Pas lagi bersih2 email lama saya ketemu postingan 20 Des 2010. Saya kirim
ulang sebagai selingan sambil nunggu sesi 2,  Pada saat itu mr postman
berusaha meyakinkan index akan >4000 awal tahun 2011.   Kelihatan sekali
betapa lihainya dia  riset data untuk menopang  ramalan dia, sangat
resourceful!
Terus terang salut juga, meskipun ramalan dia meleset karena 4000 baru
tercapai bulan July 2011.


Salam,
RS


----- Forwarded Message -----
*From:* positif01 <[email protected]>
*To:*
*Sent:* Monday, December 20, 2010 3:30 PM
*Subject:* [saham] Re: Mengapa IHSG menuju >4000 awal Tahun 2011



Mengapa?

Pasar ekuitas Indonesia yang direpresentasikan oleh indikator 'market
average' utama-nya IHSG dalam siklus 10-20-tahunan masih berada dalam
'bullish secular long term cycle' yang dimulai tahun 2000 dan akan bertahan
hingga 2020. Dalam 'breakdown' cycle yang lebih kecil, 'primary trend', saat
ini sudah bertahan dalam status 'bullish' sejak 30 Juli 2009 setelah keluar
dari 'bearish primary trend'-nya yang dimulai sejak 11 April 2008. Dalam
catatan grafik long term, 'bullish primary trend' saat ini belum memunculkan
sinyal exit, meskipun periode 'bullish' mid-term ini sudah berlangsung
hampir 2 tahun. Statistik pergerakan 'primary cycle', khususnya dalam
konteks 'bullish' umum terjadi dalam rentang waktu 1-3 tahun dengan potensi
sampai 4 tahun meskipun jarang.terjadi.

Oleh karena itu, optimisme menyambut IHSG tahun 2011 masih beralasan,
meskipun potensi awal 'bearish primary cycle' bisa muncul pada kuartal 3
atau 4. Jika trend akan berubah menjadi 'bearish primary cycle' jangan
bayangkan kondisi 'cycle' di 2008. Keseluruhan aspek makro dan mikro ekonomi
global, regional dan lokal harus diperhitungkan. Dan, meski menyandang
'bearish cycle' jangan juga membayangkan bahwa 'cycle' itu akan berakhir
dengan turun. Dalam beberapa 'bearish primary cycle' misalnya IHSG, 'bearish
cylce' masih bisa ditutup lebih tinggi dengan persentase yang tentu lebih
terbatas. Dan terlepas dari kondisi 'market average' sejumlah saham dari
sub-sub-sektor tertentu masih berpotensi 'outperform' indeks dengan
meyakinkan.

Untuk case IHSG di 2011, mengapa masih memiliki deru mesin untuk melampaui
4000, penjelasannya:

1. Ekonomi Indonesia sudah menunjukkan daya tahannya ('resilience')
sepanjang krisis keuangan global 2008. Sejumlah analis masih memprediksi
pertumbuhan ekonomi akan tetap ekspansi sekitar 6% tahun 2011. Meski di
bawah Cina atau India, tetapi kisaran 6% berarti pertumbuhan di 2010 masih
dapat dipertahankan;

2. Peningkatan foreign direct investment (FDI) sebagaimana dilansir oleh
Bank Indonesia sebesar US$14,4 miliar di 2011 dari US$12,5 miliar di 2010
sejalan dengan peningkatan kinerja BKPM selaku fasilitator investasi asing
menyulut sentimen positif di kalangan investor asing porfolio. Hal ini
mendukung hasil survei investor institusi yang belum lama ini dilakukan oleh
Deutsche Bank yang mendapati bahwa 46% dari investor institusi berencana
untuk meningkatkan eksposur mereka di pasar ekuitas 'emerging market'
sepanjang 2011, sementara untuk kelas aset obligasi hanya sebesar 26%, dan
hanya segelintir yang berencana untuk mengurangi eksposur;

3. Peningkatan tajam lapisan konsumer generasi muda seiring dengan
peningkatan pendapatan per kapita menjadi stimulus prospek peningkatan
belanja kendaraan dan sarana telekomunikasi;

4. Kondisi utang yang hanya 27% dari GDP pada tahun 2010 dibandingkan dengan
80% ketika 2001 menjustifikasi layaknya peringkat utang Indonesia dinaikkan.
Sebagaimana diketahui salah satu lembaga pemeringkat, Fitch, telah menaikkan
peringkat Indonesia satu tingkat di bawah 'investment grade' dan menempatkan
Indonesia dalam posisi sejajar dengan negara-negara BRIC. Kondisi
peningkatan peringkat ini juga akan mendorong investor institusi ('big
money') yang biasanya menghindari 'junk bonds' untuk berinvestasi. Kabar
terakhir peningkatan peringkat menjadi 'investment grade' akan segera
dilakukan pada minggu kedua Januari 2011;

5. Sementara kekhawatiran mengenai overvaluasi, dapat direduksi dengan
didorongnya tingkat penjualan/pendapatan emiten. Deutsche Bank menyebutkan
bahwa ekuitas 'emerging markets' diperdagangkan dengan rasio 16,5 versus
17,3 terhadap 'developed markets'. Sementara forward p/e 'emerging markets'
hanya sedikit di atas 'long-term average, jadi belum 'over-extended'.
Koreksi IHSG selama 3 minggu terakhir juga mengembalikan daya tarik valuasi
saham yang berdasarkan data Reuters dari menurun dari p/e di atas 21 menjadi
kisaran 19, selain itu koreksi meningkatkan 'leverage' dividend yield
saham-saham Indonesia dari sebelumnya hanya di bawah 1,7 sekarang naik
menjadi di atas 2. Bandingkan dengan rasio di AS dengan 'dividend yield'
yang hanya 1,8.

Namun demikian, perlu diingat arah dan kecenderungan pasar, khususnya sector
switching dan sektor/subsektor yang memiliki prospek cemerlang di 2011, dan
pola dalam pergerakan 'primary cycle' yang disertai dengan 2-3
short-term/intermediary correction di 2011. Sejauh mata memandang,
kewaspadaan perlu ditingkatkan atas sektor komoditas dan perbankan,
konsisten dengan posting-posting terdahulu, dan faktor-faktor global terkait
komoditas yang sudah dikalkulasi oleh beberapa 'broker' global tetapi masih
belum banyak diketahui oleh pelaku pasar lokal. Selebihnya, pilihan
prioritas pada 'cyclical industries' sebagaimana diyakini Deutsche Bank dan
JP Morgan untuk pasar Indonesia, menjadi catatan tersendiri. Plus prioritas
kepada emiten kapitalisasi menengah yang masih memiliki prospek
overperforming indeks di 2011.

http://www.bloomberg.com/news/2010-12-14/asia-stocks-to-gain-as-much-as-30-in-2011-on-stimulus-deutsche-bank-says.html

http://www.bloomberg.com/news/2010-11-19/indonesia-stocks-may-rise-20-by-end-2011-on-earnings-credit-suisse-says.html

http://www.bloomberg.com/news/2010-12-08/indonesian-stock-index-may-rise-20-on-sovereign-rating-upgrade-bnp-says.html

http://www.reuters.com/article/idUSTRE6BG02Z20101217

'+'

2010/12/20 positif01 <[email protected]>

Nanti jawabnya 1:23 PM. Press con.

;)

'+'





Kirim email ke