Saya lihat sebagian besar tanggapan atas subject ini "setuju".  Saya punya cara 
berbeda.

Cara yang disampaikan Bang IAN adalah cara yang lazim dan lebih aman.  Hanya 
saja siapa yang tahu investor masuk dengan kekuatan massive.  Pada saat kondisi 
ini terdeteksi harga sudah mulai naik.  Jadi cara ini di samping aman tapi 
lagging alias telat.  Mungkin inilah yang membuat sebagian orang menyesal saat 
crash 2008 "duh kenapa dulu ga ikut beli saat harga di bawah?"

INGAT PENGALAMAN ADALAH GURU TERBAIK.  PENGALAMAN ORANG JAUH LEBIH BAIK.

Cara yang relatif mudah adalah masuk saat harga sudah turun cukup dalam let say 
> 8% terhadap saham terpilih, apalagi harga sudah berada di bawah harga dua 
bulan yang lalu, kenapa harus TAKUT.  Untuk mengurangi ketakutan, kita boleh 
mulai masuk dengan sistem multiple the lots sbb:

Contoh BISI:

1200 BUY x lots
1180 BUY 2x
1160 BUY 4x
1140 BUY 8x
1120 BUY 16x

Berapa jumlah dana yang Anda sediakan?
Tinggal dihitung balik.

Pada saat kekuatan massive masuk, dimana retailer mulai ikut-ikutan masuk, cara 
ini sudah pada posisi untung.

Happy Red!  How Low Can You Go. 


"To achieve superior performance, you have to be different from the majority."

-----Original Message-----
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 8 Aug 2011 08:37:06 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Bursa Regional Masih Tertekan Pagi Ini

Pagi ini saya pantau, bursa regional masih tertekan. Jadi, logika
sederhananya, situasi negatif ini juga tampaknya masih akan menghantui
bursa saham kita alias IHSG tampaknya berpeluang untuk turun kembali
di pembukaan nanti.

Trader biasanya akan mengikuti trend, karena umumnya trend follower.
Investor yang biasanya akan melawan trend karena investor
akan masuk pada saat harga dirasa sudah jauh dari valuasi wajarnya.

Tinggal kita perhatikan saja, di level berapa nanti investor akan mulai
masuk dengan kekuatan massive, di level mana nanti trader mulai berkurang
serbuan jualannya :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke