masalahnya politik itu kotor dan harus punya partai kuat .. bagaimana?
Pada tanggal 25/10/11, Kelvin Panduartha <[email protected]> menulis: > Kenapa tidak kita dukung Beliau jadi RI 1 > > > > ________________________________ > Dari: acuan saham <[email protected]> > Kepada: [email protected] > Dikirim: Selasa, 25 Oktober 2011 21:53 > Judul: Re: [saham] (OOT)Quote from PLN's CEO > > Saya kagum pd beliau satu ini dan pernah bertemu beliau di mall > walaupun beliau tidak kenal saya. Sangat sederhana simple dan apa > adanya. Seandainya RI punya 30 org seperti beliau mungkin RI bisa > lebih maju lagi....Tetap apa adanya pak Dahlan saya bangga padamu. > > Acuan > > > Pada tanggal 25/10/11, panda <[email protected]> menulis: >> FYI semoga bermanfaat……… >> >> Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi >> teladan bagi bawahan dan demokratis... >> >> >> >> ====================================================== >> >> Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah >> >> cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan >> seluruh >> >> karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya, seluruh karyawan >> >> PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran >> dan >> >> keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO’s Note terbit, >> banyak >> >> tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini >> adalah >> >> CEO’s Note edisi ke-6 bulan Juli 2010. >> >> Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa >> >> Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru” >> >> enam bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan. Betapa relatifnya >> >> waktu… Selama >> >> enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya tidak >> >> bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang kerja >> >> Dirut PLN. >> >> Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit >> >> lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai >> >> bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. >> Mungkin >> >> saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang >> saya >> >> pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter. >> >> Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya >> >> memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan >> obat >> >> transplan yang masih harus saya minum setiap hari. Tiba-tiba saja, ketika >> >> hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang telanjur dijadwalkan >> >> tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri… >> >> Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang >> >> sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai >> Dirut >> >> PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik >> >> Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa >> >> pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan >> saya >> >> bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya >> tidak >> >> ke mana-mana. >> >> Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus >> >> berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya >> tidak >> >> bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan >> >> bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat >> organisasi >> >> atau permintaan ceramah. Semua saya hindari. Saya memang masih tercatat >> >> sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar se-Indonesia, ketua >> umum >> >> persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga bridge Indonesia, dan >> >> banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang bisa saya hadiri. >> >> Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya >> >> kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke >> >> mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. Dokter yang tiga tahun lalu >> >> mentransplantasi hati saya melarang badan saya terlalu gemuk. Dokter >> selalu >> >> mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status saya tetap saja sebagai >> orang >> >> sakit. Di samping harus terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. >> Karena >> >> itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan >> >> kaki saja. >> >> Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari >> >> rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN >> di >> >> Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan >> supaya >> >> dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya >> >> berolahraga sambil menghirup CO2. Beruntung, rute menuju kantor tersebut >> >> bisa ditempuh dengan menghantas jalan-jalan kecil yang sepi yang >> >> kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada >> >> satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba >> di >> >> kantor dengan keringat yang bercucuran. Hasilnya: selama satu bulan itu, >> >> berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang 1 kg lagi. Mula-mula, >> >> berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak rumah-kantor >> tersebut >> >> juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi kian biasa. Bahkan, >> >> belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh. >> >> Betapa relatifnya jarak… >> >> Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada >> >> pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian >> >> juga beberapa relasi PLN lainnya. Bahkan, seorang perempuan yang merasa >> >> diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul >> >> 07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi untuk mengadukan kelakuan >> >> suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang karena uangnya tinggal pas-pasan >> >> untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus bagaimana pulangnya. Suaminya, >> >> katanya, sangat-amat pelitnya. Betapa relatifnya uang… >> >> Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan >> >> sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan >> cepat >> >> untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk >> >> dipecahkan. Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari >> yang >> >> sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi >> >> tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang >> >> dari para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan >> >> dengan jenakanya. >> >> Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas >> personal >> >> PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang >> >> dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. >> >> Yang tidak ada pada mereka adalah muara. Begitu banyak Ide yang mengalir, >> >> tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal >> dan >> >> sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, >> >> semua ide bisa mulai bermuara. Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, >> >> bisa mengalir sampai jauh… >> >> Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu >> >> siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di >> >> ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, >> >> berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN >> >> bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang >> >> menyenangkan. Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang >> >> mengisinya. Betapa relatifnya tempat… >> >> Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. >> Pemilik >> >> jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau >> >> dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua >> >> bisa. Betapa relatifnya jiwa… >> >> Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi" >> >> direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, >> sejak >> >> sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak >> >> pernah membaca surat masuk. Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. >> >> Semua surat masuk langsung didistribusikan ke staf yang bertugas di >> >> bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu >> saya >> >> bisa menyelesaikannya. Maka, untuk apa harus mampir ke meja saya kalau >> bisa >> >> langsung tertuju kepada yang lebih pas menjawabnya? >> >> Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima >> >> surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk >> >> kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar >> disposisi. >> >> Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? >> >> Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi -sekadar untuk >> >> menunjukkan bahwa saya atasan mereka? >> >> Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal >> yang >> >> sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah >> hanya >> >> saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi >> >> seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus >> diperbuat? >> >> Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik >> >> petunjuk"? >> >> Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada >> >> tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus >> membaca >> >> surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu >> apa >> >> yang terbaik yang harus dilakukan. Bukankah karyawan PLN itu umumnya >> >> lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari universitas- universitas terbaik >> >> negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu, doktornya saja sudah 20 orang dan >> >> masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman >> >> -melebihi saya? Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih >> kepada >> >> mereka. >> >> Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering >> >> diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi >> >> akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi >> >> ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa >> "minta >> >> petunjuk". >> >> Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari >> >> universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali >> >> kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan >> >> kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, >> >> rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, >> >> hanyalah pengecualian. Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja >> >> kerja direktur utama. Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, >> >> misalnya, untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau >> saya >> >> lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja >> >> sebenarnya. Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak >> >> tersebut. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi >> >> dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di >> >> kantor ini. Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa >> >> berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum >> tentu >> >> bisa duduk semestinya. Betapa relatifnya sebuah kekuasaan… >> >> Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini? Ada yang bilang >> >> sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di seluruh >> Indonesia, >> >> menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, mengatasi kacaunya >> >> tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur Selatan, >> >> Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal >> >> tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14, >> >> sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh >> >> dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa >> >> 20). Tapi, >> >> banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, ada >> >> yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN >> >> yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu >> lucu >> >> karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama DPR? >> >> Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang >> >> menaikkan atau menurunkan TDL? Betapa relatifnya kepuasan… >> >> >> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung >> Teruuusss...! >> >> ------------------------------------ >> >> Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. >> >> SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN >> MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU >> MENJUAL >> EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK >> INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. >> >> [email protected] untuk berhenti dari milis saham >> [email protected] untuk bergabung ke milis saham >> Yahoo! Groups Links >> >> >> >> > > > ------------------------------------ > > Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. > > SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN > MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL > EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK > INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. > > [email protected] untuk berhenti dari milis saham > [email protected] untuk bergabung ke milis saham > Yahoo! Groups Links > > > > http://docs.yahoo.com/info/terms/ ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. [email protected] untuk berhenti dari milis saham [email protected] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
