KH. Wahid Hasyim
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Sewaktu terjadi perombakan kabinet dan nama Wahid Hasyim tidak tercantum
lagi dalam daftar nama anggota kabinet baru, beberapa orang tampak kecewa.
Padahal yang bersangkutan cuek saja. Ketika mereka bertemu dengan KH. Abdul
Wahid Hasyim, kekecewaan itu langsung ditumpahkan kepadanya.

"Kami merasa kecewa karena Gus Wahid tidak duduk lagi di kabinet," kata H.
Azhari.

 "Tak usah kecewa. Saya toh masih bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak
kursi dan bangku panjang. Tinggal pilih saja," jawab KH. Abdul Wahid Hasyim
sekenanya sehingga mengundang tawa yang hadir.

 "Tapi kami tetap menyesal karena pemimpin kita tidak dipakai oleh
pemerintah...," ujar H. Ichwan. "Kalau tidak dipakai oleh negara, biarlah
saya pakai sendiri...," sekali lagi KH. Abdul Wahid Hasyim menjawab dengan
santai dan penuh humor. Suara tawa kembali meledak.

 "Kenapa ya, menjadi menteri kok cuma sebentar?" tanya H. Azhari masih
penasaran.

 "Lho, kalau kita mengantarkan jenazah ke kuburan, pembaca talqin itu
kanselalu mengingatkan kita,
*"Wa mal hayatud-dunya illa mata'ul ghurur"**[1]*. Memangnya orang menjadi
menteri untuk selamanya?" jawab KH. Abdul Wahid Hasyim. Kali ini dengan nada
sedikit serius, menggunakan *i'tibar* yang pas.

 Pada tahun 1939 NU masuk menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la
Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam. Setelah masuknya
NU ke dalam federasi ini, dilakukan reorganisasi dan saat itulah KH. Abdul
Wahid Hasyim, wakil NU terpilih menjadi ketua MIAI.

 Selaku pimpinan Masyumi, Wahid Hasyim merintis pembentukan Hizbullah
sebagai sayap "militer" yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan
kemerdekaan. Rencana pembentukan Hizbullah semula hampir urung. Banyak pihak
yang mencurigai kehadirannya dalam membantu Perang Asia Timur Raya. Tapi KH.
Abdul Wahid Hasyim, atas nama pimpinan Masyumi waktu itu, terus gigih
memperjuangkan pembentukan Hizbullah hingga akhirnya berhasil.

Ketika Jepang masuk, KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Ketua Majelis
Syuro Muslimin Indonesia. Selain mengadakan gerakan politik di kalangan umat
Islam, melalui Majelis ini Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di
kalangan umat Islam. Tahun 1944 dia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di
Jakarta yang pengasuhannya ditangani oleh KH. A. Kahar Muzakkir.

 Perhatiannya kepada dunia pendidikan sangat besar. Sewaktu menjadi Menteri
Agama pada tahun 1950 Wahid Hasyim mengeluarkan peraturan berdirinya
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN itu.

Dalam sebuah kesempatan pidato di depan majelis pengajian NU di Banyumas,
KH. Abdul Wahid menceritakan ihwal keluarnya KH. Hasyim Asy'ari dari tahanan
Jepang. Menurut Abdul Wahid, banyak orang dengki dan tukang fitnah berusaha
menyusahkan NU dan menyengsarakan Hadhratusysyaikh. Karena Allah menghendaki
lain, maka sia-sialah usaha mereka. Malahan kini, sekeluarnya
Hadhratusysyaikh dari tahanan, beliau diberi kompensasi oleh Pemerintah
Jepang untuk menjabat Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Ini merupakan
kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan
merasa salah langkah menghadapi umat Islam.

 Mendapat tawaran itu KH. Hasyim Asy'ari menerima dengan catatan, mengingat
usia yang sudah uzur dan dia harus mengasuh pesantren sehingga tidak mungkin
kalau harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, dia mengusulkan
agar tugasnya sebagai Shumubucho diserahkan kepada Abdul Wahid Hasyim,
puteranya.

Taktik ini sengaja dilakukan KH. Hasyim Asy'ari untuk menghindari jangan
sampai Nippon tersinggung atau menjadi curiga terhadap KH. Hasyim Asy'ari.
Memang serba sulit posisi waktu itu. Jika tawaran ini diterima, kemungkinan
akan menimbulkan fitnah, disamping kenyataannya usianya sudah uzur. Jika
ditolak, jelas akan mendatangkan kecurigaan di pihak Nippon.

 Keputusan KH. Hasyim Asy'ari ternyata merupakan sebuah sikap yang sangat
brilian dan memiliki implikasi jauh sekali. Dengan keputusan itu, keinginan
Jepang terpenuhi sehingga tidak menimbulkan kecurigaan politik. Selain itu,
rupanya secara tidak langsung KH. Hasyim Asy'ari juga sedang melakukan
kaderisasi kepemimpinan level nasional kepada Abdul Wahid Hasyim. Melalui
proses inilah mulai terlihat kelas kepemimpinan Abdul Wahid Hasyim yang
sesungguhnya.

Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim, sebenarnya dengan keputusan seperti itu
ayahnya ingin memberi contoh keteladanan kepada generasi muda bahwa
pengertian bijaksana bukanlah menjatuhkan pilihan terhadap sesuatu yang
benar dan yang salah, atau terhadap sesuatu yang baik dan yang buruk.
*Bijaksana
adalah kemampuan seseorang menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang
sama-sama salah atau sama-sama buruk, tetapi kondisi mengharuskan untuk
memilih salah satunya*.

 Dalam kesempatan itu dia menjelaskan panjang lebar kisah penahanan
Hadhratusysyaikh dan politik kompensasi yang dijalankan Jepang. Insya Allah
dalam waktu tidak lama lagi banyak kyai yang akan menduduki Kepala Jawatan
Agama di daerah-daerah. *"Mudah-mudahan Jawatan Agama itu tidak menjurus
menjadi Jowo tan Agomo, Jawa tanpa agama,"* ujar KH. Wahid Hasyim
berseloroh. (Redaksi)

 Dari *"KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU"*, Editor: *Saifullah
Ma'shum*, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke