Thanks for the nice analysis :-)

--- In [email protected], positif01 <positif01@...> wrote:
>
> Minggu lalu menandai akhir pekan yang berat bagi sejumlah otoritas bank
> sentral Emerging Market, termasuk Bank Indonesia. Mati-matian kuartet
> Brazil, Korea Selatan, Indonesia dan Turki mencoba menghentikan kejatuhan
> lebih dalam dalam waktu yang relatif singkat terhadap mata uang
> masing-masing.
> 
> Menjadi pertanyaan, apakah benar seserius itu intervensi yang dilakukan
> untuk sampai bisa menghentikan laju penurunan dan bahkan membalikkan
> ('reverse') penurunan tersebut. Tampaknya terlalu berlebihan dan ambisius
> jika intervensi sampai ditujukan untuk menghentikan penurunan apalagi
> membalikkan menjadi kenaikan. Keempat otoritas tersebut mungkin lebih
> realistis jika upaya yang dilakukan tidak lebih dari sebatas mengurangi
> tekanan volatilitas di tengah pasar yang relatif tidak menentu ('disorderly
> markets').
> 
> Sepanjang minggu lalu, pada Kamis, Brazil telah menjual $2,75 miliar (Rp24
> triliun) USD di 'currency swaps market'. Indonesia membeli kembali
> ('buyback') sebanyak $196 juta (Rp1,74 triliun) obligasi pemerintah. Peru
> menghabiskan $181 juta (Rp1,61 triliun), sementara Turki menjual $300 juta
> (Rp2,66 triliun), semuanya untuk mempertahankan nilai mata uang
> masing-masing.
> 
> Namun dari semuanya, tidak ada yang lebih dahsyat selain Korea Selatan. Jika
> 'emerging market' di atas ditotal telah mengeluarkan ongkos $7 miliar (Rp62
> triliun) dan hanya mampu untuk sedikit mengurangi laju penurunan, Korea
> Selatan bertindak lebih jauh dengan intervensi sampai Jumat kemarin total $4
> miliar (Rp36 triliun). Luar biasa! Hasilnya?
> 
> Hasilnya, para pelaku pasar dan spekulan bercermin kepada kemenangan Quantum
> hedge fund yang dipimpin oleh George Soros pada 1992 atau 20 tahun lalu.
> Ketika itu, Soros sebagaimana diikuti oleh sejumlah investor/spekulan (some
> member of our networks also did, '+'), mengambil posisi 'short' terhadap UK
> Pound dan 'long' terhadap Deutsce Mark. Keyakinan set-up posisi trading
> tersebut didasari kepada antisipasi bahwa Pemerintah Inggris akan segera
> mendevaluasi Pound atau setidak-tidaknya menyatakan keluar dari ERM
> (Exchange Rate Mechanism), yang menjadi mekanisme pendahuluan sebelum mata
> uang tunggal Euro. Kondisi yang saat itu disebabkan komplikasi pengelolaan
> finansial EMS (European Monetary System).
> 
> Dan ini yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris:
> -pada tanggal 16 September 1992 yang kemudian dikenal sebagai "Black
> Wednesday" di Inggris, hanya dalam satu hari itu, Bank Sentral Inggris
> membelanjakan cadangan devisanya yang cukup besar untuk membeli 15 miliar
> Poundsterling di pasar ($11 miliar dengan kurs saat ini atau Rp98
> triliun). Jumlah intervensi yang bukan tandingan intervensi Korea Selatan
> tersebut di atas, apalagi sekadar bantalan Indonesia
> -pada hari yang sama Bank Sentral Inggris menaikkan suku bunga sebesar 2%
> (dari 10 menjadi 12%).
> 
> Hasilnya:
> -traders/spekulan tidak henti menjual Poundsterling;
> -pada hari yang sama, 16 September 1992, malam harinya pukul 07:00 pm,
> akhirnya Bank Sentral Inggris mengumumkan bahwa Inggris keluar dari ERM dan
> menurunkan kembali suku bunga yang dinaikkan pada pagi harinya menjadi 10%
> atau tingkat sebelumnya.
> -pada hari-hari selanjutnya Poundsterling mengalami depresiasi nilai
> efektifnya, 15% terhadap Deutsche Mark dan 25% terhadap USD selama 5
> minggu.;
> -Quantum Fund-nya Soros membukkan $2 miliar (Rp18 triliun) profit dengan
> 'short cover' Poundsterling dan sell Mark.
> 
> Soros menyatakan hedge fund-nya tidak berspekulasi terhadap Rupiah selama
> Krisis Finansial 1997-98. Namun, peristiwa Black Wednesday di Inggris yang
> kami sebutkan di atas telah menganugerahi Soros gelar "The man who broke the
> Bank of England" sekaligus menunjukkan bagaimana Bank Sentral di belahan
> dunia manapun sangat mungkin menjadi sasaran empuk serangan spekulasi.
> 
> Dengan kondisi saat ini di mana pasar global bergerak volatil di tengah
> kekisruhan pengelolaan finansial regional dan harga-harga komoditas yang
> bergerak liar, 'decoupling' (pertahanan) oleh Emerging Market terhadap
> tekanan di Developed Market, sebagaimana pernyataan Christian Lagarde,
> Managing Director IMF, lebih mungkin sebagai ilusi daripada realisasi.
> 
> Apakah pasar ekonomi tersebut berbasis ekspor atau impor, sepertinya tidak
> akan membebaskan pasar tersebut dari tekanan global. Saat ini, jika Anda
> berpikir laksana spekulan mata uang, mata uang mana yang akan Anda terus
> 'short' di tengah volatilitas bursa saham?
> 
> "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan semua pihak untuk menyiapkan
> diri sebaik-baiknya menghadapi krisis global. Krisis kali ini dinilai bisa
> memberi dampak lebih besar ketimbang krisis keuangan dunia pada 2008." (
> http://cetak.kompas.com/read/2011/09/24/01425178/krisis.kali.ini.bisa.berdampak.besar.
> )
> 
> '+'
>




------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke