Jangan borong IHSG, khan LKH ngga borong IHSG, tapi borong saham2 yg
berprospek bagus dan harganya masih murah secara valuasi :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

2011/11/8 lolita salim <[email protected]>

>
>
> Kalo gitu, kita mesti seperti Tuan Lho ini dong, biar cepet kaya.
>
> Yuk, hari ini kita borong rame-rame saham di IHSG, biar cepet kaya..., he.
> he...
>
> Pada 3 November 2011 10:06, Fabianto Wangsamulya <[email protected]>menulis:
>
>  **
>>
>>
>> Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu investor
>> di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia.
>> Selamat membaca.
>>
>>
>> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1>
>>
>>
>> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1>
>>
>> http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1
>>  Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, *Lo
>> Kheng Hong* bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain
>> hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?
>>
>> Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia
>> mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi (capital
>> gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi, jangan
>> bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan glamour,
>> agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi.
>>
>> Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, kalem,
>> bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang menjadikan
>> Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.
>>
>> Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu
>> menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa,
>> baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe investor
>> yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat
>> mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa, dengan
>> kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri dengan handphone
>> canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir
>> sejenisnya.
>>
>> Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka panjang
>> ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya,
>> kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett
>> Indonesia’.
>>
>> “Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham
>> apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang
>> mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin menunjukkan
>> bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan *Investor
>> Daily* *Nurfiyasari *dan *Abdul Aziz *serta pewarta foto *Eko S Hilman*di 
>> Jakarta, baru-baru ini.
>>
>> Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka
>> panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan bisa
>> bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya besar,”
>> ujar Kheng Hong.
>>
>> Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo
>> Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos
>> dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan hingga
>> 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis
>> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu
>> saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat
>> ini,” tuturnya.
>>
>> Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk
>> saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak
>> tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti
>> emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi
>> ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk
>> perusahaan sekuritas.
>>
>> “Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi
>> krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, tidak
>> punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan
>> seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua
>> pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham.
>>
>> Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar
>> dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami *bullish*,
>> *bearish*, atau *crash*? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria
>> yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat
>> menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.
>>
>> K*enapa Anda tertarik bermain saham?*
>> Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan yang
>> besar dan tidak capek seperti di sektor riil.
>>
>> *Apa enaknya menjadi investor saham?*
>> Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di dunia,
>> seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak percaya.
>> Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin karena
>> bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.
>>
>> Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak
>> dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di
>> perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga waktu
>> luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai.
>>
>> Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham, padahal
>> yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan seluruh
>> karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak punya
>> hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki
>> perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang.
>>
>> *Sejak kapan Anda bermain saham?*
>> Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari
>> keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat
>> tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi pegawai
>> tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan
>> lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus yang
>> murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai
>> main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari
>> bank dan fokus main saham.
>>
>> *Anda saat ini punya saham apa saja?*
>> Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama
>> Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya banyaknya
>> bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe
>> investor jangka panjang.
>>
>> Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar.
>> Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp 250
>> dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal gain-nya
>> sudah 12.600%.
>>
>> *Cara Anda memilih saham?*
>> Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG)
>> atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari
>> tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta saya.
>> Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah
>> pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang
>> perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan.
>>
>> Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua
>> manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor
>> usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya
>> sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa
>> sawit dan pakan ayam.
>>
>> Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah dan
>> dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang lain.
>> Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau
>> tidak.
>>
>> *Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?*
>> Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada yang
>> kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar
>> terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang *growing *secara berkala,
>> misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini perusahaan
>> yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang.
>> Lihat masa lalunya.
>>
>> *Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya
>> ternyata turun?*
>> Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan mengalami
>> hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut *growing*, tandanya
>> itu *super company. *
>> *
>> Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?*
>> Harga. Saya lihat dari* price to earning ratio* (PER)-nya. Jangan bilang
>> saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp
>> 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih
>> murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya
>> dalam membukukan keuntungan.
>>
>> *Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?*
>> Saya pikir, yang *reasonable *untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah
>> lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan yang
>> sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.
>> *
>> Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?*
>> Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di
>> Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,* buy
>> on weakness.* Dan, harus* be greedy when others are fearful* dan
>> sebaliknya, *be fearful when others greedy.*
>>
>> *Bukankah itu sulit diterapkan?*
>> Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang
>> yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah
>> membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak
>> mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha...
>>
>> Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa
>> mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua
>> peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi
>> kaya di pasar saham.
>> *
>> Berarti, kuncinya ada di mental?*
>> Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang
>> panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran penting.
>> Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University, saya tanya
>> biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar dari
>> sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita bisa
>> menjadi orang pintar.
>>
>> Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum
>> tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah
>> menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi
>> pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli turun
>> dan yang dijual justru naik.
>>
>> Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat,
>> kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa seperti
>> itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per satu.
>>
>> *Jadi, Anda tipe investor fundamental?*
>> Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan
>> perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin
>> itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada di
>> bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada yang
>> terjebak.
>>
>> *Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?*
>> Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui. Ada
>> yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu,
>> kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?
>> *
>> Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?*
>> Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat *market 
>> *mengalami
>> *booming*, semua masuk. Saat *market* buang-buang saham, mereka
>> ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang
>> dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan ikuti
>> langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar
>> saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang
>> sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga mengalami
>> kerugian.
>>
>> *Anda berinvestasi pada instrument selain saham?*
>> Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana tunai
>> saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan segitu? Itu
>> untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa
>> beli saham lagi.
>> *
>> Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?*
>> Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham suatu
>> emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375,
>> kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka panjang.
>> Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk
>> emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka panjang. Kalau
>> emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih baik saya lepas.
>>
>> *Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami
>> kerugian juga?*
>> Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi
>> tetap *be greedy when others are fearful*. Malah sewaktu krisis
>> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu
>> saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, itu
>> terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%.
>>
>> *Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama
>> yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?*
>> Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun.
>> Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan
>> saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari
>> saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari
>> sebelumnya.
>> *
>> Apa filosofi hidup Anda?*
>> Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur.
>> Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya tidur tetapi
>> saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara dahsyat. *Getting
>> rich while sleeping.* Saya pakai waktu saya delapan jam untuk tidur,
>> selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan mengerjakan apa yang saya
>> sukai.
>>
>> ---
>> Fabianto
>>
>>
>
>
> 
>

Kirim email ke