Pak Paul, Pak Leo dan Pak Kris....
 
berarti kita punya tantangan yang sama, Saya rasa kita semua harus bertanggung 
jawab.... tentang ini semua. Kalau secara formal (pengurus Wilayah) tidak 
melakukan yah jangan menyerah...kita - kita saja bergerak....mau???????
 
Sudah saatnya kita tidak perlu lama-lama berwacana action saja...
 
semua yang dituturkan secara normatif  betul..tapi actionnya.......
 
Tantangan kaum muda ke depan sangat  berat....selain selametin diri 
masing-masing mereka juga harus siap menjadi ahli waris Gereja.....(kecuali 
murtad).
 
Kita yang sekarang jadi Orang Tua (non Mudika) bantu dong mereka, paling tidak 
mengakomodasi keinginan mereka. Kalau mereka juga nggak punya keinginan 
bangunkan mereka agar mereka sadar bahwa mereka harus punya keinginan...harapan 
harus terus dibuat ada.....(bukan intervensi)..mereka harus militan...kenapa 
Remaja Mesjid mulai Solid ????padahal konsep mereka mengadopsi kita (narsis??)
 
Orang Katolik itu sangat banyak yang pintar tapi tidak peduli dengan 
Gerejanya....(coba lihat militansi kaum muda gereja lain (tak perlu disebut)) 
mereka percaya diri main musik (ngeband meskipun lagu rohani), atau menciptakan 
Teknologi Informasi yang cocok bagi gereja, ....mereka meniru Orang Dewasa 
Katolik sedikit aja jadi "Orang" sudah ditinggalin tuh Gereja. Jadi seakan-akan 
Gereja itu poskonya kaum pengangguran...malah ada yang bangga kalau saking 
sibuknya berbisnis, atau kerja sehingga tak ada waktu alih-alih ngurusin gereja 
pikirannya saja nggak sampai ke sana.....maunya jadi umat biasa..tinggal enak 
saja duduk...komuni....pulang...boro-boro negor ..katanya saudara 
seiman....Munafik semua....
 
Gereja katolik akan bangkrut...lihat saja pola kepemimpinannya contohnya di 
Paroki kita...
(ekstreemm neh).
 
Tapi meskipun Gereja Katolik bubar...Saya akan terus beriman Katolik.....(Apa 
kata dunia ha ha ha.....)

--- On Fri, 6/13/08, Leo Rijadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Leo Rijadi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [StThomas_Kelapa2] Peran Pengurus Wilayah dalam pembinaan kaum muda
To: [email protected]
Date: Friday, June 13, 2008, 4:27 PM








Terima kasih, Pak Paul. Saya jadi ingin ikut nimbrung.

Saya kira kesulitan membina mudika adalah fenomena umum di banyak wilayah.
Dari sudut pandang orang dewasa, mudika itu cenderung tertutup dan malu
berkomunikasi. Hal ini tidak berarti mudika (orang-perorang / pribadi) pemalu.
Bisa saja mereka sangat aktif di sekolah ataupun di klub hobi. Tapi kenapa
kalau sudah dikaitkan dengan kegiatan menggereja (mudika) mereka jadi
enggan?

Pengalaman saya sebagai mantan mudika, mereka kurang menyukai arahan
dari orang dewasa. Mereka ingin diberi kesempatan berkreasi tanpa intervensi,
termasuk risiko keliru sewaktu-waktu. Sebaliknya orang dewasa tidak memberi
kesempatan mudika untuk berbuat kesalahan (maunya serba perfect, gitu).
Orang dewasa juga kurang kreatif dalam urusan menggereja. Apa arti menggereja
bagi orang dewasa? Paling2 cuma jadi pengurus lingkungan, wilayah, DP, doa
rosario, koor.

Orang dewasa punya kesibukannya sendiri2 (kerja). Mudika juga sibuk (kuliah,
sekolah, atau cari kerja). Bagaimana orang dewasa bisa punya waktu berkreasi
pikiran untuk mudika? Bagaimana mudika berkreasi memikirkan nasibnya
sendiri? Kegiatan apa yang cocok untuk mudika (yang menggereja tapi tidak
membosankan) ?

Leo.


----- Original Message ----
From: paul sutaryono <paulsutaryono2004@ yahoo.com>
To: SantoThomas_ [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Wednesday, June 11, 2008 8:28:42 AM
Subject: Re: [StThomas_Kelapa2] Peran Pengurus Wilayah dalam pembinaan kaum muda








Yang Terkasih Rekan-rekan,
 
Senang mengikuti spirit, pesan dan renungan Mas Kristiyono ini.
 
Tetapi rupanya banyak pengurus gereja (a.l. DPP, Stasi, Wilayah dan Lingkungan) 
tidak sempat memberikan tanggapan. Sungguh saya menyadari kesibukan mereka 
masing-masing. Sepi. 
 
Sebaiknya tinggalkan pola pikir (paradigma) lama bahwa Mudika itu tugasnya 
tukang parkir. Tugas itu hampir selalu melekat pada misa-misa besar Natal dan 
Paskah.Hitung saja dari 12 Mudika Wilayah, berapa yang memiliki koor? Mungkin 
hanya Mudika Wil VII Mekarsari, Cimanggis. Bagaimana yang lain?
 
Mudika selain harus mengembangkan diri juga dikembangkan 
oleh Wilayahnya. Bahkan oleh siapa saja yang bersedia. Mudika 
mestinya juga diberi kiat-kiat mengenai leadership (ini memang pernah 
tetapi mestinya terus menerus karena Mudika juga terus berganti), magement 
secara umum, komunikasi, tata nilai, bagaimana membuat surat lamaran yang 
tajam, menarik dan terpercaya, bagaiamana menghadapi wawancara pekerjaan dll 
sebagai bekal mereka untuk memasuki dunia kerja yang sebenarnya.
 
Mudika bukan hanya asyik mengurusi parkir, koor, piknik tetapi juga wajib 
menyiapkan diri menyongsong masa depannya sendiri. Mudika bukan pos nongkrong 
sehingga kalau sudah lulus kuliah ya cari pekerjaan. Mudika bukan 
balai bengong!
 
Monggo ... kita mulai diskusi.
 
Salam sukses,
Paul Sutaryono
 
--- On Fri, 6/6/08, kristiyono <[EMAIL PROTECTED] edu> wrote:
From: kristiyono <[EMAIL PROTECTED] edu>
Subject: [StThomas_Kelapa2] Peran Pengurus Wilayah dalam pembinaan kaum muda
To: SantoThomas_ [EMAIL PROTECTED] ups.com
Date: Friday, June 6, 2008, 1:25 PM







Apakah peran pembinaan dan pendampingan terhadap kaum muda hanya dilakukan oleh 
Seksi Kepemudaan di DPP ?
Apakah Pengurus Wilayah punya peran ?

Bagaimana bisa berperan ? sedangkan organisasi kaum muda (misalnya: Mudika/OMK) 
terpisah dari struktur kepengurusan wilayah ?
Jawabannya tertuang dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Pastoral Paroki 
(DPP) Santo Thomas, BAB IV WILAYAH, Tugas Pengurus WIlayah, halaman 35, huruf 
g, yang tertulis :

"Melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap kaum muda Wilayah (Mudika dan 
Rekat)"
sumber: Buku Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Pastoral Paroki (DPP) Santo 
Thomas - Dewan Pastoral Paroki Santo Thomas 2006
http://akudanomk. wordpress. com/2008/ 06/06/peran- pengurus- wilayah-dalam- 
pembinaan- kaum-muda/

 














      

Kirim email ke