FYI semoga bermanfaat………

Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi 
teladan bagi bawahan dan demokratis...

 

======================================================

Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah

cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh

karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya, seluruh karyawan

PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan

keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO’s Note terbit, banyak

tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini adalah

CEO’s Note edisi ke-6 bulan Juli 2010.

Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru”

enam bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan. Betapa relatifnya

waktu… Selama

enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya tidak

bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang kerja

Dirut PLN.

Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit

lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai

bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin

saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya

pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.

Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya

memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat

transplan yang masih harus saya minum setiap hari. Tiba-tiba saja, ketika

hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang telanjur dijadwalkan

tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri…

Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang

sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut

PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik

Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa

pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya

bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak

ke mana-mana.

Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus

berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak

bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan

bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi

atau permintaan ceramah. Semua saya hindari. Saya memang masih tercatat

sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar se-Indonesia, ketua umum

persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga bridge Indonesia, dan

banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya

kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke

mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. Dokter yang tiga tahun lalu

mentransplantasi hati saya melarang badan saya terlalu gemuk. Dokter selalu

mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status saya tetap saja sebagai orang

sakit. Di samping harus terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. Karena

itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan

kaki saja.

Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari

rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di

Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya

dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya

berolahraga sambil menghirup CO2. Beruntung, rute menuju kantor tersebut

bisa ditempuh dengan menghantas jalan-jalan kecil yang sepi yang

kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada

satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba di

kantor dengan keringat yang bercucuran. Hasilnya: selama satu bulan itu,

berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang 1 kg lagi. Mula-mula,

berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak rumah-kantor tersebut

juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi kian biasa. Bahkan,

belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.

Betapa relatifnya jarak…

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada

pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian

juga beberapa relasi PLN lainnya. Bahkan, seorang perempuan yang merasa

diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul

07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi untuk mengadukan kelakuan

suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang karena uangnya tinggal pas-pasan

untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus bagaimana pulangnya. Suaminya,

katanya, sangat-amat pelitnya. Betapa relatifnya uang…

Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan

sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat

untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk

dipecahkan. Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang

sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi

tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang

dari para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan

dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal

PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang

dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya.

Yang tidak ada pada mereka adalah muara. Begitu banyak Ide yang mengalir,

tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan

sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat tersebut,

semua ide bisa mulai bermuara. Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang,

bisa mengalir sampai jauh…

Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu

siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di

ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide,

berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN

bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang

menyenangkan. Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang

mengisinya. Betapa relatifnya tempat…

Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik

jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau

dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua

bisa. Betapa relatifnya jiwa…

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi"

direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak

sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak

pernah membaca surat masuk. Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja.

Semua surat masuk langsung didistribusikan ke staf yang bertugas di

bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya

bisa menyelesaikannya. Maka, untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa

langsung tertuju kepada yang lebih pas menjawabnya?

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima

surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk

kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi.

Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan?

Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi -sekadar untuk

menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang

sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya

saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi

seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?

Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik

petunjuk"?

Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada

tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca

surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa

yang terbaik yang harus dilakukan. Bukankah karyawan PLN itu umumnya

lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari universitas- universitas terbaik

negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu, doktornya saja sudah 20 orang dan

masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman

-melebihi saya? Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada

mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering

diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi

akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi

ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta

petunjuk".

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari

universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali

kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan

kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan,

rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu,

hanyalah pengecualian. Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja

kerja direktur utama. Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf,

misalnya, untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya

lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja

sebenarnya. Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak

tersebut. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi

dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di

kantor ini. Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa

berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu

bisa duduk semestinya. Betapa relatifnya sebuah kekuasaan…

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini? Ada yang bilang

sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di seluruh Indonesia,

menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, mengatasi kacaunya

tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur Selatan,

Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal

tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14,

sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh

dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa

20). Tapi,

banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, ada

yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN

yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu lucu

karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama DPR?

Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang

menaikkan atau menurunkan TDL? Betapa relatifnya kepuasan…


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke