Law of Attraction: Expectation Theory (Nggak Terlalu Teoritis)

Hampir di setiap seminar sukses, pelatihan sukses, workshop sukses 
atau event-event "suksesi" sejenis lainnya, Anda sering diminta untuk 
"mengkhayalkan" kesuksesan Anda. Istilah teknisnya, visualisasi. Di 
berbagai event itu, Anda akan sering diminta untuk 
mengimplementasikan nasehat seperti ini: 

"Fake it till you make it"
"Jika mau sukses bersikaplah sukses"

Maksudnya, jika Anda belum bisa berpura-puralah bisa dan jika Anda 
belum sukses berpura-puralah sukses.

Apa yang perlu Anda pahami tentang sikap "berpura-pura" itu, bukanlah 
sekedar menipu diri sendiri dengan "khayalan bisa" atau "khayalan 
sukses". Itu ada rasionalisasinya. 

Sebagai contoh, jika Anda menginginkan punya mobil mewah, maka coach 
sukses akan meminta Anda untuk menggambarkan atau memvisualisasikan 
mobil mewah itu di kepala Anda. Anda, biasanya diminta untuk sangat 
detil dalam menggambarkannya. Bentuknya, harganya, warnanya, tahun 
keluarannya, velgnya, bahan untuk joknya, variasinya, model gagang 
stirnya, sampai plat nomornya. 

Apa yang diharapkan bisa terjadi dengan visualisasi semacam itu? Apa 
yang diharapkan terjadi pada diri Anda, adalah berfungsinya "The Law 
of Attraction" sehingga Anda benar-benar sukses. Dengan imajinasi, 
visualisasi, dan khayalan itu, Anda diharapkan membentuk sebuah visi, 
kemudian disadari atau tidak meramu semacam emosi, yang kemudian bisa 
menggerakkan Anda untuk mulai merealisasikannya. Hingga akhirnya, 
Anda benar-benar bisa mendapatkannya.

Anda mungkin akan berkata, "Ah, itu kan njelehi alias nggilani. 
Sukses koq mengkhayal." Ya, sepertinya memang begitu. Tapi bukan 
begitu. Saya sendiri, sering menjawab komentar semacam itu dengan, 
"Alah. Mengkhayal aja koq pelit." Mari kita lihat rasionalisasinya. 

Katakanlah mobil idaman Anda sudah diproduksi dan sudah dijual di 
suatu toko di luar sana. Di tangan Anda, sudah ada uang Rp 560 juta, 
pas sejumlah harga mobil itu on the road. Apa yang Anda lakukan?

Yang Anda lakukan adalah, sekali lagi memastikan bahwa mobil itulah 
yang Anda inginkan. Kemudian, Anda mulai mencari-cari di mana toko 
yang menjualnya. Setelah ketemu, Anda hampiri mobil itu, dan Anda 
mulai mencocok-cocokkan feature-nya dengan idaman Anda. Anda pas-
pasin warnanya cocok nggak. Joknya sesuai mau Anda nggak. Velgnya 
seperti yang Anda inginkan atau tidak. Begitu seterusnya. Setelah 
semuanya cocok, Anda malah masih sering coba-coba menawar lagi kan? 
Supaya bisa dapat lebih murah, he..he..he... 

Akhirnya, setelah berbagai penyesuaian atau sedikit penyimpangan, 
mobil itu Anda beli juga. Tercapailah target Anda.

Skenario I

Sekarang, mari kita tarik ke sebulan sebelumnya. Uang sejumlah Rp 560 
juta itu, belum ada di tangan Anda. Anda hanya punya separohnya yaitu 
Rp 280 juta. Akan tetapi, Anda tahu persis bahwa ada sebuah proyek 
yang akan gol, dan akan memberi Anda uang sejumlah Rp 500 juta. 
Menurut kalkulasi Anda, uang itu "pasti" Anda terima. Apa yang Anda 
lakukan? Sangat mungkin, Anda akan melakukan hal yang kurang lebih 
sama, seperti jika uang itu sudah di tangan Anda. Anda bersiap-siap 
untuk membeli mobil impian Anda. Betul bukan? 

Skenario II

Sekarang, mari kita tarik ke enam bulan sebelumnya. Uang di tangan 
Anda baru sepertiga dari harga mobil itu, alias Rp 187 juta. Anda 
sudah memperhitungkan bahwa dalam enam bulan ke depan, Anda akan 
mendapatkan uang Rp 32 juta sebulan. Artinya, enam bulan lagi jumlah 
uang itu adalah Rp 192 juta. Jumlah yang lebih besar dari Rp 187 
juta. Apa yang Anda lakukan? Sama! Anda bersiap-siap untuk membeli 
mobil itu. 

Skenario III

Sekarang, kita tarik ke tiga tahun sebelumnya. Tidak sepeserpun uang 
Anda punya. Tapi Anda, kini bekerja dan menerima gaji Rp 12 juta 
sebulan. Apa yang Anda lakukan? Anda mulai berpikir tentang kenaikan 
progresif pendapatan Anda, yang nantinya pada akhir tahun ketiga, 
akan membuat Anda punya uang Rp 560 juta. Jika Anda bisa memastikan 
hal itu dengan keahlian dan kepakaran Anda dalam bekerja, apa yang 
Anda lakukan? Sama! Anda mestinya juga bersiap-siap untuk membeli 
mobil itu. 

Skenario IV

Sekarang, kita tarik ke tiga tahun sebelumnya. Akan tetapi, gaji Anda 
hanya Rp 5 juta sebulan. Anda harus mencari cara, agar tiga tahun 
lagi uang Anda memang terkumpul sebanyak Rp 560 juta. Lepas dari 
benar atau tidaknya, dan dari baik atau buruknya, Anda mungkin 
mencoba berselingkuh di kantor, dengan mencari objekan di ladang-
ladang yang lain. Atau, Anda mulai menjajal kemampuan 
entrepreneurship Anda, dengan mencoba membuka usaha sendiri. Atau, 
Anda memberdayakan anak dan istri Anda, untuk mendukung penghasilan 
Anda. Jika Anda bisa memproyeksikannya, apa yang Anda lakukan? Sama! 
Anda mestinya bersiap-siap untuk membeli mobil itu. Wong tinggal soal 
waktu koq. 

Prinsip-prinsip Turunan

Dengan uang di tangan sejumlah Rp 560 juta, Anda tetaplah mengkhayal. 
Sebab, jika Anda pergi ke showroom dengan uang itu, kemudian (maaf) 
Anda dirampok di tengah jalan sebelum sampai ke sana, cita-cita Anda 
juga nggak bakal kesampaian. Jika uang itu ditransfer lewat bank 
sekalipun, kalo saat Anda mengelus-elus mobil itu di showroom, tiba-
tiba handphone Anda berdering, dan pembantu Anda memberi tahu (maaf 
lagi), "Pak rumah kebakaran!" Bagaimana? Anda juga cuma mengkhayal. 

Dengan tanpa uang di tangan, tiga tahun sebelumnya, Anda juga cuma 
mengkhayal. Tapi jika khayalan Anda di dukung oleh sebuah sistem 
atraksi yang benar, maka Anda akan sangat mungkin berhasil 
mencapainya.

Masalahnya, Anda terlalu condong kepada logika. Logika mengatakan 
kepada Anda, "Itu nggak logis dan itu nggak mungkin!" Padahal, logika 
Anda sangat terbatas kemampuannya. Sementara alam semesta, punya satu 
milyar cara untuk mendeliveri impian Anda. 

Rezeki itu di tangan Tuhan. Anda sangat mungkin "deserve" untuk 
impian Anda. Apa yang perlu Anda lakukan, adalah menyogrok-nyogrok 
rezeki itu agar jatuh ke tangan Anda. Tentunya, dengan cara-cara yang 
disukai oleh Yang Memberi Rezeki. Yaitu ilmu dan keahlian, serta 
memahami hukum universal 1, 2, dan 3  (nrimo, syukur, sabar). Dan 
tentu saja, Anda harus membatasi diri, nggak perlu kemaruk. 

Cara yang moderat begini. Jika Anda punya impian, kemudian Anda lihat 
kemampuan Anda saat ini belum ada, maka buatlah proyeksi. Dua jam 
lagi bagaimana. Besok bagaimana. Sebulan lagi bagaimana. Setahun lagi 
bagaimana. Dan tiga tahun lagi bagaimana. Kalo Anda malas, lupakan 
saja impian Anda! 

Maksudnya, ada dua hal saja yang perlu Anda lakukan berkaitan dengan 
mimpi-mimpi Anda.

Jika impian Anda tidak bisa diproyeksikan keberhasilannya, adjust 
mimpinya, atau: buatlah sistem otomasi agar impian itu bisa terwujud. 
Intinya sih sama, tetap saja Anda mengkhayal! 

Pak, Bu. Dunia ini khayalan. Apa yang perlu Anda lakukan, pada 
akhirnya tetap sama, yaitu kerja, kerja, kerja. Bertindak, bertindak, 
bertindak. Belajar, belajar, belajar.

Kini Anda pasti memahami, mengapa ada seminar "sukses bermodal 
dengkul", "menjadi kaya tanpa modal", "kebebasan finansial", atau 
"passive income". Jangan pelit mengkhayal, asal Anda membuat sistem 
untuk merealisasikannya. Syukur kalo bisa bikin sistem otomasi. Di 
dalam "Sales Magic" Pak Tung Desem Waringin bilang, "Yang penting 
tahu di mana letak batunya." Ting...ting...ting... Jangan pelit 
mengkhayal. 

So, mana yang akan Anda khayalkan?
Apakah Anda mau mengkhayal untuk kesuksesan Anda?
Atau, Anda mau mengkhayal bahwa Anda tidak mampu mencapainya?

Sukses selalu (mengkhayal)
Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
021-70096855
http://milis-bicara.blogspot.com

Kirim email ke