Puasaku Tahun-Tahun Lalu
Sore itu, bulan Ramadhan tahun lalu adalah hari pertama puasa.
Meskipun aku biasa berpuasa Senin dan Kamis, tetapi puasa Ramadhan selalu
membawa
kegembiraan dan suasana yang berbeda.
Apalagi anak kami yang bungsu hari itu mulai belajar berpuasa.
Aku menjanjikannya jika puasanya penuh akan kuberikan hadiah, seperti juga
aku menghadiahi
abangnya ketika mula pertama dia bisa berpuasa.
Aku bergegas menepikan motorku ketika kurasakan getar ponsel disaku jaketku.
Rupanya dari isteriku. "Jangan lupa ayah beli blewah atau timun suri 2
kemudian beli
kelapa muda 4, minta pada penjualnya untuk dituang ke plastik jadi tidak
sulit bawanya,
saya sedang di toko dekat rumah beli sirup, beli kue-kue basah"
" Pasti", jawabku, "Jangan lupa beli juga kue lapis beras dan lupis,
kelapanya yang banyak. "
Sesampai di rumah; meja makan telah sarat dipenuhi berbagai penganan, lauk,
nasi, minuman.
Begitulah hampir selama sebulan, kami makan berlebihan; sehingga mudah
mengantuk.
Isteriku setiap sore hari rajin ke rumahmakan membeli makanan jadi yang
kemudian selalu bersisa.
Pagi hari ketika sahur kami sibuk makan dan menonton acara hiburan di TV
yang penuh candaria.
Akibatnya ketika dikantor, aku merasakan produktivitas kerjaku menurun.
Padahal kantorku telah memberikan kelonggaran selama bulan puasa kantor
dimulai setengah jam lebih
lambat, pulang juga demikian setengah jam lebih awal.
Aku lebih banyak duduk-duduk saja atau melama-lamakan diri berada di masjid
lingkungan perkantoran.
Bukan untuk berzikir, mengingat DIA atau membaca-baca buku agama tetapi
membiarkan tubuhku
berbaring di lantai masjid yang sejuk itu. Meskipun telah ada peringatan
dilarang tiduran di masjid,
tetapi selama puasa larangan itu seolah tidak ada artinya.
Beberapa hari kemudian aku dan isteriku menghadiri undangan berbuka bersama
yang diselenggarakan
oleh teman sekolahku yang mempunyai rizki berlebih sekaligus ia
mempromosikan biro perjalanan hajinya.
Acara ini diadakan di sebuah hotel berbintang. Hidangan beraneka ragam dan
sangat berlimpah ruah.
Sebelum bedug berbunyi kami dan semua tamu sudah berdatangan dan segera
sibuk mengambil berbagai
macam tajil yang tersedia.
Kami seperti layaknya orang-orang yang sangat kelaparan. Menyendok kolak ke
mangkuk, mengambil
piring yang berisi kue-kue, puding dan kurma; mengambil cangkir, gelas-gelas
minuman hangat dan dingin.
Ketika tanda berbuka terdengar serentak kami menyesap minuman dengan tergesa
kemudian bergegas
sholat. Sholatpun kurang khusyu, memikirkan makanan yang sangat menggoda
selera.
Saat mengambil makanan, kami memenuhi piring lebar itu dengan nasi dan lauk
yang menggunung.
Mengisi penuh mangkuk-mangkuk dengan beraneka supjagung, sotomadura,
tekwan....
Kami makan dengan ribut, mulut berkecipak, ditingkahi bunyi sendok dan
piring yang beradu, gelak tawa,
obrolan-obrolan, lalu lalang ke meja hidangan untuk mencicipi semua makanan
yang tersedia.
Namun demikian kapasitas perut ada batasnya; makanan itu tersisa berserakan
di piring dan mangkuk.
Ketika kami pulang kami melihat betapa banyak makanan yang berlebih yang
tidak bisa dimakan lagi akibat
penyakit 'lapar mata' yang parah dari hampir semua undangan.
Jika dikumpulkan mungkin bisa untuk memberi makan kaum yang jarang makan
lebih banyak lagi.
Begitulah dahulu; selalu setiap puasa ramadhan berlangsung kami hanya
sekedar menunda makan
dan minum. Kami belum bisa menahan hawa nafsu yang berhubungan dengan urusan
perut.
Kami tidak bisa merasakan penderitaan orang yang kekurangan. Setiap berbuka
puasa kami selalu merasa
tidak cukup hanya berbuka dengan minum segelas teh manis hangat saja.
Puasa sekarang; aku, isteri dan anak-anakku akan berusaha menjalaninya
seperti semangat puasa sebenarnya.
Berpuasa yang penuh kebaikan, mendapat ridha dan maghfirahNya, insya Allah.
Latihan berempati merasakan penderitaan orang yang kekurangan, orang-orang
yang berpuasa di daerah bencana.
Lebih giat mengumpulkan uang bujet pembeli segala makanan yang berlebihan
untuk disedekahkan.
Tidak melihat acara hiburan TV; waktu-waktu itu bisa aku pergunakan untuk
mengkaji ilmu agama, mengaji,
bersama anak-anak.
Bukankah jika puasa Senin atau Kamis aku juga tidak melihat TV di pagi hari
buta.
Makan minum di hari puasa Senin dan Kamis itu aku juga tidak menuntut yang
istimewa.
Isteriku juga akan berusaha lebih cerdas membelanjakan uang dapur untuk
urusan makan dan minum.
Karena setiap puasa justru timbangan badannya menjadi mekar karena ia merasa
sayang melihat
makanan yang berlebihan, mau di sedekahkan tidak layak, sehingga ia makan
sendiri, begitu alasannya :-)
Bulan puasa seharusnya pengeluaran belanja makan dan minum tidak bertambah
bahkan sebaiknya ada kelebihan.
Bukankah kita makan hanya 2 kali. Tapi mengapa justru selama puasa
pengeluaran untuk belanja dapur selalu
membengkak sampai dua kali lipat bahkan lebih?
Teman sekantorku justru ada yang berhutang setiap bulan puasa hanya untuk
keperluan makan dan minum.
Sehingga dimanakah nilai puasa yang sebenarnya? Jika puasa hanya sekedar
menunda makan dan minum;
tapi ketika ada kesempatan untuk bersantap, kita seolah 'membalasdendam' -
dan terlalu berlebihan?
[Sebagian besar kisah nyata ini berdasarkan penuturan seorang teman]
--------------
".........Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan" [Al 'Araaf;7:31]
[Non-text portions of this message have been removed]
-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
-----------------------------------------------***
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/