Mantap artikelnya
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "caknoval" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 26 Aug 2011 04:05:12 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] HS Dillon: Jangan Percaya Bank Dunia dan IMF Lagi

Atasi Kemiskinan
Jangan Percaya Bank Dunia dan IMF Lagi
Khaerudin | Agus Mulyadi | Rabu, 24 Agustus 2011 | 02:11 WIB
Dibaca: 14024Komentar: 53

JAKARTA, KOMPAS.com — Jika Indonesia ingin mengatasi secara drastis angka 
kemiskinan, maka jangan lagi percaya pendekatan yang ditawarkan Bank Dunia atau 
Word Bank dan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).

Pendekatan kedua badan dunia tersebut tak efektif dan tetap membuat orang 
miskin berada pada kasta terbawah, sementara mereka yang berkuasa, meskipun 
dengan cara mencuri dari orang miskin, akan tetap berada di atas.

Kritik keras tersebut disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden Republik 
Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan, HS Dillon, dalam kampanye gerakan 
"Cukup Sudah Pembiaran Kemiskinan" yang dimulai di Jakarta, Selasa (23/8/2011).

Dillon mengatakan, efektivitas dari pendekatan yang selama ini dipakai sudah 
berkurang. "Jadi, yang jelas, cara yang lama tidak bisa terus dipakai," katanya.

Menurut Dillon, yang saat ini dihadapi adalah kondisi kemiskinan ekstrem 
sehingga pendekatannya harus berbeda. Kemiskinan menurut dia adalah masalah 
struktural sehingga pendekatannya pun harus struktural juga.

"Kemiskinannya struktural, tetapi dipakai penghamparan orang-orang yang sudah 
mapan di Bank Dunia dan IMF. Mereka mau orang miskin boleh naik, tetapi mereka 
yang sudah berkuasa jangan terganggu. Harus dilakukan paradigma people driven 
development, artinya pembangunan itu harus mulai dari mereka yang paling lemah, 
bukan mereka yang sudah kuat," kata Dillon.

Kondisi kemiskinan ekstrem ini bisa terlihat antara lain dari ketimpangan 
antara mereka yang kaya dan yang miskin pada hari ini di Indonesia.

"Coba bayangkan ada satu kelompok yang bisa menguasai satu juta hektar lahan, 
sementara petani kita di Jawa ini satu bahu saja enggak punya. Itu masalahnya. 
Kalau selama ini yang dipakai penghamparan IMF terus, yang dikerjakan hanyalah 
mencoba mengangkat yang di bawah tanpa mengubah struktur. Tetap saja dia di 
bawah, tetap jadi babu dia," kata Dillon.



Kirim email ke