KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (6)
oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Babak Baru Denanyar


Kepulangan ke tanah air itu membawa Bisri Syansuri kepada pilihan
untuk kembali ke desa asalnya di Tayu, ataukah menetap di tempat
kelahiran istrinya. Pilihan itu terjadi tentunya dalam kerangka
permintaan keluarga pihak istrinya itu, yang bertempat tinggal di desa
Tambakberas, Jombang. Sedangkan permintaan itu sendiri mempunyai latar
belakang-kuatnya tradisi mengambil menantu orang pandai di kalangan
keluarga pengasuh pesantren di pedalaman. Sudah tentu untuk memperkuat
posisi kultural mereka dalam pergulatan melawan perluasan budaya
setempat yang non-muslim. Pilihan Bisri untuk menetap di Jombang,
kalau dilihat dari latar belakang ini, adalah bagian dari proses besar
memperkuat (reinforcement) pesantren di pedalaman Jawa terhadap
meluasnya budaya non-muslim sebagaimana mereka tanggapi waktu itu.
Proses yang sampai saat ini pun belum selesai, seperti terbukti dengan
banyaknya calon 'kiai pesisir' yang menjadi menantu 'kiai pedalaman'
di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di Tambakberas, Bisri Syansuri tinggal dua tahun, membantu mertuanya
di bidang pendidikan dan pertanian. Periode tersebut merupakan masa
terakhir persiapannya untuk menjadi kiai yang berdiri sendiri, periode
pengamatan seksama atas kemampuannya membuka pesantren atas tenaga
sendiri dan mengembangkannya tanpa bersandar kepada orang lain. Di
bidang pertanian, diamati secara seksama kemampuannya mengelola sumber
penghasilan sendiri untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Di
bidang pendidikan, pengamatan atas kemampuannya untuk memberikan
pengorbanan yang harus diberikan untuk mensukseskan sebuah 'alat
perjuangan' seperti pesantren. Ternyata ia dinilai (secara tidak
terbuka, tentunya) oleh mertuanya sebagai memiliki kemampuan cukup di
kedua bidang itu. Karenanya, setelah dua tahun di Tambakberas, ia
diberi sebidang tanah di desa lain yang berdekatan, untuk kehidupannya
sendiri dan untuk mendirikan sebuah pesantren.

Dengan demikian lahirlah sebuah pesantren baru, di desa Denanyar, 1,5
kilometer dari kota Jombang arah barat. Sebuah pesantren yang bermula
dari kedatangan sepasang suami istri yang mendirikan rumah mereka,
kemudian sebuah surau untuk memimpin peribadatan di tempat baru itu,
yang tidak lama setelah itu berfungsi sebagai tempat menerima
kedatangan santri yang datang dari tempat lain untuk belajar kepada
pendiri surau itu. Terbentuklah sebuah pesantren dengan kehadiran satu
dua orang santri, dan dengan munculnya santri lahirlah pula seorang
kiai di tengah-tengah masyarakat. Pola klasik yang tetap relevan
dengan keadaan masyarakat di masa itu, dan di banyak tempat juga masih
sesuai dengan kebutuhan masa di alam modern ini.

Desa Denanyar adalah lokasi paling rawan dari setiap kegiatan 'tidak
baik' yang ada di Jombang waktu itu. Letaknya di pinggiran kota, dekat
sebuah pabrik gula dan di tepi jalan negara yang menghubungkan
Surabaya dan Madiun, memberikan warna tersendiri kepada desa tersebut:
kekerasan, terkikisnya nilai-nilai moral yang luhur dan kuatnya
peranan modal pada tingkah laku masyarakat. Bromocorah bersimaharaja
lela, dengan minimal pembunuhan sekali setiap harinya. Perampokan atas
pejalan yang menempuh perjalanan jauh melalui desa itu merupakan
kejadian sehari-hari. Dan besarnya jumlah wanita tuna susila yang
dilokalisir oleh keadaan di tempat itu, kesemuanya merupakan gambaran
pola umum kehidupan di desa tersebut. Medan yang sulit digunakan bagi
tujuan pengembangan ajaran agama, tetapi yang juga merupakan tantangan
menarik bagi pribadi-pribadi luar biasa.

