>Assalamualaikum wr wb
>***********************
>
> Kini giliran Syafii Maarif (beliau punya jatah
> memang) untuk berbual dikoran Republika dan kali ini
> saya forward jugalah untuk para sahabat semua.
> Syusyah jadi orang macam saya..untuk diam bungkam,
> padahal saya sudah bersumpah untuk tidak bicara dan
> mengforward apa apa di milis apapun, tapi sang
> tangan gatal saja.
>
> Anyway, sambil menikmati dinginnya Autum,
> memerangi kantuk dan suntuk membenahi obsatcles yang
> tangah kami alami, merentang tangglednya benang
> kusut ..saya iseng baca koran..ah menyentil nuraniku
> lagi..kebetulan urusan yatim lagi..jadilah saya
> forward.
>
> Mungkin ini upaya pak Syafii dalam berNahi mungkar
> lewat bualan/tulisan baik yang teguran halus atau
> langsung kadang sarkasme nya muncul untuk
> mengingatkan kepada para elite yang katanya sudah
> miskin dan kering nurani..
>
> Dan ditangan para Ulamalah atau Ulamalah yanga
> ditanya nomro 1 dihari pengadilan nanti bukan - iiih
> seremnya ! Tentu yang ditanya upayanya berNahi
> munkar mengingatkan sang penguasa dinegeri dimanapun
> kita berada.Allahu alam.
>
> Maaf buat yang tidak berkenan atau yang sudah
> membacanya.
>
> Seperti biasa terenyuh membacanya..
>
> wassalam,
>
> http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19
> Puisi Murid SD Kelas V
> ******************************************
> Oleh : Ahmad Syafii Maarif
> ************************************
>
> Tanggal 28 Oktober 2005, bertepatan dengan tanggal
> Sumpah Pemuda, lagi saya menerima SMS dari seorang
> pengusaha pribumi yang lain, Muhammad Deddy
> Julianto. Isinya adalah puisi Nurjannah, murid SD
> kelas V Inpres dari sebuah sekolah di Jawa Tengah.
> Bagi saya isinya sangat menyengat dan tajam sekali
> menggambarkan jurang pemisah antara si kaya dan si
> miskin. Tentu kita tidak boleh membuat generalisasi
> tentang kondisi yang pincang itu, tetapi sebagai
> gejala umum puisi itu telah membidik sasarannya
> dengan jitu sekali.
>
> Saya turunkan secara utuh dengan sedikit
> modifikasi tata letak, tanpa mengubah isinya sama
> sekali.
>
> RAKYAT KECIL
> Pasti kecil orangnya
> karena kurang gizi.
> Pasti kecil dapat duitnya,
> pasti kecil tempat tinggalnya,
> pasti kecil keinginannya,
> pasti kecil bohongnya,
> pasti besar imannya,
> dan besar di mata Tuhan.
> Beda dengan
> PEMBESAR
> Pasti besar orangnya,
> pasti besar dapat duitnya,
> pasti besar rumahnya,
> pasti besar keinginannya,
> pasti besar kantong bajunya,
> pasti besar bohongnya,
> pasti kecil imannya,
> dan kecil di mata Tuhan.
> Dan aku lapar sekali.
>
> Baris terakhir 'aku lapar sekali' sungguh menusuk.
> Bukankah sudah ada di antara temannya di SD yang
> lain yang menggantung diri karena tidak mampu bayar
> SPP? Bukankah pula jumlah rakyat yang busung lapar
> sekarang sudah mencapai angka 663 ribu, dibandingkan
> dengan 175 ribu di akhir tahun 2003? Bagi saya
> seorang anak SD dengan tembusan mata batinnya yang
> luar biasa seperti terbaca dalam puisinya itu,
> apakah belum cukup juga mampu menggugah nurani kita
> semua? Dalam sebuah forum saya memang pernah
> menuturkan:
>
> Yang lumpuh adalah hati nurani
> Yang lumpuh adalah akal sehat
>
> Jika kondisi moral dan mental bangsa ini pada
> umumnya memang sudah demikian parah dan batin kita
> sudah tidak bisa lagi menangkap gelombang jeritan
> rakyat kecil, maka upaya perbaikan bangsa ini tidak
> bisa lagi dengan angka-angka APBN yang diotak-atik
> melalui kenaikan BBM. Kita harus terjun ke akar-umbi
> budaya Indonesia modern yang tampaknya telah
> kehilangan kepekaan nurani. Betul, orang baik masih
> kita temui di mana-mana, tetapi jumlahnya sudah
> semakin menyusut.
