Sedikit tulisan dari Teguh IDX
Siapa tahu bisa sedikit mencerahkan

Salam,
Dimas

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber :
http://teguhidx.blogspot.com/2011/10/perkembangan-ekonomi-makro-eropa.html

Selasa, 04 Oktober 2011
Perkembangan Ekonomi Makro
Eropa<http://teguhidx.blogspot.com/2011/10/perkembangan-ekonomi-makro-eropa.html>

Senin kemarin, BPS merilis data statistik ekonomi makro Indonesia, dan
sekali lagi, datanya tampak bagus. Hingga September 2011, inflasi semakin
terkontrol di level 4.6%. Sementara neraca ekspor impor pada periode Januari
– Agustus 2011 tercatat surplus US$ 20 milyar, naik 81.9% dibanding periode
yang sama tahun 2010. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2011
tercatat 6.5%, dan tingkat pengangguran pada Februari 2011 tercatat hanya
6.8%, sangat baik. Dengan asumsi data-data tersebut akurat, maka sepertinya
memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari fundamental ekonomi
Indonesia. We’re definitely fine. Tapi bagaimana dengan Yunani dan
kawan-kawan?

Berdasarkan data dari IMF, pada tahun 2010 lalu Yunani mencatat pertumbuhan
ekonomi minus 5.1%, paling rendah diantara 183 negara yang disurvey IMF.
Namun Yunani bukan satu-satunya negara yang mencatat pertumbuhan minus.
Terdapat setidaknya 19 negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi minus pada
2010, termasuk dua negara yang cukup besar secara perekonomian, yaitu
Spanyol dan Irlandia. Sementara dari daftar negara dengan pertumbuhan
ekonomi kurang dari 2%, terdapat nama-nama beken Eropa lainnya, seperti
Belanda, Perancis, Portugal, dan Italia. Itu tahun 2010, lalu bagaimana
dengan data terbaru?

Kita tahu bahwa masalah krisis utang Eropa mulai berkembang sejak tahun
2010, atau bahkan mungkin sejak tahun 2009. Penulis masih ingat ketika event
Piala Dunia pada pertengahan 2010 lalu, pemberitaan tentang krisis utang
Eropa ‘berhasil’ menghantam IHSG hingga terkoreksi sekian persen. Saat ini
sudah lewat setahun lebih, namun sepertinya krisis tersebut bukannya mereda
tetapi malah semakin parah. It means, mungkin ada yang salah dengan
perkembangan ekonomi Yunani sepanjang tahun 2011 ini, dan mungkin juga
negara-negara Eropa lainnya. Okay, mari kita cek.

Berdasarkan data dari Hellenic Statistical Authority (BPS-nya Yunani),
pertumbuhan ekonomi Yunani pada kuartal II 2011 kembali minus, bahkan lebih
dalam, yaitu minus 7.3%. Tingkat pengangguran pada periode yang sama
tercatat 16.3%, jauh lebih buruk dari Indonesia. Yang agak bagus hanyalah
inflasi, yang pada Agustus 2011 tercatat 1.7%. Sepertinya data perekonomian
Yunani yang semakin memburuk tersebut-lah, yang membuat bursa-bursa saham
global kembali dihantui krisis pada saat ini. Pada tahun 2009 lalu, rasio
utang Yunani terhadap GDP-nya tercatat 127%. Angka tersebut diperkirakan
akan membengkak menjadi 173% pada tahun 2012, karena GDP Yunani sendiri
malah terus saja turun. Sejauh ini, IMF sudah menyalurkan €65 milyar ke
Yunani. Namun sepertinya, Yunani memang membutuhkan bailout kedua, cepat
atau lambat.

Dua negara yang belakangan ikut terancam bailout adalah Spanyol dan Italia.
Pada kuartal II 2011, Spanyol dan Italia masing-masing mencatat pertumbuhan
ekonomi 0.7% dan 0.8%. Sementara dua negara yang sudah menerima paket
bailout, Irlandia dan Portugal, mencatat pertumbuhan ekonomi 1.6% dan -0.9%.
Berikut adalah data ekonomi makro terbaru (as of October 4, 2011) dari
negara-negara Eropa yang sudah disebutkan diatas, diurutkan berdasarkan data
pertumbuhan ekonomi (klik gambar untuk memperbesar).

