Realisasi belanja subsidi energi sudah lebih dari 80% JAKARTA. Meski realisasi belanja pemerintah masih rendah, tapi realisasi belanja subsidi, terutama subsidi energi ternyata sudah melesat jauh. Agar tak terjadi pembengkakan, perlu ada perubahan perilaku ekonomi para pengguna BBM bersubsidi sehingga subsidi menjadi lebih tepat sasaran.
Berdasarkan data Direktorat Perbendaharaan Negara Kementerian Keuangan per 7 November 2011 realisasi belanja subsidi energi sebesar Rp 164,74 triliun atau 84,4% dari pagu anggaran sebesar Rp 195,28 triliun. Dari jumlah itu, realisasi subsidi BBM sebesar Rp 110,82 triliun (85,5%) dari pagu anggaran sebesar Rp 129,72 triliun. Sedangkan subsidi listrik telah terpakai sebesar Rp 53,91 triliun (82,2%) dari pagu anggaran sebesar Rp 65,56 triliun. Jika dibanding dengan periode yang sama tahun lalu, realisasi subsidi tahun ini memang jauh lebih tinggi. Pada 7 November 2010 realiasi subsidi energi baru sebesar Rp 82,9 triliun atau 62,2% dari pagu anggaran. Subsidi BBM baru terserap 60,6% (Rp 53,9 triliun) dan subsidi listrik baru 64,8% (Rp 35,71 triliun). Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Agus Suprijanto mengungkapkan, realisasi susbidi energi yang cukup besar ini merupakan imbas dari kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, "Konsumsi BBM juga naik, dan terjadi perpindahan pemakaian karena harga premium dan harga pertamax (selisihnya) jauh," ungkapnya baru-baru ini. Meski begitu, pemerintah masih berupaya agar volume subsidi BBM tahun ini yang sudah dipatok 40,5 juta kilo liter dalam APBNP 2011 tidak membengkak. Anggota Badan Anggaran DPR RI dari Fraksi PKS Andi Rahmat menjelaskan, meski realisasi subsidi BBM sudah mencapai 85,5% hingga awal November, tapi ia masih optimis kuota BBM subsidi tidak akan membengkak. Salah satu alasannya, karena PLN juga ketat sekali melakukan pembatasan dan berusaha tidak distortif. Karena sebagian besar subsidi ini membengkak karena adanya distorsi (penggunaan BBM). PLN bekerja keras untuk mendisiplinkan ini. "Kalau begini profilnya, mudah-mudahan akhir tahun ini tidak ada pertambahan, tetap ada di angka 40,5 juta kilo liter," ungkapnya Rabu (16/11). Seperti diketahui, selama ini sebagian besar pembangkit listrik milik PLN masih menggunakan BBM sebagai bahan bakar. Hanya sebagian kecil yang menggunakan bahan bakar alternatif batubara dan gas. Agus bilang, jika nanti terjadi pembengkakan subsidi BBM akibat konsumsi BBM subsidi yang meningkat, maka alternatif yang dilakukan oleh pemerintah adalah melaporkan ke DPR. "Harus datang ke DPR dan bilang ini melebihi kuota, nanti tergantung hasil (rekomendasi) DPR seperti apa," katanya. Andi juga mengungkapkan, pada prinsipnya DPR mendorong pemerintah agar ketat dalam hal kuota BBM subsidi. Ia mengakui, dengan semakin minimnya sisa kuota BBM subsidi yang ada, konsekuensinya akan ada antrian di SPBU. "Kita sudah hitung (kemungkinan) itu, dan ada yang menyarankan bahwa biarkan saja itu terjadi agar nantinya perilaku ekonomi masyarakat menyesuaikan," jelasnya. Artinya, dengan adanya antrian BBM bersubsidi, Andi bilang nantinya masyarakat akan mencari alternatif lain dalam penggunaan energi, sehingga ke depan subsidi bisa lebih tepat sasaran. Andi menjelaskan, selama ini subsidi BBM belum tepat sasaran. Ia menggambarkan, dari total BBM subsidi, sekitar 50% nya digunakan oleh sepeda motor. "Dari total pengguna sepeda motor ini, sekitar 50% nya ada di Jabodetabek. Jadi area ini terlalu besar menyerap subsidi, sementara daerah lain tidak terlalu besar subsidinya," ungkapnya. http://nasional.kontan.co.id/v2/read/1321441615/82886/Realisasi-belanja-subsidi-energi-sudah-lebih-dari-80- Sumber : KONTAN.CO.ID Ayo galakan energi alternatif, beralihlah ke gas ( beli PGAS ) atau batubara ( beli ADRO ) hehe.. Regards - abri ------------------------------------ Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. [email protected] untuk berhenti dari milis saham [email protected] untuk bergabung ke milis saham Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/saham/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