>
> Para idealis masih kita jumpai di berbagai unit
> kerja, tetapi untuk sebagian besar, sekali posisi
> basah dipegang, idealismenya langsung mati suri.
> Oleh sebab itu, semboyan SBY-Kalla dalam Pemilu
> 2004: "Bersama kita bisa", harus dibawa turun ke
> bumi dengan kesediaan berjibaku memperbaiki keadaan,
> jangan dibiarkan menggantung di awang-awang, sebab
> risikonya akan sangat berbahaya bagi eksistensi
> bangsa secara keseluruhan. Tunjukkanlah pola hidup
> sederhana kepada rakyat ini secara jujur, terbuka,
> dan tanpa basa-basi.
>
> Kita malu, sebab Indonesia adalah sebuah bangsa
> Muslim terbesar di muka bumi, tetapi inilah pulalah
> realitas pahit yang terpampang di koran, diberitakan
> di radio dan tv, hampir setiap hari, setiap malam.
> Salah satu surat Alquran yang diturunkan di Makkah
> yang pernah sangat meresahkan Ahmad Dahlan, pendiri
> Muhammadiyah, adalah kritik telak Kitab Suci itu
> terhadap sikap hidup para elite kota itu, sekalipun
> dikemas dalam bentuk mufrad; kita kutip artinya:
> "Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah
> dia yang menghardik anak yatim [membiarkannya
> terlantar]. Dan tidak menganjurkan [berupaya melalui
> kebijakan negara misalnya] untuk memberi makan orang
> miskin." (S 107: 1-3). Jadi, pendusta itu boleh jadi
> dialamatkan kepada kita ini semua, kita yang tidak
> hirau dengan nasib rakyat kecil, seperti yang
> terlukis dengan amat gamblang dalam puisi di atas.
>
> Jumlah masyarakat miskin di Indonesia bahkan
> bertambah dari hari ke hari. Tentu bukan semata-mata
> karena kelalaian manusia, sekalipun faktor itu jelas
> lebih dominan. Ada bencana alam bertubi-tubi yang
> melanda, di samping konflik sosial yang masih saja
> meledak sewaktu-waktu. Ada pula perbuatan teror yang
> dilakukan oleh mereka yang telah mati rasa, mati
> kemanusiaannya. Semuanya ini adalah tantangan yang
> datang silih berganti, sementara aparat kita belum
> juga berhasil menangkap otak pengebom.
>
> Paling-paling dikatakan: "Oh, sianu baru saja
> berada di desa anu." Jadi, yang ditangkap adalah
> jejaknya, bukan orangnya. Intel kita telah dimainkan
> penjahat dengan cara-cara yang sangat memalukan.
>
> Sinisme mengatakan: "Inilah sebuah negeri yang
> tidak bertuan." Sebuah negeri yang elok, terletak di
> ikat pinggang khatulistiwa, tetapi dihuni para
> penjahat berdasi, sebagiannya mengaku sebagai wakil
> rakyat via pemilu yang dikatakan bagus itu. Apakah
> kondisi Indonesia ini memang sudah "beyond help"
> (tidak bisa ditolong), sebagaimana alm S Tasrif
> pernah menyemburkan? Saya rasa masih bisa, tetapi
> harus bergerak sekarang juga, dipimpin oleh
> SBY-Kalla. Terlambat berarti malapeta.
> "Ya Allah, aku sungguh memohon cinta-Mu, cinta
> orang-orang yang
> mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat
> menghantarkan aku pada cinta-Mu".
>
**********************************************************XXXXX
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.
Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/