<http://4.bp.blogspot.com/-nUvbaSOqwa4/ToseOaCh95I/AAAAAAAAAEs/0sp2BCMDBag/s1600/eropa.jpg>

Dari data diatas, maka akan kelihatan kenapa dunia kembali diguncang
kekhawatiran akan krisis Eropa. Yunani tidak hanya mencatat pertumbuhan
ekonomi yang sangat minus, namun data penganggurannya juga cukup buruk,
hanya kalah dari Spanyol. Sementara Portugal juga ikut-ikutan mencatat
pertumbuhan ekonomi negatif, padahal tahun 2010 kemarin pertumbuhan ekonomi
Portugal masih positif. Spanyol dan Italia dikhawatikan akan menjadi pasien
IMF berikutnya, mungkin karena pertumbuhan ekonominya yang kurang dari 1%.
Italia sendiri memang punya utang yang gede, yaitu 118.4% dari GDP-nya, pada
akhir tahun 2010 lalu (mungkin sekarang udah naik lagi). Sementara Spanyol,
utangnya memang lebih rendah dari GDP-nya, tapi catatan penganggurannya
kelewat jelek. Perancis mungkin untuk sementara ‘terselamatkan’ oleh catatan
inflasinya yang paling rendah diantara semuanya. Tapi kalau kedepannya dia
turut mencatat pertumbuhan ekonomi negatif, maka bukan tidak mungkin
Perancis akan menjadi sasaran tembak IMF berikutnya.

Secara keseluruhan, perkembangan ekonomi dari negara-negara Eropa yang
disebutkan diatas memang mengalami kemunduran dibanding perkembangan pada
tahun 2010 lalu. Itu belum termasuk beberapa negara kecil yang juga
mengalami masalah serupa. Contohnya Islandia, yang mencatat pertumbuhan
ekonomi minus 4%. Jadi mungkin emang gak salah kalau kemarin IMF merilis
prediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global akan melambat, karena pengaruh
dari Eropa ini. Tapi tidak semua negara besar di Eropa mengalami kemunduran.
Jerman masih mencatat pertumbuhan ekonomi 3.7% pada kuartal II 2011,
sementara tingkat penganggurannya turun dari 2.52% menjadi 2.50%. Tapi
memang kalau dibandingkan dengan negara-negara Asia seperti Cina, atau
bahkan Indonesia, ‘prestasi’ Jerman tersebut masih belum ada apa-apanya.

Terus bagaimana dengan perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS)? Pada
kuartal II 2011, AS mencatat pertumbuhan ekonomi 1.3%, inflasi 3.8%, dan
tingkat pengangguran 9.1%, data yang sama sekali gak bagus-bagus amat
dibanding Eropa. Dan mengingat utang AS juga besar, yaitu 101.1% GDP-nya,
maka mungkin kalau nanti ribut-ribut soal krisis utang Eropa ini mereda,
perhatian dunia akan kembali tertuju kepada AS.

Lalu sebenarnya apa sih, yang menyebabkan krisis Eropa yang terjadi pada
saat ini? Ya karena utang di masa lalu, apa lagi. Tapi kalau menurut
penulis, sepertinya terdapat semacam siklus global, dimana setiap wilayah di
seluruh dunia akan kebagian ‘jatah krisis’ setiap beberapa waktu sekali.
Jadi ketika satu wilayah mengalami kemunduran ekonomi, wilayah lainnya
mengalami kemajuan, dan hal tersebut terjadi secara bergantian dari waktu ke
waktu. Ketika terjadi Great Depression pada tahun 1930-an, perekonomian AS
hancur berkeping-keping sementara industri di Eropa terus berkembang. Pasca
perang dunia kedua pada tahun 1950-an, giliran AS yang mengalami pertumbuhan
ekonomi yang pesat ditengah keterpurukan Asia dan Eropa, terutama Jepang dan
Jerman. Pada akhir dekade 1990-an, hampir seluruh wilayah Asia, termasuk
Indonesia, dilanda krisis, sementara Eropa ketika itu menikmati pertumbuhan
kemakmuran yang signifikan. Sekarang ketika Eropa menerima ‘giliran’ krisis,
dan mungkin juga AS, perekonomian Asia justru meningkat pesat, dipimpin oleh
Cina.

Tapi berkaitan dengan pasar modal, pertumbuhan ekonomi Cina yang mencapai
9.5% pada kuartal II 2011 ternyata tidak berdampak positif pada bursa
sahamnya. Para investor disitu sepertinya tetap mengkhawatirkan perkembangan
ekonomi di Eropa sana, dan alhasil bursa saham di Hongkong, Shanghai, dan
Shenzen, hingga hari ini terus saja turun dibanding posisinya pada akhir
2010 lalu. Ketika artikel ini ditulis, Indeks Hangseng berada di posisi
16,250, turun 29.5% dibanding posisi akhir 2010.

Lalu bagaimana dengan bursa saham di Indonesia? Well, anda bisa melihatnya
sendiri.

NB: Penulis bikin buletin bulanan yang berisi analisis pergerakan IHSG dan
rekomendasi saham. Anda bisa membelinya
disini.<http://teguhidx.blogspot.com/p/monthly-investor-bulletin.html>

Kirim email ke