***LIKE THIS***

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of sem
susilo
Sent: Saturday, December 17, 2011 10:25 AM
To: [email protected]; saham yahoogroups; amibroker-4-bei
yohoogroups; Milis Asosiasi Analisis Teknikal Indonesia; investium group;
[email protected]; [email protected]
Subject: [saham] OOT => ? ISAAC NEWTON GAGAL DI SAHAM

 

  

Sudah terlalu banyak bukti bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup
membuat seorang investor saham menjadi lebih pakar. Pada Tahun 1998, Long
Term Capital Managemen L.P., sebuah perusahaan hedge fund yang dikelola oleh
sepasukan ahli matematika, ilmuwan komputer, dan dua ekonom pemegang hadiah
nobel, dengan tertunduk kehilangan lebih dari  2 miliar dollar dalam
hitungan minggu pada sebuah pertarungan besar bahwa pasar obligasi akan
segera kembali normal. Namun, pasar obligasi terus-menerus menjadi semakin
dan semakin abnormal dan LCTM telah berhutang begitu besar sehingga
kejatuhannya hampir menjungkirbalikkan sistem keuangan global.

Contoh nyata berikutnya, ketika musim semi  tahun 1720, Sir Isaac Newton
memiliki saham South Sea Company, saham yang paling hot di Inggris pada masa
itu. Begitu melihat gejala pasar mulai tidak terkendali, sang ilmuan besar
itu berkata bahwa ia "bisa menghitung ...>>
gerakan benda-benda langit, tetapi ia tidak bisa mengalkulasi kegilaan
orang". Newton memilih melepas saham South Sea-nya dan mendulang cuan 100%,
yaitu sebesar 7.000 pound sterling. Namun hanya dalam beberapa bulan
kemudian, sang mastro tersebut tergoda dan terhanyut oleh arus deras euforia
pasar, Isaac Newton terjun kembali ke dalam pasar ketika harga sudah jauh
lebih tinggi. Dan rugi 20.000 pound sterling [atau lebih dari 3 jt dollar
dalam konversi nilai uang sekarang]. Sampai akhir hidupnya, ia melarang
siapapun untuk menyebut kata "South Sea" di dekatnya [kerapuhan emosi tampak
nyata di sini, sahammya yang disalahkan]. Sir Isaac Newton adalah salah satu
orang jenius yang pernah hidup di muka bumi, sebagaimana definisi kejeniusan
menurut sebagian besar dari kita. Namun dalam pengertian Benjamin Graham,
Newton sama sekali tidak mendekati pinter, apalagi jenius sebagai investor.
Dengan membiarkan hirukpikuk pasar menunggangi penilaiannya sendiri, ilmuan
besar tersebut bertindak layaknya seorang spekulan saham dan sangat
oportunitik.

 

Singkatnya, jika kita gagal berinvestasi di pasar saham sampai saat ini, itu
bukan karena kita kurang cerdas. Seperti Sir Isaac Newton, itu karena kita
belum memiliki bangunan fundamental investasi dan belum mempunyai pemahaman
yang baik tentang pasar beserta segala perilakunya. Dan perlu secara serius
membangun kecerdasan emosional dan menolak untuk mengikuti level keliaran
pasar. Pada akhirnya kita akan disadarkan oleh sebuah kenyataan, bahwa
menjadi InvestorPemenang adalah persoalan kecerdasan emosional ketimbang
kecerdasan intelektual. Membangun harusnya dari fondasi bukan dari kerangka.

 

Dafpus : Intelligent Investor

 

 

@sahampemenang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Kirim email ke