Kawin Campur Ariel Heryanto HARI gini bukan cuma polio dan busung lapar yang masih bercokol di Tanah Air. Undang-undang kewarganegaraan kita masih tersisa dari zaman gelap. Masih ada istilah orang Indonesia "asli" dan "tidak asli". Dalam perkara kawin campur, perempuan secara turun-temurun menjadi korban ganasnya politik seksual negara yang berjenis kelamin pria.
Perjuangan gigih dan bertahun-tahun dari para aktivis perempuan mulai kelihatan hasilnya. Perlahan-lahan terjadi pencerahan di ruang DPR yang pernah nyaris menjadi arena tinju. Menurut kabar, sejumlah perundang-undangan bermasalah akan segera ditinjau parlemen. Di Jakarta saja setiap tahunnya sekitar 300 orang Indonesia kawin campur. Belum yang di kota-kota lain. Belum terhitung yang di luar Indonesia. Di mana pun mereka berada, hukum di Indonesia hampir selalu menyulitkan pasangan itu untuk tinggal bersama dalam jangka panjang. Persoalan menjadi runyam jika mereka punya anak. Apalagi jika kemudian sang ayah meninggal, kehilangan pekerjaan, atau mereka bercerai. Tuhan memberikan hak tunggal bagi perempuan untuk melahirkan anak dari rahimnya. Tetapi, hukum Indonesia menjungkirbalikkan takdir ini: ia anak si ayah. Jika si ayah seorang WNA, tidak ada jaminan ia boleh menetap lama di Indonesia. Maka anak-anak campuran ini pun tak punya jaminan bisa hidup bersama ibunya. Ternyata bukan hanya jutaan anak yang "di-PKI-kan" selama ini menjadi korban hukum Indonesia. Bukan hanya jutaan WNI yang di-non-pribumi-kan telah menjadi bulan-bulanan diskriminasi nasional. Bukan hanya perempuan yang kawin dengan "PKI" atau "non-pribumi" yang kehilangan hak-hak sipilnya. Kawin dengan orang asing masih tak kalah ngerinya. Yang lebih menakjubkan, betapa butanya kita tentang semua itu. Tahun lalu ketika melawat ke Cile, Presiden Susilo B Yudhoyono menjumpai warga Indonesia di sana. Seorang perempuan dalam pertemuan itu menjelaskan, ia terpaksa menetap di sana ikut suaminya yang orang Cile karena si suami tidak kuat membayar izin tinggal di Indonesia. Ia berharap undang-undang kewarganegaraan kita diubah, khususnya yang menyangkut kawin campur. Sambil menyambut usul itu, Presiden berpaling ke Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, dan bertanya, apa sih isi undang-undang kita soal ini? NUNING Hallett (aktivis yang bertahun-tahun di garis depan menuntut perubahan undang-undang itu) punya cerita lanjutan. Menurutnya, kebingungan serupa ditampilkan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang dijumpainya tahun 2002 dengan usulan perubahan perundangan. Masih menurut Nuning, kebingungan serupa dijumpainya di kalangan pengajar pascasarjana, Kajian Wanita Universitas Indonesia. Saya sendiri merasakan betapa sulitnya menemukan tulisan orang Indonesia tentang kawin campur antarbangsa. Seakan-akan topik ini sama sekali tidak menarik minat orang Indonesia. Kawin campur dipergunjingkan seru bila menyangkut perbedaan suku atau agama di kalangan orang Indonesia sendiri. Seakan-akan orang Indonesia tak punya minat pada orang asing. Aneh kan? Tampang indo (campuran Melayu dan bule) justru merajalela di mana-mana. Lewat iklan, sinetron, film, dan poster film, tampang indo menguasai hampir seluruh ruang publik dan fantasi kita. Banyak yang mengejek kecenderungan ini sebagai gejala rendah diri sebuah bangsa bekas terjajah. Pengen jadi "bule" enggak bisa. Maka jadinya kebule-bulean alias indo. Mungkin ada benarnya, tetapi jelas tidak sepenuhnya. Ini bukan cuma urusan tampang, apalagi kebule-bulean. Banyak yang percaya anak campuran dari bapak-ibu yang berwarna kulit macam apa pun punya kesempatan "nilai lebih", bukan cuma dalam urusan tampang. Nilai lebih itu bisa juga secara mental, emosional, atau intelektual. Anak-anak hasil kawin campur mewarisi dua atau lebih tata dunia dan kebudayaan berbeda. Hal ini juga berlaku untuk anak kawin campur secara kebudayaan atau agama. Anak-anak mereka mendapatkan pencerahan melihat dunia tidak dari satu dimensi. Itu sebabnya perkawinan di antara kerabat dekat dilarang di banyak adat. SEBAGIAN besar puncak-puncak peradaban umat manusia dihasilkan oleh bertemu dan berkawinnya manusia dari dua atau lebih peradaban yang sangat berbeda. Dan sebaliknya, sikap tertutup sebuah bangsa atau peradaban menjadi awal berlangsungnya krisis, kemacetan, dan "bunuh diri" peradaban. Sejak dulu, peradaban yang besar dan maju terletak di daerah pesisir laut atau sungai besar, tempat berlabuhnya lalu lintas manusia dan peradaban yang asing dan unggul. Ujung tombak kreativitas, perintisan dalam peradaban berada di tangan perantau dan petualang yang seumur hidup menghayati artinya menjadi "nonpribumi". Inilah salah satu rahasia kejayaan Amerika Serikat, tanah air besar kaum perantau. Sejarah Indonesia pada hakikatnya adalah sejarah berbentur dan berbaurnya masyarakat-masyarakat adat yang sebelumnya datang merantau dari bagian dunia lain, dengan perantau dari peradaban Hindu, Islam, dan Eropa. Tanpa kehadiran mereka yang disebut belakangan ini entah apa jadinya kita-kita ini. Masa paling kreatif dan dinamis di negeri ini terjadi sekitar dua dekade awal abad ke-20. Di situ lahir dan bertumbuh putra-putri bangsa unggulan. Di saat itu Nusantara menjadi persemaian kawin campur berbagai ideologi, ilmu, dan kebudayaan dunia. Generasi Soekarno-Hatta-Sjahrir fasih dalam beberapa bahasa dunia sekaligus. Masa gelap di negeri kita terjadi bersamaan dengan tertutupnya pintu dan jendela peradaban bangsa di pertengahan abad ke-20. Di mana-mana orang hanya bisa mengucapkan mantra dan propaganda: Pancasila, stabilitas keamanan, pri dan nonpri, unsur-unsur negatif kebudayaan asing, dan kepribadian asli Timur yang adiluhung. Akhiran "kan" diucapkan "ken". * [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hqftiqu/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705019888:TM/Y=YAHOO/EXP=1123564771/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">What would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer in the arts today at Network for Good</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> * http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * http://www.sarikata.net/ * Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
