*Hapus Subsidi, Berikan BLT*
Saran Bank Dunia soal Subsidi BBM

'+'

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=7290


*Jakarta, Padek*—Bank Dunia menilai besarnya subsidi bahan bakar minyak
(BBM) yang dikeluarkan pemerintah sampai saat ini tidak rasional. Selain
salah sasaran, dana subsidi dianggap mubazir karena seharusnya bisa
diarahkan untuk membantu program perbaikan infrastruktur.


Ekonom senior Bank Dunia untuk Indonesia Shubham Chaudhuri mengatakan,
pemerintah sebaiknya segera mengembalikan harga BBM di dalam negeri ke harga
pasar. Sebagai solusi bagi rakyat kurang mampu yang terkena imbasnya,
bantuan langsung tunai (BLT) adalah solusi. Ini karena potensi salah sasaran
tidak sebesar jika dibandingkan dengan subsidi BBM.


”Secara konkret langkah yang harus diambil adalah menaikkan harga BBM sesuai
dengan harga pasar,” ujarnya dalam diskusi perkembangan triwulan I
perekonomian Indonesia, di Kantor Badan Koordinasi Penana man Modal (BKPM),
Jakarta, kemarin.


Saat ini, kata Shubham, di tengah harga minyak dunia yang tinggi di kisaran
USD113 per barel dalam lima bulan pertama 2011, subsidi untuk BBM sangat
tidak tepat.

”Tingginya harga minyak pada 2011 telah meningkatkan belanja modal
pemerintah pada subsidi energi yang memiliki sasaran yang buruk,” tambah
nya. Padahal, masih banyak kebutuhan yang dapat diprioritaskan pemerintah,
seperti pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dan jaminan sosial. ”Anggaran
subsidi akan lebih efektif jika digunakan untuk membangun infrastruktur,”
ucapnya.


Dalam pengamatan Bank Dunia, biaya subsidi energi di Indonesia sudah setara
dengan seperempat dari total belanja pemerintah. Shubham mengatakan, belanja
publik yang meningkat, khususnya subsidi, mengindikasikan opportunity cost
yang lebih tinggi. ”Hasil penghematan dari reformasi juga bisa digunakan
untuk program bantuan langsung tunai untuk membatasi dampak pada masyarakat
miskin,” jelasnya.


Sebaliknya, dari tingginya harga minyak, dengan strategi yang akurat
pemerintah sebenarnya bisa meningkatkan pendapatan. Tetapi, dalam kondisi
sekarang hal itu sulit dicapai. Yang terjadi justru produksi minyak di dalam
negeri menurun sehingga dampak keseluruhan dari tingginya harga minyak saat
ini adalah peningkatan defisit.


Meski begitu, Shubham mengatakan, jika pemerintah masih menetapkan strategi
subsidi BBM, bisa dilakukan reformasi terhadap kebijakan tersebut. Dengan
demikian, di lapangan tidak terjadi lagi salah sasaran seperti sekarang.
”Tapi, sampai saat ini belum ada langkah konkret dari pemerintah soal
subsidi. Ini karena subsidi BBM tidak menjamin pengendara mobil tidak
menggunakan BBM subsidi. Tidak ada kepastian,” tegasnya.


Dalam APBN 2011, jumlah subsidi BBM mencapai Rp95,9 triliun. Subsidi itu
merupakan bagian dari subsidi energi yang jumlahnya mencapai Rp136,6triliun.
Jika tidak ada kebijakan apa pun soal subsidi dari pemerintah, subsidi BBM
bisa melonjak menjadi Rp125,5 triliun pada 2011.

*Pembatasan Konsumsi BBM*
Sementara itu, pemerintah terus melakukan pembatasan subsidi, menggunakan
harga minyak mentah Indonesia (ICP) di kisaran USD95 per barel sebagai dasar
penghitungan postur APBN Perubahan 2011. Dengan demikian, pembatasan BBM
bersubsidi harus diberlakukan tahun ini.


Wakil Menkeu Anny Ratnawati mengatakan, postur APBNP 2011 yang akan diajukan
ke DPR juga telah memperhitungkan program pembatasan konsumsi BBM
bersubsidi. ”Kita minta langkah-langkah pembatasan tetap dilaksanakan un tuk
menjaga agar tidak terjadi kenaikan subsidi BBM,” kata Anny, kemarin.


Kemenkeu meminta Kementerian ESDM untuk segera merealisasikan program
pembatasan konsumsi. ”Kami minta kepada ESDM, dia yang akan mengkoordinir
untuk dilakukan pembatasan karena tren konsumsi lebih tinggi dari biasanya,”
kata Anny.


Anny menegaskan, pemerintah bakal menjaga defisit APBN di kisaran 2,1 persen
dari produk domestik bruto (PDB). ”Kita hitung pakai ICP yang baru dan kurs
yang menguat. Implikasinya ada kenaikan subsidi listrik dan BBM,” katanya.


Dengan asumsi PDB sebesar Rp7.250,832 triliun, defisit 2,1 persen yang ingin
dijaga pemerintah berada di kisaran Rp152,26 triliun. Menurut dia,
pemerintah tidak akan menambah utang untuk pembiayaan defisit. ”Sudah
di-review dari penerimaan dan penghematan. Insya Allah, tidak ada penambahan
pembiayaan. Kita berharap ada beberapa potensi,” kata Anny.

Kirim email ke