Busway punya kacang garuda :)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "T Jayamudita" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 2 Jul 2011 10:56:45 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Re: Chatib Basri: Naikkan harga BBM bersubsidi

Orang beli mobil bukan karena BBM murah, kalau dibandingkan dengan harga BBM 
5-10 tahun yang lalu, harga BBM yang masih disubsidi saat ini sudah naik berapa 
%, tapi tetap saja penjualan mobil meningkat terus dari waktu ke waktu.

Kemacetan disebabkan tidak ada pertambahan sarana transportasi seiring 
perkembangan pembangunan kota, sudah berapa meter jalan raya baru yang 
ditambah, dan wajarkah Jakarta yang digembar-gemborkan sebagai kota megapolitan 
diserobot sebagian jalannya (yang sudah tidak memadai) untuk bus way?

Adakah yang tahu perusahaan pengelola bus way itu milik siapa?


  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, July 02, 2011 10:22 AM
  Subject: Re: [saham] Re: Chatib Basri: Naikkan harga BBM bersubsidi


    
  6 argumen anda cukup dilawan oleh 1 argumen remeh saja tanpa analisa panjang.
  Yaitu :
  Pemimpin kita amat concern akan pencitraan, apalagi disurvei dia turun 
popularitasnya, apalagi klo naikin premium???

  Analisis, hitungan2an, logika, rasionalitas dsb2, kalah oleh pencitraan, 
hahaha... Gemblung...

  Powered by Telkomsel BlackBerry®


------------------------------------------------------------------------------

  From: "ladyfabia" <[email protected]> 
  Sender: [email protected] 
  Date: Fri, 01 Jul 2011 16:26:22 -0000
  To: <[email protected]>
  ReplyTo: [email protected] 
  Subject: [saham] Re: Chatib Basri: Naikkan harga BBM bersubsidi


    
  1. BBM murah memicu orang untuk membeli kendaraan semakin banyak. Efeknya 
jalan semakin macet, udara semakin terpolusi. Jalan yang semakin macet malah 
membuat ekonomi melambat karena biaya transportasi menjadi tinggi ditambah 
biaya waktu.

  2. Saat ini APBN sudah defisit sehingga pemerintah rajin bikin lelang SUN. 
Jika subsidi dicabut maka bisa mengurangi beban APBN.

  3. Sudah beberapa tahun harga premium tidak naik-naik, sedangkan harga minyak 
dunia saat ini sudah hampir 100 USD. Saat ini Indonesia bukanlah negara 
eksportir minyak tetapi importir minyak. Posisi seperti inilah yang membuat 
Indonesia keluar dari OPEC (kalau tidak salah tahun lalu atau 2 tahun lalu).

  4. Menurut hitung-hitungan para ahli, subsidi BBM sebagian besar dinikmati 
oleh golongan ekonomi menengah ke atas yang mampu memiliki kendaraan pribadi. 
Golongan ekonomi ini jumlahnya jauh lebih kecil dibanding golongan ekonomi 
menengah ke bawah. Jika subsidi BBM digantikan dengan subsidi lain yang lebih 
berpihak kepada golongan ekonomi menengah ke bawah maka akan lebih baik untuk 
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan juga pemerataan ekonomi. Saya 
terpikirnya jenis subsidi seperti subsidi pertanian, subsidi transportasi, 
subsidi peternakan, asuransi kesehatan.

  5. Korupsi sedang diusahakan untuk dikurangi, paling tidak yang saya lihat 
sedang dikerjakan oleh Kementrian Keuangan dan KPK. Kementrian Keuangan ini 
juga yang mengusahakan supaya belanja pemerintah menjadi efektif. Saat ini yang 
terjadi adalah belanja pemerintah yang terlalu kecil sehingga anggarannya 
menjadi mubazir alias tidak terpakai dan muncul fenomena lucu yaitu pemerintah 
daerah membungakan uang anggaran di SBI yang hampir sama artinya dengan 
pemerintah membungakan uangnya sendiri di bank miliknya sendiri dengan beban 
bunga yang ditanggung sendiri. Uang anggaran tidak akan berguna jika tidak 
terpakai. Untuk negara berkembang seperti Indonesia justru belanja pemerintah 
harus ditingkatkan terutama untuk membangun infrastruktur seperti jalan, 
pembangkit listrik, jembatan, dan sarana transportasi.

  6. Cetak uang akan mengakibatkan banyak masalah yaitu inflasi dan pelemahan 
nilai tukar. Bagi beberapa ekonom, kebijakan QE1 dan QE2 yang dilakukan di USA 
tidak memecahkan masalah ekonomi di sana karena pertumbuhan ekonomi masih 
rendah dengan tingkat pengangguran yang tinggi. Efeknya malah menimbulkan 
masalah baru yaitu inflasi karena harga pangan dan komoditas (termasuk minyak) 
yang naik karena menyesuaikan dengan nilai tukar USD yang melemah.

  --- In [email protected], Susanto Salim <susanto.salim@...> wrote:
  >
  > Pak, bisa diberi gambaran gak buat newbie seperti ane, tentang mengapa
  > mencabut subsidi itu baik?
  > 
  > Kalo menurut saya cabut subsidi kan artinya pemerintah punya duit lebih
  > untuk dibelanjakan, bisa bangun macem2 yang diharapkan bermanfaat buat
  > rakyat. Kalau subsidi tidak dicabut, bukankah si duit itu sudah dirasakan
  > langsung manfaatnya buat rakyat. Rakyat yang menerima subsidi bisa
  > memutuskan sendiri duit lebih (Akibat hemat beli bensin) itu mau
  > dimanfaatkan untuk apa, bisa buat belanja,yang akhirnya meningkatkan ekonomi
  > dan membuka lapangan kerja karena si pabrik cuan jadi bisa ekspansi, atau
  > ditabung yang pada akhirnya bisa juga disalurkan oleh bank ke yang
  > membutuhkan. Dalam hal subsidi dicabut kita menyerahkan kepada pemerintah
  > bagaimana sebaiknya uang ini dibelanjakan, nah apakah pemerintah tau mana
  > yang lebih baik buat rakyatnya dibanding rakyat sendiri?
  > 
  > Kalau dianggap tidak tepat sasaran karena hanya dinikmati orang kaya, apakah
  > ada hitung2an nya? Dengan logika yang sama dengan di atas bukankah subsidi
  > terhadap wong sugih pun akhirnya akan membuat doi belanja lebih banyak
  > (karena punya duit lebih) dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
  > juga.
  > 
  > kalo alasannya sekedar biar apbn sehat mah mengapa gak belanjanya pemerintah
  > atau korupsi nya aja yang dikurangin. Kalo cetak duit terus kayak america
  > termasuk subsidi juga kali ya...minimal subsidi bunga, biar bunga rendah.




  

Kirim email ke