Cak Nur Setelah Meninggalkan Golkar  

Rabu, 6 Agustus 2003
 
* *
 
Oleh: KH. Abdurrahman Wahid


Doktor Nurcholish Madjid, akrab disebut Cak-Nur, telah membuat pernyataan 
untuk menarik diri dari bursa pencalonan Presiden RI mewakili Partai Golkar 
(PG). Pengumuman itu tentu mengejutkan bagi mereka yang tadinya menginginkan 
Cak-Nur menjadi Presiden RI tetapi bagi penulis, pengumuman itu tidak 
mengejutkan sama sekali, karena ia mengenal dengan baik kedua bidang 
kehidupan politik dan kepemimpinan umat Islam. Penulis lahir ditengah-tengah 
kancah perjuangan politik, terutama yang menimpa Nahdlatul 'Ulama (NU). Jadi 
ia memahami benar, bahwa umat yang beragama Islam atau Non Islam, sebenarnya 
menginginkan Cak-Nur menjadi pemimpin mereka termasuk penulis sendiri. 
Tetapi, pada tahun-tahun belakangan ini terdapat kecenderungan untuk 
menyamakan kepemimpinan dan jabatan.


Penulis menyaksikan sendiri -dari pernyataan lisan dan tidak tertulis dari 
umat itu-, Cak-Nur diharapkan menjadi pemimpin umat. Pendapat itu penulis 
tangkap dari perjalanan terus-menerus berkeliling tanah air, baik ketika 
menemani rakyat yang masih polos maupun para pemimpin dari berbagai 
kalangan. 


Oleh sementara pihak keinginan itu dianggap sebagai keinginan kuat untuk 
menjadikan Cak-Nur sebagai calon Presiden RI melalui PG. Ini mungkin 
disebabkan oleh kenyataan, bahwa PG masih kuat dan tidak memiliki pemimpin 
saat ini, yang ada hanyalah pemegang jabatan penting dalam tubuh partai 
tersebut. Dari kekeliruan anggapan tersebut akhirnya membuat nama Cak-Nur 
termasuk dalam bursa pencalonan Presiden RI dari partai tersebut. Ini sudah 
lama diperhatikan penulis, termasuk bagaimana tokoh-tokoh "manipulator 
politik" ditubuh partai itu "menangkal" keinginan mencalonkan Cak Nur dari 
beberapa kalangan itu.


Namun Cak-Nur membiarkan hal itu terjadi, yang belum jelas bagi penulis 
adakah ia memahami manipulasi atas dirinya dan atas gagasan mulia tersebut, 
untuk pada akhirnya dihadang dengan manipulasi dalam pemungutan suara di 
tubuh partai itu, di dalam mekanisme konvensi partai itu. Pengumuman 
pengunduran diri Cak-Nur dari pencalonan telah terjadi. Dan yang jelas, 
tokoh kita itu ternyata mengetahui bahwa antara jabatan kepresidenan dan 
kepemipinan umat tidak selalu berjalan seiring. Pengetahuan ini yang 
dideteksi penulis ada dalam diri Cak-Nur, hal ini merupakan hal yang sangat 
mengembirakan, terlepas dari siapa yang menjadi Presiden RI hasil pemilu 
kepresidenan yang akan datang. Umat boleh bergembira karena mereka tidak 
kehilangan kepemimpinan Cak-Nur.


*****
Seorang pemimpin akan tetap ada, apapun kedudukan dan jabatan yang 
disandangnya. Dan sebuah umat atau bangsa memerlukan bukan seorang pemimpin 
saja, guna menjaga agar persaingan tetap terbuka dan pilihan-pilihan tetap 
ada bagi umat. Persaingan itulah yang akan membesarkan umat atau bangsa yang 
bersangkutan. Dari kitab suci Al-Qur'an menyatakan: "Tiap kelompok hanya 
berbanga dengan apa yang ada dalam dirinya" (*Kullu hizbin bima ladayhi 
fariun*), jelas sekali bahwa Allah justru menghendaki persaingan bukannya 
sikap membenarkan diri sendiri yang ada di setiap kelompok. 
Dapatlah kiranya tindakan Cak-Nur yang menarik diri dari pencalonan di atas, 
kemudian kedewasaan sikap politik yang ditujukan oleh calon-calon Gubernur 
yang dikalahkan baru-baru ini (Ace di Banten, Tarmidi di DKI, Mardijo di 
Jawa Tengah dan A. Kahfi di Jawa Timur), dijadikan budaya politik baru 
kehidupan kita sebagai bangsa di masa-masa yang akan datang. Karena mereka 
tidak menggunakan kekuatan fisik untuk memenangkan diri sendiri, melainkan 
membiarkan proses demokratisasi berjalan menurut relnya di negeri ini. Sikap 
itu sama dengan keputusan penulis untuk membiarkan diri dilengserkan oleh 
MPR-DPR yang kotor, karena percaya bahwa akan ada perbaikan dan koreksi dari 
tubuh bangsa ini sendiri. Di samping mekanisme pemilihan langsung calon 
Kepala Daerah (Gubernur, Bupati dan Walikota) oleh rakyat, konsekwensi dari 
sikap tokoh-tokoh tadi adalah tumbuhnya demokrasi di negeri kita.


Penulis sangat bergembira dengan kepemimpinan Cak-Nur atas umat ini, dan hal 
ini sangat berarti bagi bangsa ini. Dengan cara tidak memaksakan kehendak 
kepada proses sejarah, kualitas kepemimpinan Cak-Nur menjadi bertambah 
semarak, dan perananya bagi pembinaan sistem politik baru di negeri ini 
untuk masa depan menjadi sangat besar. Apa yang diucapkannya tentang 
demokrasi negeri ini akan memiliki gaung lebih besar dibandingkan jika ia 
sebagai Presiden RI. Penulis merasa bangga jika diingat ia adalah bagian 
dari umat Islam, lebih tepatnya bagian dari gerakan Islam di negeri ini, 
ditambah lagi bahwa Cak-Nur dan penulis berasal dari daerah yang sama yaitu 
dari Jombang.


*****
Mungkin banyak orang bersedih hati akan penarikan diri tersebut, yang mereka 
anggap sebagai "kekalahan". Namun sebenarnya kita harus memperluas pandangan 
mengenai hal ini. Siapapun yang akan menjadi Presiden RI nantinya, jelas 
tempat Cak-Nur telah terukir dengan tinta emas dan tidak akan terhapus dalam 
sejarah politik bangsa kita. Apapun ambisi pribadi yang meliputi proses 
pencalonan Cak-Nur yang kemudian dibatalkannya itu, tidak mengecilkan arti 
Cak-Nur dalam pandangan bangsa ini, termasuk dalam pandangan penulis. Tidak 
perlu kita risaukan proses yang telah terjadi karena akan tetap terjadi, 
jika demokratisasi benar-benar terwujud di dalam kehidupan bangsa kita, hal 
itu hanyalah kembang-kembang kecil di mata bangsa ini di masa mendatang.


Jadi persoalan pokoknya adalah proses demokratisasi itu sendiri. 
Ambisi-ambisi harus disesuaikan dengan kebutuhan melihat tumbuhnya proses 
demokrasi itu sendiri dengan baik dan lurus. Kalau dilihat dari sudut 
pandang ini, maka yang terpenting bagi kita adalah mengusahakan agar 
kejujuran dan keterbukaan dapat berdiri tegak dalam kehidupan bangsa di masa 
depan. Pembentukan budaya politik demokratis baru bagi bangsa kita dimasa 
depan adalah ukuran satu-satunya yang harus kita pakai dalam menilai peranan 
seseorang. Ukuran-ukuran yang mengacu kepada kepentingan pribadi belaka 
hanyalah akan bersifat temporer. "Kesadaran sejarah" seperti inilah yang 
ingin penulis lihat berkembang dengan baik di negeri ini. Untuk itu penulis 
sangat menghargai keputusan-keputusan penting bagi kepentingan demokrasi 
bagi bangsa ini seperti yang diambil Cak-Nur, karena ini merupakan 
"sumbangan" seorang pemimpin kepada bangsanya.


Inilah yang harus diperhitungkan dalam jangka panjang, bukannya orientasi 
institusionalistik yang bertentangan dengan demokrasi. Dengan kata lain, 
dalam kasus pengunduran diri Cak Nur, kultur/ budaya politik telah menang 
atas proses institusionalisasi tersebut, yang oleh sementara kalangan 
dianggap sebagai "jawaban" atas krisis-multidimensi dan berbagai tantangan 
yang dihadapi bangsa kita saat ini. Karena keseimbangan antara 
institusionalisasi dan kultur harus kita capai. Sebuah hal yang mudah 
dikatakan tetapi sulit diwujudkan. 


Jakarta, 30 Juli 2003

*Penulis adalah Ketua Umum Dewan Syura PKB

*(Kedaulatan Rakyat, 2/08/2003)*


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke