Sederhana yang Tak Sederhana
Oleh: KH A. Mustofa Bisri


"Dasar-dasar pendirian faham keagamaan Nahdlatul Ulama tersebut menumbuhkan
sikap kemasyarakatan yang bercirikan pada: a. Sikap tawassuth wal i'tidal.
Sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi
keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama.
Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan menjadi kelompok panutan yang
bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari
segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrem)....". (Khitthah
Nahdlatul Ulama, Sikap Kemasyarakatan Nahdlatul Ulama)

Di tengah-tengah masyarakat yang telanjang, misalnya, dan Anda sendiri dapat
mempertahankan sikap menutup aurat, maka pastilah itu karena rahmat Allah.
Di tengah-tengah masyarakat yang memuja materi, Anda masih tegar
menganggapnya budak Anda, pastilah Anda masih dirahmati Allah.
Di tengah-tengah orang-orang yang marah, Anda dapat bersabar dan tidak
kehilangan nalar, adalah pertanda Anda dirahmati Allah. Di tengah-tengah
ramainya orang dikuasai nafsu, Anda masih mampu menguasainya, pastilah Anda
hamba yang mujur dan wajib bersyukur.....
Di tengah-tengah masyarakat yang bersikap berlebihan, Anda masih istiqamah
bersikap adil, tawassuth wal i'tidal, tengah-tengah atau sederhana dan
jejeg; maka apa pun kedudukan dan status Anda, Anda adalah orang NU sejati.
Atau paling tidak, Anda adalah orang NU yang memahami dan menghayati
Khitthah. Sesuatu yang semakin sulit difahami banyak orang di negeri ini.

Tidak perlu saya ingatkan kembali tentang seringnya Rasulullah SAW
mewasiatkan sikap tawassuth. Sikap sederhana yang ternyata –utamanya di
masa-masa sekarang ini– tidak sederhana bagi kebanyakan kita. Justru
kebalikan sikap itulah yang agaknya dewasa ini nyaris seperti ciri bangsa
kita. Sikap berlebihan.
Boleh jadi 'pendidikan' selama puluhan tahun telah membuat kita menjadi jauh
dari khitthah kita sendiri. Kita dididik mencintai dunia secara berlebihan;
mengejar kepentingan secara berlebihan; mencintai diri sendiri atau kelompok
sendiri secara berlebihan; meyakini pendirian sendiri secara berlebihan;
dst. Berlebihan yang benar-benar berlebihan; karena mencintai dunia dan diri
sendiri itu, misalnya, sudah sampai membuat yang bersangkutan tega menyikut
dan menyerimpung saudaranya sendiri. Meyakini pendirian sendiri, seberapa
pun kuatnya, tak ada salahnya bahkan mungkin itu baik. Tapi jika keyakinan
itu sudah sampai mendorong yang bersangkutan kepada tindakan memaksakan
apalagi sampai membuat madlarat kepada pihak lain, itu sudah keterlaluan.

Suatu kezalim yang hanya membuktikan kepicikan dan merusak pergaulan hidup
masyarakat beradab. Allah telah berkali-kali mencontohkan bahwa memaksakan
kehendak hanyalah mengingkari kekuasaan dan keperkasaanNya. Nabi Nuh dan
nabi Luth tidak (mampu) memaksakan keimanan sekalipun kepada istri-istri
mereka. Firaun tidak bisa memaksakan kekufuran dan kefasikannya kepada
isterinya. Bahkan Rasulullah SAW –dengan kearifan dan kelembutannya pun–
tidak mampu memaksakan keimanan kepada pamannya sendiri Abu Lahab!

Lebih parah lagi, kalau pun ada pemimpin yang menganjurkan kesederhanaan dan
sikap tawassuth, tidak disertai contoh keteladanan, malah dia sendiri justru
bersikap berlebihan juga. Mereka yang ingin 'melawan' keberlebih-lebihan
pun, sering kali tanpa sadar juga bersikap berlebih-lebihan. Bin Laden dan
Al-Qaidah yang melawan pemerintah Amerika dan Israel yang berlebihan dan
tidak adil, melakukannya dengan berlebihan pula. Ekstrem dilawan ekstrem. Di
kita sendiri, ingat, waktu rezim Suharto ingin melawan 'ekstrem kiri'
(berlebih-lebihan ke kiri); tidak saja dengan menggunakan trik-trik yang
berlebih-lebihan, tapi juga menggunakan alat 'ekstrem kanan'. Kini ketika
pemerintah hendak 'melawan' kelompok yang mereka anggap ekstrem –yang sering
disebut Islam Radikal– juga tampak berlebih-lebihan (Lihatlah; orang setua
Baasyir diperlakukan seperti itu, padahal yang lebih muda seperti Akbar dan
Tommy justru diperlakukan lebih halus. Bahkan kabarnya mau salat Jum'at saja
Baasyir dilarang. Ini keterlaluan!). Mau contoh lagi? Ulil cs yang mau
melawan pemikiran kalangan Islam yang dianggapnya jumud berelebih-lebihan,
juga bersikap berlebihan. Berlebihan dilawan berlebihan. Ibarat api dilawan
api, bukannya akan padam malah kemungkinan besar malah akan semakin berkobar
nyalanya.

Akhirnya; ingin sekali saya mengajak saudara-saudaraku kaum muslimin yang
memiliki Quran, untuk sering-sering membaca surat Hujuraat (minimal sesering
membaca surah Yasin) dan mengulang-ulang ayat ini: "Yaa ayyuhalladziina
aamanuu kuunuu qawwaamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi walaa yajrimannakum
syana-aanu qaumin 'alaa alla ta'diluu; i'diluu hua aqrabu littaqwaa;
wattaqullaha innallaha khabiirun bimaa ta'lamuun." (Q. 5: 8). "Wahai
orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak-penegak kebenaran lillah
(bukan karena fanatisme golongan, nafsu, kebencian dan lainnya. Semata
karena Allah!); menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum (menurut kebanyakan mufassir, 'kaum'
disini adalah kaum kafir. Apa pula dengan kaum yang bersyahadat?)
mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah! Berlaku adil itu
lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan."
Nah, kiranya hanya kebiasaan berlaku i'tidal dan tawassuthlah yang dapat
memudahkan orang berlaku adil dan istiqamah. Wallahu a'lam. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]



Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke