Kemandirian Kiai
Salah seorang pendiri NU yang masih hidup saat itu, adalah Kiai As'ad
Syamsul Arifin. Walaupun kiai kharismatik itu tak begitu dikenal publik,
karena berkiprah di Situbondo dan sekitarnya. Tapi siapapun tokoh masyarakat
dan politis nasional, tahu siapa dia dan kekuasaan serta pengaruh yang
dimilikinya. Walau tak satupun jabatan struktural dia pegang, tapi
masyarakat sangat hormat dan setia kepadanya.
Melihat kewibawaan Kiai Sepuh di Desa Asem Bagus itu, Presiden Soeharto
penasaran ada tokoh kharismatik yang menyainginya, maka ingin bertemu
dengannya. Lantas diutuslah seorang menteri agama kala itu Prof. Mukti Ali
menemui di pesantrennya, untuk membujuk agar Kiai NU itu bisa digiring ke
Istana, biar kelihatan di publik dialah yang ingin ketemu Presiden, untuk
minta sumbangan pembangunan pondok.
Rekasaya Mukti Ali berhasil, Kiai As'ad datang ke Jakarta sehari sebelum
pertemuan dilaksanakan. Karena itu disediakan hotel mewah dengan biaya
Negara, Tetapi kiai tidak mau karena dia beralasan akan tidur di sanak
familinya. Orang protokoler istana tidak biasa menolak kehendak Sang Kiai,
Namun dengan pesan agar besok kiai hadir tepat waktu jam.12 .00 siang harus
siap di Cendana.
Ketika datang ke Cendana, langsung di sambut oleh Soeharto. Setelah
dipersilahkan duduk lalu dihidangkan berbagai makanan dan minuman. Tetapi
Kiai As'ad menolak semua jamuan hidangan itu, dengan mengatakan bahwa ia
sedang berpuasa kebetulan saat itu pas hari Senin. Sebagai tuan rumah
Soeharto agak kaget dan kecewa, jamuan hidangan yang disediakan tidak
disentuh sama sekali oleh tokoh spiritual yang diakui sebagai wali yang
keramat itu. Dan Soeharto sendiri tampaknya juga ingin mendapat "berkah"
atas kehadirannya.
Pembicaraan ini dimulai tanpa diselingi dengan jamuan makan dan minum. Ini
benar-benar pembicaraan tingkat tinggi, antara penguasa politik duniawi
dengan seorang Kiai penguasa alam rohani. Namun demikian ia mengelak diajak
Soeharto masuk ke dalam wilayah itu. Sebaliknya ia yang ingin masuk ke alam
duniawi Soeharto. Padahal sebagai penganut kebathinan, Soeharto ingin
mendapat pengetahuan kerohanian dari Sang rohaniawan. Awalnya Kiai sufi itu
bersemangat berbicara tentang keamanan, masalah sosial terutama
kesejahteraan ekonomi yang ini benar-benar dunia lawan bicaranya.
Soeharto tertegun dan kaget mendengar penguasaan politik keamanan Kiai Sufi
ini sangat tinggi. Lebih tercengang lagi ketika Sang Kiai berbicara dengan
fasih tentang struktur tanah, strategi budidaya pertanian dan kelautan.
"Bagus-bagus kiai berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan, biar nanti kami
bantu semuanya," komentar Soeharto.
"Oh, tidak pak presiden, kami tidak butuh bantuan finansial," kata Kiai.
Seperti disambar geledek siang itu, Soeharto mendengar tawarannya ditolak.
Sehingga rona wajahnya merah kusut, cermin kemarahan hatinya.
"Tetapi Pak Presiden kami minta disediakan tenaga ahli pertanian dan
perikanan yang paling pakar di republik ini". Mendengar jawaban ini,
amarahnya agak sedikit reda seperti baru kesiram air telaga, karena masih
ada yang diminta.
Sehingga Soeharto kembali bisa melanjutkan pembicaraan. Dengan tenang
politisi berdarah dingin itu mengatakan. "Ya kiai, nanti akan kami hubungi
tenaga ahli untuk menagani program yang dicanangkan kiai, Tetapi tenaga ahli
kita belum cukup banyak masih langka atau jarang karena itu mereka perlu
dibayar mahal. Tapi Kiai tidak perlu khawatir semuanya akan ditanggung oleh
negara," kata Soeharto.
"Terima kasih-terima kasih tuan presiden, tetapi berapapun biaya konsultan
dan biaya ahli akan kami bayar sendiri," tukas Kiai As'ad dengan penuh
percaya diri. Soeharto kembali marah, suasana di dalam ruangan itu kembali
tegang. Mukti Ali kembali yang menjadi perantara pertemuan itu tak berani
menyela untuk sekadar mencairkan suasana. Ajudan yang ada disana diam
ketakutan apa yang bakal presiden lakukan.
Tiba-tiba Presiden berdiri diikuti Mukti Ali dan Kiai As'ad, ajudan tak tahu
bahwa pertemuan hendak akan di akhiri, Lalu Soeharto berjabat tangan dengan
Kiai As'ad. "Baiklah Kiai nanti akan kami kirim tenaga ahli." Kiai menjawab
singkat "Terima kasih pak presiden!". Kemudian keduanya saling berangkulan,
dua kekuatan duniawi dan rohani, seketika ketegangan pun mereda.
"Ternyata Kiai kampung yang "Sepuh" itu sulit untuk ditaklukan.
Kesederhanaannya membuat kokohnya kemandiriannya, sehingga mampu meluluhkan
kemegahan Soeharto". Mukti Ali berdecah; "Manusia Luar Biasa yang tidak
tunduk pada kilauan harta dan kekuasaan". Dialah Ulama dan Kiai
sesungguhnya, Karakter semacam itu yang membuat Pesantren dan NU tetap tegak
sepanjang zaman, meski tanpa bantuan Negara.
Ditulis berdasarkan penuturan dari beberapa narasumber.
Bumiayu, 21 Agustus - 2004
[Non-text portions of this message have been removed]
-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
-----------------------------------------------***
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/