PT Atlas Resources, perusahaan tambang Batubara akan melepas saham ke publik 
dengan melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sebanyak 
783,333 ribu saham di Bursa Efek Indonesia. Jumlah saham tersebut mewakili 
sebanyak-banyaknya 25 persen dengan nilai nominal Rp 200 per lembar saham. 
Dengan kisaran harga IPO Rp 1.500-Rp 1.900 per lembar saham, PT Atlas Resources 
diperkirakan meraih dana sebesar Rp 1,17 triliun-Rp 1,48 triliun.

Dana hasil IPO tersebut, akan digunakan perseroan sebanyak 40 persen untuk 
membiayai belanja modal berkaitan dengan infrastruktur fasilitas penunjang 
wilayah IUP (Izin Usaha Pertambangan) di Hub Muba yang terletak di Sumatera 
Selatan, antara lain pada pembebasan lahan dan/atau hak penggunaan jalan, biaya 
pembukaan lahan, dan pembangunan infrastruktur. 

Direktur Komersial PT Atlas Resources, Aulia Setiadi mengatakan pada Jumat 
(7/10) bahwa dana belanja modal akan berasal dari penawaran saham perdana, cash 
flow, dan pinjaman bank. Saat ini, perseroan baru mengoperasikan tiga wilayah 
izin usaha pertambangan (IUP) yang pada 3 hub telah berproduksi dan satu hub 
baru (Muba). Target produksi perseroan mencapai 2,5 juta ton hingga akhir tahun 
2011. Sebelumnya perseroan telah menjual batu bara ke Korea Selatan sebesar 
53,6 persen, Jepang sebesar 24,1 persen, dan India 10,5 persen. Hingga Juni 
2011, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 401,5 miliar. 

Selain belanja modal, sekitar USD 25 juta akan digunakan untuk membayar biaya 
kompensasi atas restrukturisasi kontrak pemasokan batubara selama umum tambang 
kepada Noble menjadi kontrak pemasaran dan penjualan baru untuk beberapa produk 
batubara perseroan. Sekitar 27,5 persen untuk akuisisi wilayah IUP tambahan, 
serta sisanya untuk membiayai modal kerja.

Saham IPO akan ditawarkan kepada investor internasional jangka panjang, hedge 
fund dan wealth management. Perseroan melakukan penawaran saham perdana ke 
Hongkong, Singapura, New York, dan Boston. 

PT Atlas Resources memiliki 18 anak perusahaan, dengan 9 mengantongi IUP 
Lisensi produksi, 3 IUP lisensi eksplorasi di Kalimantan Timur dan Sumatera 
Selatan serta 2 otorisasi pertambangan di Papua yang masih dalam proses 
konversi ke IUP.

Sejak didirikan, PT Atlas Resources dan anak perusahaan telah memperluas 
portofolio batubaranya dari tiga menjadi empat tempat dengan luas mencapai 
185.000 hektar (ha) yang terdapat di seluruh Indonesia. 

Menurut laporan JORC, IUP yang dimiliki perseroan terdapat di daerah Berau Bara 
Energi, Diva Kencana Borneo, Gorby Putra Utama, Gorby Energy, dan Banyan 
Koalindo Lestasi dengan mengantongi cadangan batubara sebanyak 83,5 juta ton 
dengan sumber daya batubaranya mencapai 330,7 ton. Sementara, target kapasitas 
produksi 2,38 juta ton.

Posisi akhir April 2011, perseroan mampu memproduksi batubara sebanyak 427.976 
MT dengan volume penjualannya 508.232 serta harga rata-rata penjualan USD 66.

Area konsesi Atlas di Berau Bara, Diva Kencana dan Hanson Energi Martapura, 
serta Muba Region mulai berproduksi pada kuartal IV-2011 sebanyak 2,75 juta ton 
dan setelah infrastrukturnya berjalan pada 2013 akan menghasilkan 5,1 juta ton 
per tahun.

Daerah IUP lainnya dalam tahap eksplorasi atau tahap pengembangan sehingga 
dibutuhkan tim manajemen yang kuat untuk mengembangkannya. Saat ini, harga 
batubara internasional telah naik 27,8 persen dibandingkan periode tahun lalu 
atau rata-rata lebih tinggi 23,9 persen. Sedangkan harga jual rata-ratanya pun 
mengalami peningkatan 36,3 persen dari harga puncaknya 4 Juli lalu di level USD 
192,50. Atlas sangat terkorelasi dengan pasokan harga batubara internasional.

Bloomberg mencatat konsensus batubara di level USD 105 dan angka tersebut telah 
mengalami penurunan, kemudian naik kembali ke level USD 140 pada tahun depan. 
Secara histori, perseroan menjual batubaranya dengan harga diskon 44,3-63,6 
persen. Jika menerapkan diskon harga dengan konsensus Bloomberg, maka harga 
jual batubara yang dihasilkan oleh Atlas berkisar USD 48,30-USD 51 dalam 
kondisi bearish, sedangkan bullish berada di USD 58,5-USD 78. 

Bukan hanya terkorelasi dengan harga batubara, perseroan juga dihadapkan dengan 
kenaikan biaya logistik sebab salah satu konsesinya terletak di pulau Sumatera. 
Hal ini disebabkan tidak ada infrastruktur yang memadai untuk mengangkut hasil 
produksi batubara sehingga harga yang dikeluarkan relatif mahal. 

Di lain sisi, perseroan juga diuntungkan dengan permintaan dari India dan China 
guna mendukung ekspansi pabrik mereka yang tengah agresif. Bila kondisi ekonomi 
melambat, maka pemasok lainnya pun harus menggenjot produksinya untuk 
mengimbangi harga batubara.

Berdasarkan laba semester I-2011 sekitar Rp 92 miliar dibandingkan dengan harga 
penawaran saham perdana berkisar Rp 1-500-1.900, maka menghasilkan PE 51-64 
kali. Asumsi, perseroan dapat mengalami pertumbuhan laba sekitar 500 persen 
menjadi Rp 552 miliar pada 2012 dan diharapkan PE 2012 berkisar 9-11 kali. 
Demikian komentar analis Linda Lauwira tentang prospek IPO PT Atlas Resources.

Penjamin pelaksana emisi efek (underwriter) yang telah di tunjuk oleh manajemen 
PT Atlas Resources, adalah PT Indo Premier Securities dan PT UBS Securities 
Indonesia. 

Menurut Managing Director PT Indo Premier Securities, Moleonoto The, pada Jumat 
(7/10) bila terjadi kelebihan permintaan, perseroan dapat melakukan green shoe 
sampai sebanyak-banyaknya 117.500.000 saham lama atau setara 15 persen. Opsi 
green shoe terbuka, green shoe merupakan satu instrumen yang bisa dipergunakan 
untuk mendukung pelaksanaan harga. Stabilisasi sesuai peraturan 30 hari setelah 
saham dicatatkan di bursa. Kita akan mencoba mencari anchor investor. 

Jadwal pelaksanaan IPO PT Atlas Resources adalah, masa penawaran umum 31 
Oktober-2 November 2011, penjatahan 4 November 2011, distribusi saham secara 
elektronik pada 7 November 2011, dan pencatatan saham pada 8 November 2011.

http://www.financeindonesia.org/content.php?497-Rencana-IPO-Atlas-Resources-Lepas-25-Persen-Saham-Raih-Rp-1-48-Triliun

Kirim email ke