ANDAI PAHLAWAN
Oleh: Harsutejo
Andaikata ia mati ketika itu ia pun akan jadi pahlawan bangsa dan dimakamkan
di suatu Taman Pahlawan, bertabur bunga dan kehormatan. Begitulah kelakuan
sebagian hidup manusia adanya. Tiga buah truk anak sekolah menengah laki
perempuan dan sejumlah pemuda sedang terengah-engah melewati perkebunan kopi
yang di sana sini rusak diterjang lahar serta muntahan bebatuan Gunung
Kelud. Nyanyian Sorak-Sorak Bergembira, Halo-Halo Bandung dan beberapa lagu
mars lain lantang terdengar sepanjang perjalanan wisata itu. Tiap kali truk
oleng agak lebih keras Kang Brayat yang secara tak resmi memimpin truk nomor
dua sebagai pemuda tertua berteriak kepada sopir agar lebih hati-hati.
Bahkan ia sempat marah-marah kepada teman-teman karena mereka tetap saja
menyanyi-nyanyi hingga teriakannya tenggelam dalam kegembiraan anak-anak.
"Adik-adik semua diam!" Beberapa anak masih tetap bernyanyi.
"Diam saya bilang! Pak Sopir, harap jalan lebih hati-hati. Lihat itu di kiri
jurang. Kalau tidak kita berhenti di sini dan kembali." Beberapa anak
menggerutu dengan ulah Kang Brayat yang kami anggap berlebihan itu,
kendaraan telah berjalan dengan cukup hati-hati tanpa dikomandonya. Bahkan
seorang teman menimpali setengah berbisik,
"Kalau takut jangan ikut."
"Apa? Takut? Tutup mulutmu! Ketika kamu masih ingusan saya sudah ikut
perang. Saya mengalami pertempuran Surabaya. Jangan bicara sembarangan."
Rupanya jebolan serdadu jaman revolusi itu benar-benar tersinggung.
"Kita tidak bakalan bertempur melawan Gunung Kelud. Paling dia bertempur
melawan ketakutannya sendiri, hik hik." Suara itu lirih di dekat telingaku.
Aku menoleh ke arahnya dengan mata melotot agar ia tidak mencari gara-gara.
Lalu mulailah perjalanan kaki yang harus ditempuh lewat jalan setapak,
lereng terjal dan bibir jurang. Beberapa kilometer menjelang kawah tak ada
sepotong pohon pun, semuanya hangus tercerabut dihanyutkan lahar. Bahkan tak
tertinggal sepotong rumput pun. Gunung gundul, bebatuan yang dimuntahkan
kawah, debu. Dengan begitu dasar jurang nampak nun jauh sepanjang mata
memandang. Aliran sungai nampak putih berliku diapit lereng abu-abu. Kami
berjalan hati-hati menuju kawah yang semakin dekat kian nampak menganga
garang itu.
Kang Brayat yang memimpin rombongan kami nampak ragu untuk meneruskan
perjalanan. Ia berhenti, beberapa orang ikut berhenti sekedar mengikuti
pimpinan. Bunker beton setebal lebih semeter tempat berlindung petugas
gunung berapi itu berlubang di atasnya, menunjukkan kedahsyatan ledakan dan
bebatuan yang menimpanya. Tiba-tiba terdengarlah beberapa dentuman
menggelegar seperti tembakan meriam layaknya. Asap tipis berkepul. Keadaan
senyap kembali. Tanpa bicara apa pun Kang Brayat berbalik meninggalkan
kelompok kami tanpa mengatakan apa pun kepada rombongan yang dipimpinnya.
Kami pun melanjutkan perjalanan menyatu dengan rombongan truk lain.
"Kang Brayat serdadu payah," begitu komentar teman yang mengatainya penakut
tadi.
"Konon Kang Brayat pernah membunuh Belanda dalam pertempuran, ia pun terluka
oleh peluru musuh," sambung seorang anak perempuan.
"Memangnya kamu tahu?"
"Betul, di lengannya ada bekas luka tembak!"
"Jangan-jangan bekas disepak kuda piaraannya."
"Kamu sok tahu." Percakapan itu masih saja seru meski kami terengah-engah
mendaki tanjakan.
Ketika kami sampai di lekuk celah bibir kawah seperti mulut menganga itu
terjadi lagi beberapa letusan kecil pada dinding kawah dan asap tipis
mengepul. Nampaknya ratusan meter dinding kawah bagian selatan gunung ini
telah lama jebol. Ketika gunung meletus sebagian besar air kawah dimuntahkan
lewat mulut itu menuju ke arah selatan yakni daerah Blitar. Kepulan asap
keluar dari beberapa tempat di dasar kawah seperti bubur mendidih dalam
panci di atas api. Tidak ada tanda-tanda bahwa Gunung Kelud berbahaya pada
saat itu. Air kawah nampak jauh di bawah tak lagi membentuk danau seperti
tertera dalam gambar sebelum letusan.
Tak seorang pun dari rombongan di belakang yang berpapasan dengan Kang
Brayat mengikuti anjurannya untuk tidak meneruskan perjalanan karena gunung
itu berbahaya katanya. Apalagi tujuan perjalanan yakni mulut kawah sudah
begitu dekat. Aku teringat cerita kakakku tentang mantan serdadu itu.
+++
Ketika itu ia baru saja pulang dari daerah Mojokerto dalam keadaan tangan
kirinya dibalut perban dan tergendong. Bukan saja kedua orang tua dan kedua
kakek neneknya, juga orang sekampung bangga bahwa ia telah menyumbangkan
tenaganya untuk bertempur melawan penjajah yang hendak kembali. Ia dipandang
sebagai salah satu wakil kampung kami dan telah memberikan contoh yang
patut. Sebagai pejuang ia mendapat perlakuan cukup baik. Dua kali seminggu
seorang mantri dari rumah sakit datang ke rumahnya untuk memeriksa
luka-lukanya.
"Kang Brayat berani juga," begitu anak-anak kecil temanku bermain saling
berkomentar. Selama ini ia dikenal dan mendapat cap sebagai penakut. Ia tak
pernah berani ikut beterjunan dan berenangan di kedung, atau panjat-memanjat
pepohonan. Orang tuanya selalu melarangnya. Semua permainan agak keras adu
kuat dihindarinya, bahkan termasuk main bola dan kasti, begitu kata orang.
Suatu kali kakak pertamaku pulang mendapat cuti dari markasnya. Ia pun
menceritakan sepintas lalu berbagai pertempuran yang dialaminya di daerah
Mojokerto. Dengan santai ia menjawab pertanyaannku.
"Kalau musuh mengepung dan kita tak bisa melawan ya lari." Kusampaikan
tentang luka-luka lengan Kang Brayat yang terkena tembakan dalam
pertempuran. Kakakku tersenyum-senyum kecil.
Selama cuti Kakak sempat juga berkunjung ke rumah Kang Brayat. Ia
menceritakan secara panjang lebar kepada kami tentang
pertempuran-pertempuran yang dialaminya serta bagaimana ia mendapatkan luka,
sesuatu yang telah beberapa kali kudengar. Bagaimana sekelompok pasukannya
dikepung musuh yang menggunakan sejumlah tank. Kesalahan yang dibuatnya
adalah ia tak menuruti perintah mundur.
"Untung aku masih selamat meski luka-luka, masih mendapatkan perlindungan."
Begitu kisah Kang Brayat. Kakakku tidak memberikan tanggapan.
"Itu semua omong kosong! Ia tidak pernah bertempur!" begitu komentar Kakak
agak sengit ketika sampai di rumah. Kami terkesiap dengan kata-kata itu. Ia
pun menceritakan kejadiannya. Mereka berdua dari batalion yang sama. Karena
komandan mengenal nyalinya ia hanya ditugaskan untuk berjaga di garis
belakang. Pada suatu hari ia mempermainkan senjata dengan cara
mengetuk-ketukkan ujung belakang laras, sedang moncong laras ada di
lengannya. Ledakan pun terjadi melukai lengannya. Untuk itu ia masih
menunggu hukuman.
"Orang bilang itu sengaja dilakukannya agar ia dipulangkan."
"Kalau begitu ia berani juga mempertaruhkan lengannya," komentar seorang
kakakku yang lain.
"Barangkali. Untung masih hidup, kalau mati ia disebut pahlawan dan
dimakamkan di taman pahlawan pula," begitu kakak pertamaku menambahkan.
Jakapermai, Oktober 1994.-( Dari naskah kumpulan cerpen belum terbit *Catatan
Berdebu 1945 dan Surat Ibu 1965* )
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/