*Mengapa optimisme diperlukan?*

 Apakah Anda seorang yang optimis dalam menghadapi bulan-bulan ke depan di
tahun baru 2008 ini? Tunggu dulu. Kita orang optimis atau pesimis tidak
penting diutarakan secara verbal di hadapan orang lain. Kitalah orang yang
paling tahu apakah kita seorang yang optimis atau pesimis. Tingkat
ke-optimis-an dan ke-pesimis-an kita tidak bisa diukur dengan ucapan mulut.
Mulut kita memang bisa saja mengatakan kita ini orang optimis. Meski begitu,
jika yang kita praktekkan sehari-hari justru bertentangan dengan
kaidah-kaidah optimisme, maka kita bukanlah orang yang optimis.

 Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup
yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat
kita (punya harapan). Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk
merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Kalau dipendekkan,
optimis berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan
keyakinan itu kita GUNAKAN untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna
meraih hasil yang lebih bagus.

 Optimisme seperti itu dalam prakteknya sangat diperlukan. Ini antara lain
dengan alasan-alasan:

* Pertama*, energi positif (dorongan). Kalau bicara harapan sebatas harapan
(baca: harapan mulut), tentunya kita sudah tahu kalau harapan itu tidak bisa
mengubah apa-apa. Lalu untuk apa kita membutuhkan harapan (optimisme)? Ini
untuk mengeluarkan energi positif. Untuk menciptakan langkah dan hasil yang
lebih bagus dibutuhkan harapan yang lebih bagus agar energinya lebih bagus.
Memiliki harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi dorongan yang
lebih bagus.

 Sekarang, coba kita bayangkan apa yang akan kita rasakan seandainya kita
sudah tidak memiliki harapan adanya kehidupan yang lebih bagus di masa
datang? Kemungkinan yang paling dekat adalah kita tidak terdorong untuk
melakukan sesuatu yang lebih bagus, terasa hambar, terasa biasa-biasa saja.
Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya
harapan, namun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang bagus. Karena itu ada
yang mengatakan, selama harapan itu masih ada berarti kehidupan kita masih
ada. Collin Powell sendiri mengakui: "*Optimism is a force multiplier*.

* Kedua*, perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang terhadap masalah atau
hambatan yang dihadapinya juga terkait dengan tingkat keoptimisannya. Orang
dengan optimisme yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk
menyelesaikan masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang dengan optimisme
rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih rendah,
cenderung lebih mudah pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang
memperjuangkannya.

 Secara agak lebih ekstrim sedikit, kita bisa membagi manusia dalam
menghadapi masalah / hambatan itu menjadi tiga kelompok, seperti yang
ditulis Less Brown dalam "Learn To Be Winner" (Top Achievement: 2000].
Ketiga kelompok itu adalah *the winner* (pemenang), *the loser* (pecundang)
dan *the potential winner* (calon pemenang). Menurut Kevin Costner, yang
disebut pemenang itu adalah orang yang jatuh, gagal dan kurang, tetapi pada
akhirnya menang karena pendirian, keyakinan dan komitmen yang dipegangnya
dengan  teguh untuk mencapai impiannya."

 Apa yang membuat seseorang menjadi pemenang dan pecundang? Tentu banyak
faktor yang terlibat. Tapi kalau mau melihat kondisi faktor internal, tentu
peranan harapan atau optimisme tidak bisa dielakkan. Kalau mau pakai pedoman
pendapat Greg Phillip (The ultimate potential: 2004), faktor internal yang
terlibat itu adalah: a) harapan, b) keyakinan, c) kontrol-diri, dan d) sikap
mental.

* Ketiga*, sistem pendukung. Harapan optimisme juga berfungsi sebagai sistem
pendukung. Kalau kita menginginkan keberhasilan, lalu kita berpikir
berhasil, punya kemauan untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan untuk
berhasil dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk keberhasilan itu, maka
logikanya kita pasti berhasil. Soal kapannya itu urusan lain.

 Yang menjadi masalah buat kita adalah kita menginginkan keberhasilan tetapi
kita malas-malas (tidak punya kemauan), punya sikap yang tidak mendukung,
berpikir negatif, harapannya pesimis, dan lebih sering tidak melakukan
hal-hal yang kita butuhkan untuk berhasil. Ibarat mesin, jika yang aktif
hanya satu sistem, sementara sistem yang lain mati atau bekerja untuk
hal-hal yang tidak kita inginkan, maka operasi sistem itu kurang optimal.



 Intinya, harapan di sini bukan tujuan, apalagi tempat bergantung. Kita
tidak boleh menggantungkan harapan pada harapan itu, melainkan pada usaha.
Harapan di sini adalah metode atau jalan agar kita bisa mengeluarkan energi
positif, bisa mengatasi masalah secara positif sepositif harapan kita dan
bisa memiliki mesin prestasi yang seluruh sistemnya bergerak secara
positif.



 Sebuah temuan mengungkap bahwa orang yang memiliki harapan optimis, umumnya
memiliki kualitas di dalam diri yang antara lain:

 §        Punya fokus langkah yang selektif, punya sasaran usaha yang jelas

 §        Bisa menerima fakta hidup dengan kesadaran, tanpa banyak mengeluh
atau   memprotes

 §          Memiliki bentuk keyakinan yang membangkitkan

 §          Punya perasaan diberkati rahmat Tuhan

 §          Punya kemampuan untuk menikmati kehidupan

 §        Punya kemampuan dalam menggunakan akal sehatnya dalam menghadapi
tantangan hidup

 §        Punya kemampuan untuk menjalankan agenda perbaikan diri secara
terus menerus

 §        Punya penghayatan yang bagus terhadap praktek hidup yang
dijalankan sehingga bisa membedakan praktek yang salah dan praktek yang
benar; praktek yang tepat dan praktek yang menyimpang

 §          Punya kepercayaan yang bagus terhadap kemampuannya

 §          Punya perasaan yang bagus terhadap dirinya


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
Internal Auditor
PT.Sanyo Indonesia
Ejip Industrial Park Plot 1a Cikarang-Bekasi
--------------------------------------------
See my Article On http://blogerwinarianto.blogspot.com/


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke