Pak Irwan. Tanya bila di asumsikan Dividen pay out rationya setiap th 30 % dari eps nya . Lalu berapa kah harga teoritis nya dari saham nya ? .
(mohon di buatkan dalam 2 kemungkinan 1 . dividen payout ratio nya 30 % dan dividen payout rationya 20 %) Terima kasih sebelumnya. Salam Lukman. 2012/10/22 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > > > Hehehe...jangan lihat soal hitungan angka teoritisnya, tapi tujuan saya > sebenarnya lebih kepada bentuk penyajian laporan khususnya tabel 1 dan 2, > serta tabel 3 untuk tambahan. > > Kalau teman2 disini pada minta ke sekuritasnya masing2 untuk dibuatkan > laporan analisa saham dengan memuat tabel seperti tabel 1 dan 2 (kalau > perlu forwardkan saja PDF saya tsb), maka mudah2an akan banyak pihak > sekuritas yang mulai meminta analisnya membuatkan 2 tabel tersebut dalam > analisanya. > > Dengan demikian, investor jadi dimanjakan karena mendapatkan informasi > yang sesuai dengan tujuan investasi dia. > > Sekedar catatan, ada yang japri ke saya setelah melihat dua tabel > tersebut, dia langsung tertarik untuk investasi jangka panjang dan mulai > menyicil dengan cara DCA (dollar cost averaging), teknik membeli rutin per > waktu (misalnya setiap awal bulan atau 3 bulan sekali atau lainnya) karena > keterbatasan dana. Ini artinya adalah dia akan mulai menyisihkan uangnya > tiap bulan untuk diinvestasikan ke saham seperti BBRI untuk tujuan > investasi jangka panjang layaknya deposito. > > Format laporan seperti ini (khusus untuk 2 tabel pertama) berbeda dengan > riset analis sekuritas selama ini yang hanya menampilkan satu harga (target > price) yang tidak tahu itu target untuk berapa lama dan sampai kapan. Saya > pribadi cenderung menghindar menggunakan istilah target price, melainkan > lebih menggunakan istilah harga teoritis. Karena, kalau pakai istilah > target price, seolah2 konotasinya harga teoritis itu adalah harga yang > harus dicapai oleh pasar. Padahal, harga pasar bisa mengandung fear dan > greed, sehingga bisa saja dibawah harga teoritis, bisa saja di atas harga > teoritis. Dampak negatif dari penggunaan istilah "target price" adalah > bila tidak tercapai, lalu investor akan bertanya2 kenapa koq tidak tercapai > angkanya. Kalau sudah tercapai, lalu bertanya2 apakah harus dijual atau di > hold atau bagaimana. Bingung. > > Dengan dua tabel pertama yg saya usulkan untuk dimuat disetiap > laporan/riset, akan membuat investor bisa mengambil keputusan sendiri bila > suatu saat harga teoritisnya sudah dicapai oleh pasar, apakah harus hold > atau jual, karena terkait dengan time frame investasi mereka. Begitu juga > bila belum tercapai, seberapa besar jauhnya dari harga teoritis, sehingga > bisa ambil keputusan, apakah akan avg down atau cukup hold saja, karena > nasabah bisa tahu perkiraan harga teoritis setahun ke depan, 2 tahun ke > depan, bila fear semakin berkurang di pasar. > > Jadi, harapan otoritas bursa agar lahir investor2 seperti LKH (Lo Kheng > Hong) yang berani hold saham sampai tahunan, sampai profit besar, akan > mulai tumbuh sehingga jangan hanya investor2 asing yang dapat banyak cuan, > tapi juga investor2 ritel Indonesia juga bisa dapat banyak cuan dari > pertumbuhan perusahaan di masa mendatang seiring dengan pertumbuhan ekonomi > Indonesia yang lagi bagus2nya ini. Banyak analis yang memperkirakan ekonomi > Indonesia di tahun 2030 akan masuk sebagai 5 besar dunia. Masa sih asing > mulu yg dapat untung dari kenaikan ekonomi ini, sementara investor ritel > kita cuma makan bunga deposito doang? :) > > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > > 2012/10/22 Purcahyadi - <[email protected]> > >> >> >> Mantap bang... Buy, buy n buy..... >> >> thanks atas sharingnya >> >> >> >> 2012/10/22 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >> >>> ** >>> >>> >>> Jakarta, 22 Oktober 2010. >>> >>> Para sahabat saham dan sahabat FB, berikut ini sesuai janji saya akhir >>> minggu lalu, saya kirimkan file PDF atas isi laporan yang mungkin >>> dibutuhkan oleh investor ritel. Jangan fokus pada teknik perhitungan, >>> karena masing2 analis bisa punya teknik perhitungannya sendiri2. Tapi >>> fokuslah pada penyajian tabel 1 dan tabel 2. Sementara untuk tabel 3 >>> hanya pembuktian teknik perhitungan yang sama di masa lalu. Saya taruh >>> di halaman pertama, karena saya perkirakan hal itulah yang menjadi >>> fokus utama dan pertama dari para investor ritel maupun institusi. >>> Bila tertarik, barulah mereka mencoba membaca halaman2 berikutnya >>> alasan2 yang bisa mendukung analisa tersebut. Bila mereka bisa >>> menerimanya teknik perhitungannya, barulah mereka mungkin tertarik >>> untuk investasi sesuai dengan kebutuhan jangka waktu investasi mereka. >>> >>> Investor bisa memiliki time frame investasi yang bisa berbeda2. Ada >>> yang ingin investasi 6-12 bulan (jangka pendek), ada yang ingin >>> investasi 1-3 tahun (jangka menengah), ada yang ingin investasi jangka >>> panjang (> 3 tahun). Dengan memberikan dan menyajikan perkiraan harga >>> saham untuk semua kebutuhan itu, maka laporan/riset atas suatu saham >>> akan memiliki nilai tambah dari fungsinya sehingga memperbesar peluang >>> laporan hasil riset itu bisa disimpan dan dilihat2 kembali oleh >>> nasabah/user sampai ada perubahan atau perbaikan hasil riset karena >>> ada perkembangan informasi dari emiten seperti misal keluarnya laporan >>> keuangan yang baru. Selama hasil lapkeu masih inline dengan ekspektasi >>> sebelumnya, tidak perlu dirubah. Bila ada perubahan yg cukup lumayan, >>> maka perlu dirubah, baik di upgrade atau pun di downgrade harga2 >>> teoritisnya. >>> >>> File yg saya kirim ini masih jauh dari sempurna. Tampilan layoutnya >>> masih kalah jauh dengan layout yg biasa dikirimkan oleh teman2 para >>> analis sekuritas yang bagi saya sudah sangat bagus dan perlu >>> dipertahankan. Hal ini karena fokus saya saat ini bukan di hal >>> tersebut melainkan soal tampilan tabel 1 dan 2 (halaman pertama), >>> selain memang saya kurang mahir urusan mendesign layout. :) >>> >>> Laporan saya juga masih minim narasi, sehingga perlu ditambahkan >>> dengan hal2 yang mungkin bisa bermanfaat bagi nasabah. Silakan >>> dioptimalkan dalam laporan agar menjadi laporan yang penuh fungsi dan >>> manfaat bagi para nasabah. Khususnya terkait soal kinerja emiten >>> belakangan ini dan kemungkinan kinerja emiten ke depannya khususnya >>> bila ada kemungkinan aksi korporasi dari emiten di masa mendatang yg >>> bisa berdampak cukup signifikan ke kinerja keuangan. Biasanya, di >>> perusahaan2 manufacture, sangat terkait dengan capex. >>> >>> Saya memakai pendekatan PER (Price to Earning Ratio) dalam >>> perhitungan, karena bagi saya PER yg paling friendly ke harga pasar >>> karena PER mengandung unsur Price (harga pasar) dan Earning (laporan >>> keuangan/fundamental). Saya tidak pakai pendekatan FCFF (Free Cash >>> Flow to Firm) atau FCFE (Free Cash Flow to Equity) karena bagi saya >>> teknik itu lebih cocok untuk aksi akuisisi/merger. Saya tidak pakai >>> DDM (Dividend Discount Model) karena emiten yg di analisa belum stabil >>> DPR dan labanya sehingga besaran dividend nya masih fluktuatif, tidak >>> sejalan dengan filosofi DDM itu sendiri. >>> >>> Semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi baru bagi lahirnya >>> bentuk2 laporan yang lebih memenuhi fungsi yang diinginkan oleh >>> investor ritel maupun institusi. >>> >>> jabat erat, >>> Irwan Ariston Napitupulu >>> >> >> >> >> > > > > -- Lukman
