Jelang tanggal 2 Agustus, awal minggu depan, yang merupakan 'deadline'
kenaikan US debt ceiling, bursa regional khususnya Amerika Utara dan Eropa
mulai menghadapi air pasang. Kebuntuan/stalemate penuntasan kesepakatan US
debt ceiling menjadi sumber 'risk on, risk off' dari hari ke hari. Kondisi
yang tidak menentu ini di kutub yang lain merupakan faktor penopang daya
tarik bursa regional pada emerging market, dan Indonesia di antaranya.

Namun demikian, di tengah naik-turunnya mood pasar atas 'deadlock' atas US
debt ceiling, mayoritas pelaku pasar meyakini 'last minute' deal akan
terjadi. Pertanyaan besar bagi bursa belahan dunia yang lain (emerging
market), "what will you be prepared for?". Dalam konteks Indonesia, dengan
valuasi sektoral kunci yang telah mencapai batas atasnya, khususnya top
banks yang praktis hanya menyisakan BBRI, dan konsumer sudah mentok pada
ceiling kuartal 2-nya, maka pressure 2-4 minggu ke depan adalah hal yang
patut diantisipasi.

Saran kami adalah untuk memperhatikan perubahan bandul yang akan terjadi
jelang kompromi US debt deal. Ketika developed market akan menyesuaikan
dengan sentimen positif yang mengembalikan minat pada riskier assets maka
mutual effect yang akan dialami baik 'developed' maupun 'emerging market'
terletak pada komoditas. Sementara, pada sektor lain di luar komoditas di
emerging market (kecuali selective growth pada undervalued micro stock
play), competitiveness valuasi akan terasa berat dihadapkan kepada opsi
potensi valuasi dan upside saham serupa di developed market.

This way, all equity emerging market players need soon to hedge your equity
portfolio before August 2. This does not mean the strong foundation of
emerging market equity is weakening, but at the same time you can not just
lean on your gut to assume all will just go straight up to the limitless
sky.

 We are talking in terms of equity universe, and leave alone other asset
classes.

'+'

Kirim email ke