Dimulai dengan kiprah perorangan untuk memberikan contoh bagaimana
agama dapat membawa kepada kesejahteraan hidup bila dilaksanakan
ajaran-ajarannya dengan tuntas. Segera upaya kiai baru di desa
Denanyar itu merupakan permulaan dari sebuah usaha besar, yang belum
selesai gelombang naik turun perkembangannya hingga saat ini.

Kiai Bisri memulai kiprahnya dalam kehidupan dengan kerja di tingkat
lokal pada awal mula kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannya.
Pertama-tama dengan mengatur kehidupan pertaniannya sendiri, untuk
menyangga pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan tersebut. Kemudian
dimulainya upaya mengajar anak-anak para tetangga sekitarnya, sudah
tentu dengan tentangan hebat dari mereka yang tidak menyetujui
usahanya. Pemerintahan desa Denanyar, kalaupun tidak menentang
usahanya itu, paling tidak telah menunjukkan sikap tidak memberikan
perhatian. Hal itu dapat dimengerti, karena para lurah dan perabotnya
di daerah Denanyar dan sekitarnya terkenal sebagai tokoh-tokoh yang
justru membangun kekuasaan mereka karena keberanian yang mereka
tunjukkan dalam pertarungan-pertarungan fisik. Kekerasan adalah bagian
dari latar belakang kehidupan mereka, dan acara hiburan yang tidak
mempedulikan nilai-nilai susila dan keagamaan adalah bagian dari
budaya kekerasan yang mereka anut itu, seperti tayuban.

Menarik sekali untuk dikaji bagaimana Kiai Bisri menghadapi kesemua
tentangan itu dengan pendekatan yang sangat lentur dalam sikap tetapi
tegar dalam pendirian. Santunan yang ditunjukkannya kepada mereka yang
lemah, bukannya dalam bentuk pemberian berlebih-lebihan dan
sejenisnya, melainkan dengan memperlakukan semua orang yang berurusan
dengan dirinya sesuai dengan hak-hak dan kewajiban masing-masing,
lambat laun lalu mengubah pandangan orang terhadap dirinya, terutama
di kalangan elite desa itu sendiri. Ia bukanlah orang yang sekonyong-
konyong datang dengan seruan untuk menjungkir-balikkan semua nilai
kehidupan yang dianut secara umum, melainkan seorang warga masyarakat
yang tidak memisahkan diri dari jalur umum kehidupan. Kalaupun ada
perbedaan moralitas dan nilai yang dianutnya dari apa yang terjadi di
sekelilingnya, itu dilakukannya dengan tidak menghadapkan moralitas
dan nilainya itu secara frontal, melainkan dengan hanya memberikan
contoh bagi mereka yang mau mengikutinya. Kiai Bisri tidak 'menyerang
keluar', melainkan menerima di tempat sendiri mereka yang berkeinginan
mengubah diri secara berangsur-angsur.

Pendekatan ini menghasilkan dua hal sekaligus: mengubah pola hidup
masyarakat sekelilingnya secara berangsur-angsur, dan mengundang
datangnya orang luar desa itu untuk belajar ilmu-ilmu agama darinya.
Murid pertama Kiai Bisri datang baik dari anak tetangga sedesa, di
samping Abi Darda' yang datang dari desa 4 kilometer arah selatan
Denanyar. Keempat murid pertama itu tinggal di surau yang didirikan
Kiai Bisri dalam tahun l9I7, dengan jalan menyekat sebagian ruang
surau itu untuk kamar tempat tinggal mereka. Sistem yang digunakan
masih bersifat sorogan, yaitu bimbingan individual untuk menguasai
teks-teks lama secara bertahap. Pendidikan dengan sistem lama itu
dilakukan Kiai Bisri secara tekun selama dua tahun tanpa ada
tanda-tanda akan dilakukannya cara lain untuk mendidik para santrinya.

Bersambung ke bagian 7...

[*] Dari Buku [KH Bisri Syansuri; Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat]


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h5qt9ta/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705019888:TM/Y=YAHOO/EXP=1122624707/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

* http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * 
http://www.sarikata.net/ * 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke