kalau cuma resesi kayaknya ngak terlalu berbahaya bang IAN, harus lebih dulu 
dibedakan antara resesi dengan krisis. Mungkin banyak yang menyamakan antara 
krisis dengan resesi. Kalau resesi versi wallstreet kan 2 kuartal 
berturut-turut terjadi penurunan GDP. Saat ini kan baru sampai persepsi dan 
memang data yang dirilis khususnya sejak awal musim panas disana tidak terlalu 
baik spt data pengangguran yang diharapkan terus turun setelah mencapai angka 
10%, akan tetapi belakangan hanya tertahan sampai level 9% apalagi kekawatiran 
QE2 yang berakhir belum ada stimulus baru buat ekonomi AS.

G malah melihat berakhirnya QE2 malah bagus buat emerging market, saat KTT APEC 
November 2010 lalu banyak pemimpin dunia khususnya dari BRIC sangat tidak 
setuju dengan QE2 versi Bernanke, mereka khawatir dengan bubble kenaikan harga 
aset. Dengan berakhirnya QE 2 seharusnya kekawatiran BRIC dan Emerging Market 
lainnya akan bubble ekonomi mereka berkurang. Mungkin dalam 1-2 minggu ini 
malahan pemerintah RRC akan melonggarkan ekonomi mereka apalagi ancaman inflasi 
disana bisa dikendalikan ataupun bahayanya sudah berkurang. Kan selama QE2 
mereka terus menahan diri menghindari bubble yang dikawatirkan.

Selama musim panas ini juga, harga komoditas bergerak relatif tidak jauh 
artinya spekulasi yang dikawatirkan terjadi pada komoditas akibat QE2 kan tidak 
terjadi kecuali hanya pada komoditas emas yang terus new high.

Dengan kurangnya spekulasi di komoditas dapat juga diartikan kurangnya spekulan 
yang bermain di sektor ini, sehingga bahaya efek domino dari bubble ataupun 
krisis ataupun dampak resesi mungkin menjadi tidak ada.

Sedang di Indonesia, kalau g membacanya hanya karena pemerintah yang setiap 
minggu rajin menerbitkan surat utang, suka ataupun tidak akan menggerus dana 
institusi yang biasa menjaga pasar. Jika penerbitan 2-3 kali dalam beberapa 
bulan mungkin mereka masih aman, masalahnya kan alokasi dana terus digerus 
setiap minggu. Apa perbankan berani setiap penerbitan SUN dan sebagainya terus 
dibeli mereka, kan tidak mungkin. Makanya likuiditas disektor unggulan 
belakangan ini cendrung tertahan dan yang bermain kelompok relatif murah 
apalagi potensi dividen mereka relatif besar terutama sejak kebijakan 
pemotongan pph final 10% sejak tahun lalu mendorong emiten kelas 2 yang umumnya 
dikendalikan keluarga untuk berani membayar lebih besar dari biasanya.



--- In [email protected], Irwan Ariston Napitupulu <irwanariston@...> wrote:
>
> Ini hanya untuk nambah pengetahuan saja ya.
> 
> Bila terjadi krisis seperti tahun 2008 lalu, dan polanya mirip, maka
> dibutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan harga saham bergerak turun dari puncaknya
> dengan besaran sekitar 50-75% (kecuali defensive stock yg biasanya turunnya
> bisa lebih kecil). Jadi bukan dalam 3-4 hari seperti perkiraan orang
> belakangan ini.
> 
> Bila ekonomi AS mengalami double dips yaitu kondisi dimana masuk resesi
> (2008-2009) lalu recover sesaat (2009-2011) kemudian masuk lagi resesi, maka
> saya perkirakan indeks DOW bisa masuk ke level 8500-9000 kembali.
> 
> Saat ini tidak ada yang tahu apakah AS akan masuk resesi lagi atau tidak,
> karenanya pintar2 sajalah mengatur porto dan aset yang ada.
> 
> Berhatilah2 dengan rekomendasi2 buy yg menganggap ekonomi aman2 saja karena
> ketika anda terbuai dan terlena, lalu ekonomi benar2 mengarah ke negatif,
> aset anda akan tergerus cukup hebat.
> 
> Juga berhati2lah dengan rekomendasi2 sell yg mengatakan ekonomi mau
> crash/resesi, karena ketika ternyata ekonomi tidak jadi masuk resesi, maka
> bisa jadi anda kehilangan peluang untung dari kenaikan harga saham.
> 
> Semua pilihan ada ditangan anda masing2, sesuaikan dengan batasan resiko
> masing2.
> Punya poisisi atau tidak posisi, keduanya sama2 memiliki resikonya masing2
> dengan sifat resiko yg tentunya berbeda. Yang satu kemungkinan
> kehilangan/tergerusnya aset tapi punya peluang naik asetnya, yang satunya
> lagi resiko asetnya tidak bertambah tapi juga tidak berkurang karena pegang
> cash. Yang mana lebih cocok toleransi resikonya, silakan anda pilih dengan
> bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
> 
> Abaikan saja para cheerleader yg teriak2 buy or sell di milis atau pun
> lainnya, fokus dengan kemampuan sendiri dalam menganalisa situasi dan grafik
> yang ada.
> Tips untuk melihat grafik, lihatlah grafik seolah2 anda tidak punya posisi
> apapun, biasanya lihat grafiknya jadi lebih jernih. Bila masih belum bisa
> jernih karena ada posisi, print saja grafik tersebut, tanyakan ke tukang
> parkir atau pembantu anda di rumah, menurut matanya dia, grafiknya cenderung
> mau turun atau naik dalam 1-2 bulan ke depan. Agar mantap, tanyakan saja ke
> 5 orang yg awam bursa dan grafik. Biasanya, orang awam cenderung masih polos
> dan jernih lihat grafik  ketimbang yg sudah tiap hari lihat grafik  Kalau ke
> pembantu, coba saja nanyanya dengan bilang, kalau sendainya grafik ini
> adalah grafik harga cabe, kira2 harga cabenya mau naik atau turun :)
> 
> 
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>




------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke