Hehehe...jangan lihat soal hitungan angka teoritisnya, tapi tujuan saya sebenarnya lebih kepada bentuk penyajian laporan khususnya tabel 1 dan 2, serta tabel 3 untuk tambahan.
Kalau teman2 disini pada minta ke sekuritasnya masing2 untuk dibuatkan laporan analisa saham dengan memuat tabel seperti tabel 1 dan 2 (kalau perlu forwardkan saja PDF saya tsb), maka mudah2an akan banyak pihak sekuritas yang mulai meminta analisnya membuatkan 2 tabel tersebut dalam analisanya. Dengan demikian, investor jadi dimanjakan karena mendapatkan informasi yang sesuai dengan tujuan investasi dia. Sekedar catatan, ada yang japri ke saya setelah melihat dua tabel tersebut, dia langsung tertarik untuk investasi jangka panjang dan mulai menyicil dengan cara DCA (dollar cost averaging), teknik membeli rutin per waktu (misalnya setiap awal bulan atau 3 bulan sekali atau lainnya) karena keterbatasan dana. Ini artinya adalah dia akan mulai menyisihkan uangnya tiap bulan untuk diinvestasikan ke saham seperti BBRI untuk tujuan investasi jangka panjang layaknya deposito. Format laporan seperti ini (khusus untuk 2 tabel pertama) berbeda dengan riset analis sekuritas selama ini yang hanya menampilkan satu harga (target price) yang tidak tahu itu target untuk berapa lama dan sampai kapan. Saya pribadi cenderung menghindar menggunakan istilah target price, melainkan lebih menggunakan istilah harga teoritis. Karena, kalau pakai istilah target price, seolah2 konotasinya harga teoritis itu adalah harga yang harus dicapai oleh pasar. Padahal, harga pasar bisa mengandung fear dan greed, sehingga bisa saja dibawah harga teoritis, bisa saja di atas harga teoritis. Dampak negatif dari penggunaan istilah "target price" adalah bila tidak tercapai, lalu investor akan bertanya2 kenapa koq tidak tercapai angkanya. Kalau sudah tercapai, lalu bertanya2 apakah harus dijual atau di hold atau bagaimana. Bingung. Dengan dua tabel pertama yg saya usulkan untuk dimuat disetiap laporan/riset, akan membuat investor bisa mengambil keputusan sendiri bila suatu saat harga teoritisnya sudah dicapai oleh pasar, apakah harus hold atau jual, karena terkait dengan time frame investasi mereka. Begitu juga bila belum tercapai, seberapa besar jauhnya dari harga teoritis, sehingga bisa ambil keputusan, apakah akan avg down atau cukup hold saja, karena nasabah bisa tahu perkiraan harga teoritis setahun ke depan, 2 tahun ke depan, bila fear semakin berkurang di pasar. Jadi, harapan otoritas bursa agar lahir investor2 seperti LKH (Lo Kheng Hong) yang berani hold saham sampai tahunan, sampai profit besar, akan mulai tumbuh sehingga jangan hanya investor2 asing yang dapat banyak cuan, tapi juga investor2 ritel Indonesia juga bisa dapat banyak cuan dari pertumbuhan perusahaan di masa mendatang seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lagi bagus2nya ini. Banyak analis yang memperkirakan ekonomi Indonesia di tahun 2030 akan masuk sebagai 5 besar dunia. Masa sih asing mulu yg dapat untung dari kenaikan ekonomi ini, sementara investor ritel kita cuma makan bunga deposito doang? :) jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu 2012/10/22 Purcahyadi - <[email protected]> > > > Mantap bang... Buy, buy n buy..... > > thanks atas sharingnya > > > > 2012/10/22 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > >> ** >> >> >> Jakarta, 22 Oktober 2010. >> >> Para sahabat saham dan sahabat FB, berikut ini sesuai janji saya akhir >> minggu lalu, saya