Apa yg bung Oguds katakan sepertinya betul, jual beli saham sepertinya tidak ada kaitannya dengan sektor riil itu sendiri. Tetapi jual beli saham itu kan merupakan subproses, bagian dara suatu proses yang lebih besar yg bertujuan untuk menghimpun dana dari publik melalui IPO. IPO jalan karena saham bisa dijual belikan dipasar modal. Modal asing masuk karena ingin ikut jual beli dipasar.
Jual beli saham bukan rekayasa permainan yang tidak ada artinya, ia merupakan konsekwensi dari sifat bahwa perusahaan itu bisa untung dengan berjalannya waktu, sehingga saham bisa diperdagangkan, karena yang memiliki saham bisa dapat bagian.Harga saham yang naik menguntungkan perusahaan juga karena ia bisa IPO lagi atau diakuisisi dengan harga yang menguntungkan. Dalam membangun gedung besar, pekerja2 nya juga berpartisipasi sedikit2 saja, pekerja yang cuma nyapu, cuma lap2, ngamplas dsb mungkin tidak begitu terasa ia merupakan bagian dari membangun gedung itu. ________________________________ From: Oguds <[email protected]> To: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> Sent: Mon, April 11, 2011 6:23:51 AM Subject: Re: [saham] Investasi Saham (Capital Inflow) vs Nilai Transaksi Perdagangan Saham Monday, April 11, 2011, 6:05:05 AM, you wrote: IAN> Yang jadi permasalahan selama ini adalah tidak adanya data IAN> berapa capital inflow yang masuk ke bursa. Yang ada adalah data IAN> nilai total transaksi perdagangan setiap harinya. Sayangnya, IAN> sebagian orang yang tidak paham angka nilai total transaksi IAN> perdagangan saham itu suka diartikan sebagai capital inflow. IAN> Mudah2an sekarang menjadi jelas dan paham tentang apa itu nilai IAN> total transaksi perdagangan saham dan apa itu investasi ke saham atau capital inflow ke saham. Benar, transaksi saham memang seimbang antara penjual dan pembeli (lagi2 anda menduga secara naif saya tidak memahami ini). Namun untuk mengerek harga saham, diperlukan pertambahan dana sebanding dengan naiknya harga saham tadi. Misalnya, saya membeli lebih mahal saham TINS dari Rp 2700 menjadi Rp 2800, bursa mendapat capital inflow senilai Rp 100. Sayangnya, saya juga tidak mendapat data berapa total dana domestik dan asing yg masuk ke bursa, sehingga saya hanya memberikan data pembanding total dana asing yg masuk. Menganggap capital inflow adalah NOL namun harga sahamnya tetap naik, ini jauh lebih naif menurut saya. Memangnya dengan tambahan NOL tadi mampu mengerek harga saham? Komentar saya, LUAR BIASA. :-) -- Tertanda, Oguds [960000031]
