Saya pikir itu bagus dan perlu waktu untuk menjalankannya Karena perlu persiapan yang matang dari BEI selaku otoritas bursa saham dan KSEI juga KPEI selaku SRO. Hal yang tak kalah penting lagi adalah system yang dimiliki oleh para AB juga perlu siap dulu, apalagi yang memiliki online trading system. Bagaimana menurut bang I.A.N selaku pengasuh milis ini ?
--- On Thu, 6/21/12, Oguds <[email protected]> wrote: From: Oguds <[email protected]> Subject: [saham] Kajian Turunkan Jumlah 1 Lot Saham Dikritisi To: [email protected] Date: Thursday, June 21, 2012, 5:20 PM Hello Saham, Muncul wacana dari BEI, menurunkan jumlah 1 lot menjadi 100 lembar saham. Bagaimana menurut rekan2 di sini? Menurut saya, ini positif. Dulu saya pernah ulas di milis ini, kenapa beli saham harus dibuat per lot segala, hapus saja jadi per lembar. Stock split bukan solusi, karena historis harga yg hilang akibat saham yg sering dipecah2. Ini mengacaukan data banyak pihak, termasuk software2 analisis saham. Namun tanggapan sejumlah pihak kok malah negatif ya? Contohnya di bawah, Satrio Utomo. Komentarnya malah ibarat jaka sembung naik ojek. Dia menolak mengurangi jumlah lot, karena hanya menguntungkan saham2 dengan fundamental baik. Lho, bukankah itu tujuannya? Saham2 yg bagus biasanya sudah mahal, kurang terjangkau bagi investor2 kecil. Malah minta minimal Rp 100jt untuk investasi. Ini saran yg aneh, tipikal MI yg ogah lahannya berkurang. Saya ada sedikit reksadana, gile, dari awal 2008 s/d hari ini, masih rugi banyak. Luar biasa. Jangan2 ditinggal kabur MI-nya. Nah, kalau begini, masih valid gak tuh saran beli reksadana saja ? --- http://bisnis.vivanews.com/news/read/327873-analis-tak-setuju-bei-turunkan-lot-saham VIVAnews - Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) menilai rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengurangi jumlah saham dalam satu lot tidak perlu dilakukan. "Kalau tujuannya menguatkan likuiditas, tidak perlu menurunkan jumlah saham dalam satu lot. Stock split (memecah nominal saham) saja," kata Sekretaris Jenderal AAEI, Pardomuan Sihombing, saat berdiskusi dengan wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Kamis 21 Juni 2012. Menurut dia, rencana otoritas bursa untuk mengurangi jumlah saham dalam satu lot harus dilakukan kajian lebih lanjut. Sebab, hingga kini, jumlah 500 saham untuk satu lot dianggap cukup. Selain itu, penguatan basis investor serta memperbanyak emiten, justru dianggap lebih baik untuk menaikkan likuiditas saham. Pardomuan mencontohkan pelaksanaan stock split yang dilakukan PT Astra International Tbk di kisaran Rp6.800 per saham dari harga sebelumnya sekitar Rp60 ribu per unit. "Sekarang, semua orang bisa memiliki saham Astra, karena sudah murah," ujarnya. Sementara itu, analis PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menambahkan, rencana pengurangan jumlah saham per satu lot hanya menguntungkan saham yang memiliki fundamendal kurang baik. Sementara itu, saham dengan fundamental baik tidak terlalu diuntungkan. Dia menyarankan, batas minimal investasi awal di pasar modal Rp100 juta. Sedangkan investasi di bawah nilai itu disarankan mengalihkan investasi ke reksa dana, sehingga lebih aman bagi investor. "Kalau memaksakan hanya Rp10 atau Rp15 juta, kesulitannya tinggi. Sedangkan saham Astra mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana stock split berhasil," katanya. Dengan memperhatikan saham yang berkinerja baik, Satrio melanjutkan, potensi investor meraih untung lebih besar dibanding membeli saham dengan harga murah dengan fundamental jelek. "Kalau fundamental saham tidak baik, pilih reksa dana saham saja," katanya. Sebelumnya, BEI berencana menurunkan jumlah saham dalam satu lot di bawah 500 unit. Dengan pengurangan itu, diharapkan mampu membangkitkan gairah investor di pasar modal, khususnya dari kalangan lokal. (art) -- Tertanda, Oguds [960000031]