kirimkan file PDF atas isi laporan yang mungkin >> dibutuhkan oleh investor ritel. Jangan fokus pada teknik perhitungan, >> karena masing2 analis bisa punya teknik perhitungannya sendiri2. Tapi >> fokuslah pada penyajian tabel 1 dan tabel 2. Sementara untuk tabel 3 >> hanya pembuktian teknik perhitungan yang sama di masa lalu. Saya taruh >> di halaman pertama, karena saya perkirakan hal itulah yang menjadi >> fokus utama dan pertama dari para investor ritel maupun institusi. >> Bila tertarik, barulah mereka mencoba membaca halaman2 berikutnya >> alasan2 yang bisa mendukung analisa tersebut. Bila mereka bisa >> menerimanya teknik perhitungannya, barulah mereka mungkin tertarik >> untuk investasi sesuai dengan kebutuhan jangka waktu investasi mereka. >> >> Investor bisa memiliki time frame investasi yang bisa berbeda2. Ada >> yang ingin investasi 6-12 bulan (jangka pendek), ada yang ingin >> investasi 1-3 tahun (jangka menengah), ada yang ingin investasi jangka >> panjang (> 3 tahun). Dengan memberikan dan menyajikan perkiraan harga >> saham untuk semua kebutuhan itu, maka laporan/riset atas suatu saham >> akan memiliki nilai tambah dari fungsinya sehingga memperbesar peluang >> laporan hasil riset itu bisa disimpan dan dilihat2 kembali oleh >> nasabah/user sampai ada perubahan atau perbaikan hasil riset karena >> ada perkembangan informasi dari emiten seperti misal keluarnya laporan >> keuangan yang baru. Selama hasil lapkeu masih inline dengan ekspektasi >> sebelumnya, tidak perlu dirubah. Bila ada perubahan yg cukup lumayan, >> maka perlu dirubah, baik di upgrade atau pun di downgrade harga2 >> teoritisnya. >> >> File yg saya kirim ini masih jauh dari sempurna. Tampilan layoutnya >> masih kalah jauh dengan layout yg biasa dikirimkan oleh teman2 para >> analis sekuritas yang bagi saya sudah sangat bagus dan perlu >> dipertahankan. Hal ini karena fokus saya saat ini bukan di hal >> tersebut melainkan soal tampilan tabel 1 dan 2 (halaman pertama), >> selain memang saya kurang mahir urusan mendesign layout. :) >> >> Laporan saya juga masih minim narasi, sehingga perlu ditambahkan >> dengan hal2 yang mungkin bisa bermanfaat bagi nasabah. Silakan >> dioptimalkan dalam laporan agar menjadi laporan yang penuh fungsi dan >> manfaat bagi para nasabah. Khususnya terkait soal kinerja emiten >> belakangan ini dan kemungkinan kinerja emiten ke depannya khususnya >> bila ada kemungkinan aksi korporasi dari emiten di masa mendatang yg >> bisa berdampak cukup signifikan ke kinerja keuangan. Biasanya, di >> perusahaan2 manufacture, sangat terkait dengan capex. >> >> Saya memakai pendekatan PER (Price to Earning Ratio) dalam >> perhitungan, karena bagi saya PER yg paling friendly ke harga pasar >> karena PER mengandung unsur Price (harga pasar) dan Earning (laporan >> keuangan/fundamental). Saya tidak pakai pendekatan FCFF (Free Cash >> Flow to Firm) atau FCFE (Free Cash Flow to Equity) karena bagi saya >> teknik itu lebih cocok untuk aksi akuisisi/merger. Saya tidak pakai >> DDM (Dividend Discount Model) karena emiten yg di analisa belum stabil >> DPR dan labanya sehingga besaran dividend nya masih fluktuatif, tidak >> sejalan dengan filosofi DDM itu sendiri. >> >> Semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi baru bagi lahirnya >> bentuk2 laporan yang lebih memenuhi fungsi yang diinginkan oleh >> investor ritel maupun institusi. >> >> jabat erat, >> Irwan Ariston Napitupulu >> > > > >
