Memanajemen Konflik Mahasiswa di Perguruan Tinggi
Mahasiswa merupakan sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan lanjutan
setelah SMU, Pendidikan tersebut dapat berupa Perguruan Tinggi, Sekolah Tinggi,
Institut, Akademi, dan sebagainya. Usia saat menjadi mahasiswa semester di
perguruan Tinggi, Umumnya berkisar 18-21 tahun. Secara Fisikologis, usia ini
sangat rentan terhadap segala sesuatu. Kejiwaan yang labil dan selalu memegang
idiom ketokohan.
Pada Dunia Pendidikan Tinggi di Indonesia, Perguruan Tinggi dibedakan menjadi
3 Golongan Jika saja dilihat dari sudut pandang, berapa besar dana yang
dikeluarkan oleh pemerintah dan jaminan kerja para sarjananya. Golongan Pertama
adalah Institut yang berlabel kedinasan dalam hal ini berpayung pada salah satu
departemen di Republik Ini. Sekolah Pendidik Birokrat di IPDN di Departemen
Dalam Negeri salah satu contohnya. Negara membiayai secara pasti setiap rupiah
yang dikeluarkan oleh lembaga ini untuk mencetak birokrator-birokrator yang
akan ditempatkan di daerah. Setiap mahasiswa yang berkuliah di institut ini
tidak lagi memikirkan biaya kuliah per-semesternya. Inilah yang mendorong, para
orang tua untuk dapat meluluskan anaknya di sekolah-sekolah seperti ini.
Setidak-setidaknya setelah kuliah tidak perlu sibuk bikin lamaran kerja.
Golongan Kedua adalah Perguruan Tinggi yang di subsidi oleh Pemerintah.
Disetiap daerah pasti ada perguruan tinggi golongan ini. Di Kalimantan Barat,
UNTAN lah contohnya. Biaya per semester yang sedikit merakyat, di tambah tak
perlu bayar setiap SKSnya. Dan tak ada jaminan pasti bahwa setiap lulusannya
dapat diterima oleh Instansi Pemerintah merupakan tantangan besar bagi
perguruan tinggi golongan ini untuk mencetak lulusan yang berkualitas sesuai
bidangnya. Tidak semua lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dapat
diterima menjadi Guru di Provinsi ini, walaupun kebutuhan akan Guru meningkat
tiap tahun di berbagai pelosok daerah sebagai perwujudan mencerdaskan anak
bangsa. Secara kelembagaan, mahasiswa di perguruan tinggi negeri lebih
cenderung untuk berperilaku santai, mereka dapat menyalurkan kreativitas di
setiap lembaga-lembaga universiter baik yang berbau politik maupun sosial
kemasyarakatan. Tak heran para mahasiswa tersebut umumnya menjadi
penggiat-pengiat di
LSM atau terjun pada Dunia Politik. Tapi tak sedikit juga yang berwiraswasta
atau terjun dalam dunia keprofesian yang sesuai dengan jurusan yang diambil.
Inipun jumlahnya tidak signifikan. Dikarenakan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk menjadi profesional-profesional handal. Poin Penting dari
Golongan Kedua ini adalah prestise sebagai lulusan sebuah PTN yang tak semua
orang dapat merasakannya.
Golongan Ketiga adalah Perguruan Tinggi yang sama sekali tidak dibiayai oleh
pemerintah. Golongan terakhir ini lebih sering disebut sebagai Perguruan Tinggi
Swasta (PTS). Perguruan Tinggi tipe ini membebankan biaya kuliah ke setiap
mahasiswanya. Besarnya Biaya Persemester, ditambah uang SKS yang diambil serta
biaya-biaya yang menyangkut dengan kelancaran studi menjadi sebuah momok yang
harus dihadapi oleh mahasiswa pada setiap semesternya. Ditambah idiom yang
harus diterima oleh PTS yang ada didaerah lebih cenderung profit oriented dan
renggang sekali dengan apa yang namanya kualitas. Hal ini menjadikan yayasan
yang menaungi lembaga ini mau tidak mau harus memiliki jaringan kerja agar
dapat menampung setiap lulusan yang dihasilkan pertahunnya. Cepat tidaknya
menempuh pendidikan disini ditentukan dari berapa besar kemampuan mahasiswa
untuk membayar uang sksnya. Inilah yang selalu menjadi problem bagi mahasiswa
PTS dalam menjalankan kehidupan akademisnya.
Didalam dunia kemahasiswaan, Konflik yang cenderung terjadi lebih
ditetikberatkan pada segi Fasilitas dan Tradisi yang melekat pada kehidupan
kampus yang bersangkutan. Di Perguruan Tinggi Kedinasan, Konflik Senior Junior
menjadi santapan setiap tahunnya, Korban selalu berjatuhan akibat doktrin ini.
Tidak sedikit dari mereka harus meregang nyawa, bahkan ada pula yang harus
membawa luka begitu keluar dari perguruan tersebut. Penganiayaan, Pelecehan
seksual maupun pengeroyokan terhadap Junior baik yang tersistem maupun
pelampiasan pribadi semata-mata menjadikan hal ini sebagai salah satu bentuk
konflik yang harus dibenahi oleh semua pihak yang terkait. Hal ini akan menjadi
mimpi buruk bagi setiap orang tua yang telah menaruh harapan bagi institusi
pendidikan karena berharap suatu saat sang anak akan menjadi birokrator ulung,
yang akan mengangkat Derajat orang tua di Kehidupan Masyarakatnya. Sebuah
Investigasi yang dilakukan oleh salah satu stasiun televisi di Indonesia dapat
dijakan referensi betapa besar permasalahan tersebut.
Lain Halnya dengan Konflik yang terjadi pada PTN, Konflik antar Fakultas
menjadi sebuah tradisi yang membudaya. Tak tahu siapa yang memulai. Yang jelas,
ini telah melekat pada setiap mahasiswa yang menempuh pendidikan di salah satu
PTN Kalimantan Barat. Tercatat 2 Tawuran Besar pernah terjadi antara tahun
2001-2006. tak jelas apakah sistem atau fasilitas yang tak adil dalam budaya
kekerasan di kampus ini. Tapi yang pasti, Konflik antar Fakultas ini telah
menjadi bahaya laten bagi setiap mahasiswanya. Pecahnya konflik dapat terjadi
dikarenakan hal yang sepele. Dalam hal ini, Konflik umumnya tidak terjadi pada
isu-isu politik/sara/ kehidupan sosial. Pencegatan, saling olok-mengolok, atau
menyalurkan libido konflik merupakan bahan bakar untuk kembali menyalakan api
konflik tersebut. Akibatnya dapat kita lihat pada kehidupan setelah sarjana.
Jarang sekali Mahasiswa dari Fakultas yang berseteru bisa menjalin/ membina
Hubungan Rumah Tangga yang harmonis, kalaupun ada jumlahnya
dapat dihitung dengan jari. Yang terjadi kemudian adalah, adanya kompromi
politik dalam menghadapi kehidupan rumah tangga pada Mahasiswa dari fakultas
yang saling bersekutu. Jumlahnya tak terhitung. Fenomena ini dapat kita lihat
pada kehidupan sehari-hari. Budaya Konflik Yang Aneh.
Konflik Mahasiswa Golongan ketiga lebih bersifat silence. Konflik ini tidak
terjadi secara meledak. Persaingan Ekonomi tingkat tinggi, mau tidak mau
segelintir mahasiswanya mulai mencari jalan untuk dapat menunjukan
eksistensinya. Konflik Fakultas Yang dapat diredam, maupun hubungan
Senior-Junior yang cenderung akur membuat Kampus digolongan ini sama sekali
tidak menunjukan konflik yang begitu bergejolak, namun tingginya tingkat
pengeluaran dalam bidang akademik membuat sebagian mahasiswa menjadikan faktor
ekonomi sebagai alat pembuat friksi ditengah-tengah kehidupan kampus. Dalam hal
ini, Kurangnya Lapangan Kerja Bagi Mahasiswa di PT golongan kedua maupun ketiga
merupakan faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku menyimpang di dalam
kehidupan Masyarakat. Lemahnya Pengawasan serta banyaknya waktu kosong dalam
studi membuat segelintir mahasiswa berkreativitas sedikit nakal. Menghabiskan
waktu di Rental-rental PS, Nongkrong di Mall sambil Curi-Curi Makan, atau
Mencari
Pasangan Kencan di warnet-warnet deket kampus merupakan potret mahasiswa jaman
sekarang. Tapi tak sedikit pula dari mahasiswa kita yang menorehkan prestasi di
bidang-bidang akademis walupun jumlahnya tak terlalu banyak.
Begitulah Gambaran betapa kerasnya sistem pendidikan di Indonesia. Perilaku
Menyimpang justru timbul dari kalangan yang cukup terhormat ini. Peran serta
Masyarakat dan Negaralah yang harus lebih ditingkatkan untuk memperbaiki
kualitas dari para Mahasiswa kita. Lemahnya Control serta kepedulian dari kita
semua membuat Mahasiswa semakin steril dari budaya maupun gerakan yang
seharusnya mereka teriakan.
Demikianlah sedikit ulasan yang dapat saya sampaikan atas 2 peristiwa yang
menjatuhkan imej Mahasiswa belakangan ini. Yang pertama Kasus Video Mesum yang
disinyalir dilakukan Oleh Mahasiswa, Yang Kedua Kasus Kematian Seorang Calon
Birokrator asal Sulawesi Utara disebuah Institut di Jawa Barat. Kepada Para
Korban dan keluarga saya turut berbelasungkawa atas kejadian tersebut. Wassalam.
M. Fajrin
Koordinator Wilayah Parallel Institut Kalimantan Barat
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]