MERDEKA
Oleh: Ofita P

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Aku baru saja selesai shalat ashar
setelah seharian meronce bendera-bendera kertas. Rumahku masih berantakan
seperti kapal pecah. Tumpukan bendera, benang dan gunting bertebaran di
mana-mana. Sekarang sudah saatnya memasang bendera-bendera itu di depan
rumah. Kuangkat kursi kayu yang ada di sudut rumah untuk pijakan, lalu
kupasang bendera-bendera itu menghiasi wajah rumahku.
"Berkibarlah benderakuÂ…", aku menyanyi.
"Ah, itu kan hanya bendera!" , tukasnya cepat.
"Tapi bukankah bendera itu simbol? Simbol kemerdekaanmu?"
"Merdeka dari apa?"  Wajahnya tampak sendu.
"MERDEKA DARI PENJAJAHAN!", jawabku dengan penuh semangat.
"Penjajahan apa?" Dia memonyongkan bibir
"Segala bentuk penjajahan!"
"Kalau itu katamu, maka aku tak pernah merdeka.."
Aku tak mengerti. Kupandangi dia tajam-tajam. Kupasang telinga menunggu
kata-kata selanjutnya.  Dia diam. Wajahnya masih sendu. Rasanya sudah
bertahun-tahun aku tidak melihatnya bergembira. Selalu sendu.
Aku mendesis, "Bukankah kau tak lagi dijajah oleh negara lain?"
"Apakah itu membuatku jadi merdeka?", dia balas bertanya.
"Ya"
"Tidak."
Sekali lagi jawabannya membuatku tak mengerti.
"Lalu apa yang membuatmu merdeka?"
"Tidak ada"
Aku tak percaya. Dia begitu pesimis!
"Bukankah kau sudah bebas dari penjajahan Portugis, Belanda, Inggris dan
Jepang?  Mengapa kau tak mau mengakui kemerdekaanmu sendiri? Mengapa kau
berputus asa dan beranggapan tak ada yang dapat membuatmu merdeka?"
"Memang begitu"
"Lalu.. mengapa?.. Kau sekarang sudah bebas kan?  Tak ada tekanan dari
negara lain?"
"Ya"
"Lalu?"
"Apakah itu membuatku merdeka?"
Ah! Aku mendecak kesal. Menjengkelkan!
"Kau memang menjengkelkan, Indonesiaku.  Bagaimana kau akan merdeka jika
dirimu sendiri tidak mau merdeka?"
"Apakah kau betul-betul menginginkan aku merdeka?"
"Ya, tentu saja!"
"Jika aku merdeka, apakah aku bisa berbuat apa pun yang kuinginkan?"
"Ya!  Kau bebas berbuat apa pun, tanpa tekanan dari pihak lain."
"Jika demikian, bukankah aku kembali jatuh dalam penjajahan?"
Aku bingung.
"Penjajahan apa?"
"Penjajahan oleh diriku sendiri, oleh nafsuku.."
Aku mengernyit.
"Penjajahan oleh bangsaku sendiri, oleh nafsu mereka..", kau menekankan.
Sendiku terasa melemah.
"Kau dijajah oleh nafsu bangsamu sendiri?"
"Ya."
"Bagaimana jika bangsamu diatur agar tak mengumbar nafsunya?"
"Aku akan terjajah oleh aturan itu"
Benar juga kata-katanya. Setiap kali dia bebas dari satu penjajahan, dia
akan masuk dalam penjajahan lainnya. Aku memandang wajahnya yang sendu
dengan pandangan yang sendu pula.
"Apakah itu berarti kau takkan pernah merdeka?"
"Ya.", katanya mantap.
Rupanya Indonesia memang tidak mungkin merdeka. Mau tak mau aku harus
menerima itu.
"Tapi yang terakhir itu lebih baik kan? "
"Jatuh dalam penjajahan aturan? Selama aturan dibuat tanpa mengumbar
nafsu, selama aturan itu dibuat berdasarkan kebaikan dan keadilan, itu
jauh lebih baik!"
Aku diam.
Dia diam.
"Lalu bagaimana dengan 17 Agustus ini? Perlukah dirayakan?"
Dia tertawa geli,"Mereka butuh hiburan di sela-sela rutinitas, buatlah
mereka terhibur"
Aku tersenyum kecil. Dia membalas senyumku. Senyum pertama yang kulihat
setelah bertahun-tahun. Indah sekali!
"Kalau begitu aku akan segera menyiapkannya."
Aku beranjak. Kegiatan lomba-lomba di lapangan sebelah rumahku sudah
hampir dimulai. Lagu-lagu perjuangan berdentam dengan penuh semangat
menyaingi keributan anak-anak kecil yang berkumpul untuk mengikuti lomba.
Wajah-wajah ceria itu.. Tak tahukah mereka bahwa Indonesia tak pernah dan
takkan pernah merdeka? Tapi, seperti kata Indonesiaku, mereka layak
mendapatkan hiburan sekali dalam setahun.
Aku mengambil mikrofon dan mulai memanggil para peserta lomba untuk
berbaris. Sayup-sayup kudengar suaranya, bergema dalam benakku,
"TAPI JANGAN MENGUMBAR NAFSU!"
"Ya. Selamat Ulang Tahun Proklamasi, Indonesiaku."

Solo, Agustus 2006


[Non-text portions of this message have been removed]



Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke