yang hanya 25%
>> itu
>> sementara Zorro 75%, maka anda harus menerimanya dengan lapang dada bahwa
>> harga jualnya adalah 4000.
>> 2. Suatu saat anda menginginkan agar usaha roti anda juga memproduksi cake
>> karena melihat peluang bisnis tersebut. Zorro tidak sepakat dan mengatakan
>> produksi cake beresiko tinggi dan tidak mau memproduksi cake. Maka, anda
>> tidak bisa apa2, karena kepemilikan anda hanya 25% sementara Zorro 75%,
>> cake
>> tidak akan diproduksi.
>> 3. Di lain waktu Zorro ingin menjual kue2 jajanan pasar karena melihat
>> peluang bisnis bila juga menjual jajanan pasar di toko roti anda berdua.
>> Anda yang melihat hal tersebut aneh, lalu mengatakan tidak setuju. Tapi
>> karena Zorro berkeras dan mau mencobanya, dan memutuskan akan melakukan
>> hal
>> tersebut, maka anda yang hanya memiliki 25%, tidak bisa berbuat apa2
>> selain
>> mengikuti kemauan Zorro sebagai pemilik 75%.
>>
>> Saya bisa tambahkan dengan contoh2 seperti diatas sehingga katakanlah
>> sampai 100 nomor dimana semua usulan dan keinginan anda, saya ekstrimkan
>> saja kasusnya ditolak semuanya oleh Zorro, sementara yang Zorro inginkan
>> harus dilaksanakan tanpa peduli anda keberatan akan hal tersebut.
>>
>> Yang jadi pertanyaan saya sekarang, dimana poin kebenaran perkataan anda
>> bahwa dalam contoh kasus anda tersebut anda memiliki pengaruh besar,
>> karena
>> nyata2 sudah bisa dilihat dalam contoh kasus tersebut suara anda selalu
>> kalah karena hanya memiliki 25%. :)
>>
>> Anda bisa lihat kembali contoh saya di posting terpisah terkait Fifi dan
>> Erni, dimana Erni memiliki 10% kepemilikan, jauh lebih kecil dari contoh
>> anda yang 25%.
>>
>> Oh ya, sekedar meluruskan saja, dalam usaha, bila bentuknya adalah PT
>> (perseroan terbatas), para pemegang sahamnya tidak memiliki kewajiban
>> untuk
>> bertanggung jawab lebih dari modal yang disetor. Alias, kalau contoh kasus
>> anda adalah bentuknya PT, maka tanggung jawab anda hanya sampai sebagai
>> modal 25 juta. Bila perusahaan mengalami kebangkrutan, dan setelah
>> dilikuidasi masih ada hutang yg harus dilunasi, maka anda tidak wajib
>> menanggungnya. Begitulah peraturannya yg berlaku.
>>
>> Lalu terkait contoh anda soal bila membeli saham astra sampai Rp5 triliun,
>> baru anda kategorikan sebagai investasi di saham riil, saya agak bingung
>> dengan istilah di saham riil. Apa maksud tulisan Pak Panda adalah bukan
>> investasi di saham riil tapi di sektor riil?
>>
>> Kalau maksud Pak Panda dalam tulisan itu adalah "bila membeli saham astra
>> sampai Rp5 triliun, baru anda kategorikan sebagai investasi di sektor
>> riil",
>> barulah saya bisa komentari :)
>> Saya asumsikan saja saham astra yang anda maksud adalah ASII (karena ada
>> saham astra lainnya seperti AALI, UNTR, ASGR, AUTO di BEI). Sekedar
>> informasi saja, market cap ASII saat ini hampir 300 triliun. Jadi, anda
>> membeli ASII senilai Rp5 triliun saat ini itu setara dengan kepemilikan
>> hanya 2,17% dari total perusahaan ASII tersebut. Setelah Pak Panda tahu
>> bahwa Rp5 triliun tersebut ternyata hanya 2,17%, masih tetap pada
>> pandangan
>> anda adalah investasi di sektor riil menurut versi anda yang mengaitkan
>> besarnya porsi kepemilikan dengan investasi di sektor riil atau tidaknya
>> :)
>>
>> Jadi, sebenarnya bagi Pak Panda, berapa besar minimal porsi kepemilkan
>> saham baru dianggap investasi di saham sama dengan investasi di sektor
>> riil?
>> Ataukah, berapa besar angka rupiah minimal yang diinvestasikan di saham
>> baru dianggap investasi di saham sama dengan investasi di sektor riil?
>>
>> Sekedar informasi saja, di bursa Amerika, di pasar yang namanya over the
>> counter equity securities, ada satu saham dimana nama perusahaannya adalah
>> NewMarket Technology Inc. (kode sahamnya di otcbb adalah NWMT), market
>> kapitalisasinya per tanggal 8 April 2011 adalah sebesar USD1372 saja alias
>> dengan kurs Rp8800/usd setara dengan Rp.12,1 juta saja. Jadi, kalau
>> dicontoh
>> anda di atas mengatakan perlu punya 25 juta dan memperoleh kepemilikan
>> sebesar 25% maka bisa disebut investasi di sektor riil sementara di saham
>> tidak bisa, maka saya tunjukan di bursa saham Amerika, ternyata untuk
>> mencapai 25% kepemilikan, hanya butuh sekitar Rp3,1 juga saja :)
>>
>> Kalau di astra, anda sudah mengatakan bahwa dengan memiliki 2.17% dianggap
>> sudah investasi di sektor riil, maka di NWMT itu berarti hanya dengan
>> investasi sekitar 2.17% atau setara dengan Rp262 ribu saja :)
>>
>> Untuk saham2 yang diperdagangkan di OTCBB dapat melihat di alamat:
>> http://www.otcbb.com/
>>
>> Saya juga lampirkan data NWMT dalam bentuk file, dimana harga penutupan
>> tanggal 8 April 2011 adalah USD0,0003, sementara jumlah sahamnya ada
>> 4.572.766 lembar sehingga market cap nya hanya USD1372  :)
>>
>>
>> jabat erat,
>> Irwan Ariston Napitupulu
>>
>>
>>  2011/4/11 panda <[email protected]>
>>
>>>  Kalau boleh ikutan sedikit berpendapat, menurut saya tidak sama antara
>>> membeli saham di pasar modal dgn investasi di sektor riil
>>>
>>> Yang membedakan adalah porsi kepemilikan
>>>
>>> Jika kita investasi di sektor riil sudah dipastikan porsinya besar
>>> terhadap kelangsungan usaha tersebut, karena tidak mungkin hanya sedikit
>>> seperti saham dipasar modal, jika bisa punya sedikit saya rasa tidak
>>> mungkin
>>> dan yang punya usaha pun tidak mau
>>> Cth usaha dagang roti modal 100 juta kita invest 25juta
>>> Artinya adalah investasi disektor riil walaupun jumlahnya kecil tapi
>>> porsi
>>> keseluruhan bisa besar, disini lah pengaruh dari peranan si investor
>>> sangat
>>> berpengaruh, ambil case paling ekstrim jika perush sektor riil tersebut
>>> bangkrut maka secara hukum dengan porsi pemilikan yang besar tersebut
>>> tidak
>>> menutup kemungkinan jika ada hutang wajib menanggung hutang tersebut
>>>
>>> Bagaimana dengan saham?? Jelas sekali yang diperdagangkan bukan
>>> investasinya melainkan sahamnya, karna porsi pemilikan bisa sangat kecil
>>> sekali, cth sya beli saham asii 1 lot, taruhlah nilai 25 juta, sangat
>>> kecil
>>> sekali porsi pemilikannya, tidak ada pengarunya sama sekali dengan
>>> perusahaannya, maksud saya jika dikaitkan apakah saya memiliki perush
>>> tsb,
>>> yang diharapkan dari membeli benda (saham tsb) adalah kenaikan sahamnya,
>>> mgkin jika ditanya ke teman2 disini jawabannya akan sama, coba aja,
>>> hehehehehehe
>>> Dan jika perush bangkrut dan saya masih megang 1 lot adakah kemungkinan
>>> jika masih ada hutang sy ikut menanggung?
>>>
>>> Tapi akan berbeda jika saya bisa membeli saham astra hingga 5 trilyun,
>>> ini
>>> bisa dikategorikan sebagai investasi disaham riil
>>>
>>> Bandingkan dengan metode TA yang dipakai, apakah dipedulikan mengenaai
>>> fundamental perush? Bukankah metode ini hanya menganalisa pergerakan
>>> saham
>>> secara statistik?? Tdk peduli dengan performa perush nya?? Jelas sekali
>>> yang
>>> di invest adalah saham dan berharap akan kenaikannya, bukan investasi
>>> seperti disektor riil yang bertujuan mendapatkan profit dari perkembangan
>>> usahanya
>>>
>>> Mudah2 pendapat saya yang culun ini bisa menambah indahnya perbedaan
>>> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
>>> Teruuusss...!
>>>
>>> ------------------------------------
>>>
>>> Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.
>>>
>>> SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN
>>> MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU
>>> MENJUAL
>>> EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK
>>> INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL.
>>>
>>> [email protected] untuk berhenti dari milis saham
>>> [email protected] untuk bergabung ke milis saham
>>> Yahoo! Groups Links
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>>
>


------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke