Mantap analisanya berbobot n membuka view!!!!

Sent from my iPad

On Sep 26, 2011, at 8:32 AM, positif01 <[email protected]> wrote:

> Minggu lalu menandai akhir pekan yang berat bagi sejumlah otoritas bank 
> sentral Emerging Market, termasuk Bank Indonesia. Mati-matian kuartet Brazil, 
> Korea Selatan, Indonesia dan Turki mencoba menghentikan kejatuhan lebih dalam 
> dalam waktu yang relatif singkat terhadap mata uang masing-masing.
> 
> 
> Menjadi pertanyaan, apakah benar seserius itu intervensi yang dilakukan untuk 
> sampai bisa menghentikan laju penurunan dan bahkan membalikkan ('reverse') 
> penurunan tersebut. Tampaknya terlalu berlebihan dan ambisius jika intervensi 
> sampai ditujukan untuk menghentikan penurunan apalagi membalikkan menjadi 
> kenaikan. Keempat otoritas tersebut mungkin lebih realistis jika upaya yang 
> dilakukan tidak lebih dari sebatas mengurangi tekanan volatilitas di tengah 
> pasar yang relatif tidak menentu ('disorderly markets').
> 
> Sepanjang minggu lalu, pada Kamis, Brazil telah menjual $2,75 miliar (Rp24 
> triliun) USD di 'currency swaps market'. Indonesia membeli kembali 
> ('buyback') sebanyak $196 juta (Rp1,74 triliun) obligasi pemerintah. Peru 
> menghabiskan $181 juta (Rp1,61 triliun), sementara Turki menjual $300 juta 
> (Rp2,66 triliun), semuanya untuk mempertahankan nilai mata uang masing-masing.
> 
> Namun dari semuanya, tidak ada yang lebih dahsyat selain Korea Selatan. Jika 
> 'emerging market' di atas ditotal telah mengeluarkan ongkos $7 miliar (Rp62 
> triliun) dan hanya mampu untuk sedikit mengurangi laju penurunan, Korea 
> Selatan bertindak lebih jauh dengan intervensi sampai Jumat kemarin total $4 
> miliar (Rp36 triliun). Luar biasa! Hasilnya?
> 
> Hasilnya, para pelaku pasar dan spekulan bercermin kepada kemenangan Quantum 
> hedge fund yang dipimpin oleh George Soros pada 1992 atau 20 tahun lalu. 
> Ketika itu, Soros sebagaimana diikuti oleh sejumlah investor/spekulan (some 
> member of our networks also did, '+'), mengambil posisi 'short' terhadap UK 
> Pound dan 'long' terhadap Deutsce Mark. Keyakinan set-up posisi trading 
> tersebut didasari kepada antisipasi bahwa Pemerintah Inggris akan segera 
> mendevaluasi Pound atau setidak-tidaknya menyatakan keluar dari ERM (Exchange 
> Rate Mechanism), yang menjadi mekanisme pendahuluan sebelum mata uang tunggal 
> Euro. Kondisi yang saat itu disebabkan komplikasi pengelolaan finansial EMS 
> (European Monetary System).
> 
> Dan ini yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris:
> -pada tanggal 16 September 1992 yang kemudian dikenal sebagai "Black 
> Wednesday" di Inggris, hanya dalam satu hari itu, Bank Sentral Inggris 
> membelanjakan cadangan devisanya yang cukup besar untuk membeli 15 miliar 
> Poundsterling di pasar ($11 miliar dengan kurs saat ini atau Rp98 triliun). 
> Jumlah intervensi yang bukan tandingan intervensi Korea Selatan tersebut di 
> atas, apalagi sekadar bantalan Indonesia
> -pada hari yang sama Bank Sentral Inggris menaikkan suku bunga sebesar 2% 
> (dari 10 menjadi 12%).
> 
> Hasilnya:
> -traders/spekulan tidak henti menjual Poundsterling;
> -pada hari yang sama, 16 September 1992, malam harinya pukul 07:00 pm, 
> akhirnya Bank Sentral Inggris mengumumkan bahwa Inggris keluar dari ERM dan 
> menurunkan kembali suku bunga yang dinaikkan pada pagi harinya menjadi 10% 
> atau tingkat sebelumnya.
> -pada hari-hari selanjutnya Poundsterling mengalami depresiasi nilai 
> efektifnya, 15% terhadap Deutsche Mark dan 25% terhadap USD selama 5 minggu.;
> -Quantum Fund-nya Soros membukkan $2 miliar (Rp18 triliun) profit dengan 
> 'short cover' Poundsterling dan sell Mark.
> 
> Soros menyatakan hedge fund-nya tidak berspekulasi terhadap Rupiah selama 
> Krisis Finansial 1997-98. Namun, peristiwa Black Wednesday di Inggris yang 
> kami sebutkan di atas telah menganugerahi Soros gelar "The man who broke the 
> Bank of England" sekaligus menunjukkan bagaimana Bank Sentral di belahan 
> dunia manapun sangat mungkin menjadi sasaran empuk serangan spekulasi.
> 
> Dengan kondisi saat ini di mana pasar global bergerak volatil di tengah 
> kekisruhan pengelolaan finansial regional dan harga-harga komoditas yang 
> bergerak liar, 'decoupling' (pertahanan) oleh Emerging Market terhadap 
> tekanan di Developed Market, sebagaimana pernyataan Christian Lagarde, 
> Managing Director IMF, lebih mungkin sebagai ilusi daripada realisasi.
> 
> Apakah pasar ekonomi tersebut berbasis ekspor atau impor, sepertinya tidak 
> akan membebaskan pasar tersebut dari tekanan global. Saat ini, jika Anda 
> berpikir laksana spekulan mata uang, mata uang mana yang akan Anda terus 
> 'short' di tengah volatilitas bursa saham?
> 
> "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan semua pihak untuk menyiapkan 
> diri sebaik-baiknya menghadapi krisis global. Krisis kali ini dinilai bisa 
> memberi dampak lebih besar ketimbang krisis keuangan dunia pada 2008." 
> (http://cetak.kompas.com/read/2011/09/24/01425178/krisis.kali.ini.bisa.berdampak.besar.)
> 
> '+'
> 

Kirim email ke