MBAI tuh...salah satu porto LKH yg beberapa hari ini turun 50% dari
31.000 ke 12.000 an...

Sapa tau balik lagi ke 31.000....patternya double bottom lagi...ada
kemungkinann dongk nih :)




--- In [email protected], cuanesia@... wrote:
>
> Dibantu sama Gramedia dulu aja..kalo kurang jelas baru minta dibantu
Profesional kali ya, lebih efektif dgn cara begitu sy pikir :)
>
>
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>
> -----Original Message-----
> From: Saham Gorengan gorengan_saham@...
> Sender: [email protected]
> Date: Mon, 7 Nov 2011 20:46:31
> To: [email protected]
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>
> bang... ane bener2 nubie kalo disuruh nyari saham yang mantap...
> mungkin abang bisa bantu orang2 nubie kaya ane ini....
> Â
> ^_^
>
> --- On Tue, 11/8/11, Irwan Ariston Napitupulu irwanariston@... wrote:
>
>
> From: Irwan Ariston Napitupulu irwanariston@...
> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, November 8, 2011, 4:19 AM
>
>
>
> Â
>
>
>
> Jangan borong IHSG, khan LKH ngga borong IHSG, tapi borong saham2 yg
berprospek bagus dan harganya masih murah secara valuasi :)
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
>
> 2011/11/8 lolita salim lolitasalim@...
>
>
>
>
> Kalo gitu, kita mesti seperti Tuan Lho ini dong, biar cepet kaya.Â
>
>
> Yuk, hari ini kita borong rame-rame saham di IHSG, biar cepet
kaya..., he. he...
>
>
> Pada 3 November 2011 10:06, Fabianto Wangsamulya ladyfabia@...
menulis:
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
> Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu
investor di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett
Indonesia.
> Selamat membaca.
>
>
>
>
>
http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-ti\
dur/23199#Scene_1
>
> Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, Lo
Kheng Hong bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain
hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil
tidur’?
>
> Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia
mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi
(capital gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi,
jangan bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan
glamour, agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi.
>
> Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati,
kalem, bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang
menjadikan Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.
>
> Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu
menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa,
baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe
investor yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau
setiap saat mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai
bursa, dengan kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri
dengan handphone canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat
paling mutakhir sejenisnya.
>
> Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka
panjang ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah
sebabnya, kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai
‘Warren Buffett Indonesia’.
>
> “Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak
mengerti saham apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka
tidak tahu apa yang mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor,
semakin menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng
Hong kepada wartawan Investor Daily Nurfiyasari dan Abdul Aziz serta
pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.
>
> Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka
panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh
dan bisa bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat
uangnya besar,” ujar Kheng Hong.
>
> Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo
Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil
lolos dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk
keuntungan hingga 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat
jatuh. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang
saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya
meningkat 150.000% sampai saat ini,” tuturnya.
>
> Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk
saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali
tidak tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain,
seperti emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank
Ekonomi ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan,
termasuk perusahaan sekuritas.
>
> “Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau
terjadi krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak
bekerja, tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun,
tidak punya karyawan seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang
sopir dan dua pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun
bermain saham.
>
> Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar
dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami bullish,
bearish, atau crash? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria yang
mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat menyumbangkan
kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.
>
> Kenapa Anda tertarik bermain saham?
> Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan
yang besar dan tidak capek seperti di sektor riil.
>
> Apa enaknya menjadi investor saham?
> Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di
dunia, seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak
percaya. Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi
miskin karena bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.
>
> Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak
dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di
perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga
waktu luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai.
>
> Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham,
padahal yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan
seluruh karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka
tidak punya hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.
Memiliki perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak
uang.
>
> Sejak kapan Anda bermain saham?
> Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan
dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil.
Saat tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi
pegawai tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi
dan lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus
yang murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya
mulai main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian
keluar dari bank dan fokus main saham.
>
> Anda saat ini punya saham apa saja?
> Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder
Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya
banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%.
Saya tipe investor jangka panjang.
>
> Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya
besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005
seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual,
padahal gain-nya sudah 12.600%.
>
> Cara Anda memilih saham?
> Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance
(GCG) atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu.
Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini
menyangkut harta saya. Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu.
Lihat manajemen, apakah pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai
pengelolanya suka ambil uang perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping
partner dirugikan.
>
> Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua
manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor
usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya
sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti
kelapa sawit dan pakan ayam.
>
> Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah
dan dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang
lain. Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan
atau tidak.
>
> Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?
> Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada
yang kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung
besar terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang growing secara
berkala, misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini
perusahaan yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke
belakang. Lihat masa lalunya.
>
> Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya
ternyata turun?
> Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan
mengalami hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut growing,
tandanya itu super company.
>
> Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?
> Harga. Saya lihat dari price to earning ratio (PER)-nya. Jangan bilang
saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya
Rp 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa
lebih murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan
emitennya dalam membukukan keuntungan.
>
> Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?
> Saya pikir, yang reasonable untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah
lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan
yang sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.
>
> Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?
> Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di
Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan, buy
on weakness. Dan, harus be greedy when others are fearful dan
sebaliknya, be fearful when others greedy.
>
> Bukankah itu sulit diterapkan?
> Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang
yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah
membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak
mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha...
>
> Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa
mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua
peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi
kaya di pasar saham.
>
> Berarti, kuncinya ada di mental?
> Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang
panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran
penting. Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University,
saya tanya biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000,
keluar dari sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$
40.000, kita bisa menjadi orang pintar.
>
> Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum
tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah
menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi
pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli
turun dan yang dijual justru naik.
>
> Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang
kuat, kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa
seperti itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per
satu.
>
> Jadi, Anda tipe investor fundamental?
> Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan
perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin
itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada
di bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang,
ada yang terjebak.
>
> Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?
> Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui.
Ada yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali.
Lalu, kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?
>
> Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?
> Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat market
mengalami booming, semua masuk. Saat market buang-buang saham, mereka
ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang
dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan ikuti
langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar
saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang
sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga
mengalami kerugian.
>
> Anda berinvestasi pada instrument selain saham?
> Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana
tunai saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan
segitu? Itu untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya
masih bisa beli saham lagi.
>
> Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?
> Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham
suatu emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp
2.375, kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka
panjang. Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya
lepas. Untuk emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka
panjang. Kalau emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih
baik saya lepas.
>
> Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda
mengalami kerugian juga?
> Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh,
tapi tetap be greedy when others are fearful. Malah sewaktu krisis
1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu
saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan,
itu terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%.
>
> Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama
yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?
> Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut
turun. Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual,
bahkan saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari
saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari
sebelumnya.
>
> Apa filosofi hidup Anda?
> Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil
tidur. Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya
tidur tetapi saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara
dahsyat. Getting rich while sleeping. Saya pakai waktu saya delapan jam
untuk tidur, selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan
mengerjakan apa yang saya sukai.
> Â
> ---
> Fabianto
>




------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke