--- On Fri, 1/23/09, bidadari_maniez79 <[email protected]> wrote:
From: bidadari_maniez79 <[email protected]>
Subject: [alumnimuhi] solusi banjir jakarta
To: [email protected]
Date: Friday, January 23, 2009, 4:06 AM










    
            dear friend,

seperti kita ketahui bahwa kota jakarta telah menjdai langganan

banjir. bahkan warga jakarta sangat menikmati kondisi tersebut. utk

itu teman-teman saya memperoleh artikel ttg solusi penanganan banjir

di jakarta. mudah2an bermanfaat. 



Tirta Sangga Jaya (TSJ)

Di tengah krisis karya monu­mental bangsa di era modern ini, tak ada

salahnya me­nengok ke belakang, mere­nung sejenak, bahwa nenek moyang

kita telah mengerjakan dan mewariskan karya monumental, seperti Candi

Boro­budur, yang diakui sebagai salah satu keajaiban dunia.



Dalam wujud lain, Raja Purnawar­man, penguasa Kerajaan Tarumanegara,

pada abad kelima Masehi sudah me­nerapkan manajemen air dan

pengen­dalian banjir yang terencana dan ber­jangka sangat jauh ke

depan. Menurut catatan sejarah, Raja Purnawarman, dengan peralatan

yang sangat sederhana, mampu membangun kanal, kemudian menjadi sungai,

sepanjang 11 kilometer hanya dalam tempo 21 hari. Artinya, setiap satu

hari diselesaikan 550 meter kanal. Kanal itu kemudian diberi nama

Sungai Candra Bagasasi. Peninggalan sejarah itu, sekarang bernama Kali

Cakung, membelah kawasan Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.



Jadi, dilihat dari perspektif sejarah, Tirta Sangga Jaya (TSJ) boleh

dibilang bukanlah sesuatu yang terlalu besar, karena nenek moyang kita

sudah mengerjakannya 1507 tahun lalu dengan peralatan yang sangat

sederhana. TSJ atau sabuk kanal penyangga Ibukota Negara Jakarta,

merupakan gagasan tentang tata kelola air secara holistik, yaitu

meng­amankan pasokan air baku dan mengendalikan arus air liar dari

empat sungai besar Cisadane di barat, Ciliwung di tengah, Bekasi, dan

Citarum di timur yang setiap tahun mengancam Jakarta dengan amukan

banjir kiriman.



Lewat konsep tersebut, 13 sungai sebelum masuk ke Jakarta, dipotong

oleh TSJ yang berbentuk huruf U. Pusat kendali waduk reservoir bisa

dibangun di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Air kiriman sungai-sungai

Ciliwung, Cisadane, Bekasi dan Citarum, ditampung di waduk Cibinong

dan waduk-waduk persimpangan antara sungai-sungai tersebut dan kanal

TSJ. Air kanal dan waduk-waduk itu dimanfaatkan juga untuk memasok

kebutuhan air baku yang bermutu bagi warga Jabodetabek (Jakarta,

Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Juga untuk keperluan industri

perhotelan, apartemen dan perkantoran, sekaligus mencegah eksploitasi

air tanah secara besar-besaran.



TSJ dengan kanal selebar 100 meter dan sepanjang lebih kurang 200

kilometer, membentang membentuk huruf U dari Cibinong ke Muara Mauk,

Tangerang di sebelah barat, dan dari Cibinong menuju Muara Jaya, di

sebelah timur. Gagasan ini lahir dari "Mimpi untuk Jakarta" Syaykh AS

Panji Gumilang, pucuk pimpinan Lembaga Pendidikan Al-Zaytun. TSJ juga

bisa berfungsi sebagai jaringan irigasi, pembangkit listrik tenaga

air, pariwisata, dan prasarana angkutan sungai, baik angkutan

penumpang maupun barang.

Yang jadi pertanyaan, bisakab mimpi atau gagasan itu terwujud sebagai

kenyataan? Sebab, pembangunan proyek TSJ yang monumental dan

spektakuler, membutuhkan biaya yang sangat mahal, menurut perkiraan

Syaykh sekitar Rp 900 triliun. Namun menurut Syaykh, dana sebesar itu

bisa diperoleh secara bertahap apabila dipikul bersama oleh masyarakat

Indonesia yang berkemampuan secara ekonomi. Artinya, pemerintah bisa

menjual Surat utang negara (SUN) atau obligasi berjangka tidak terlalu

lama kepada publik.



Soalnya, TSJ diharapkan bisa mem­berikan return (penghasilan) begitu

pembangunannya selesai dalam tempo 8 tahun (tahun 2015). Penghasilan

TSJ diperoleh dari pasokan air baku bermutu pada perusahaan-perusaha an

daerah air minum, perhotelan, perkantoran dan apartemen. Juga dari

PLTA, angkutan air, angkutan jalan tol dan pariwisata.

Raja Purnawarman saja bisa membuat sungai dengan peralatan sangat

seder­hana. Tentu di era kemajuan ini, putera­putera terbaik bangsa,

dengan teknologi dan peralatan modern, akan mampu membuat waduk,

res­ervoir, jalan tol dan jembatan.



Persoalannya apakah pemerintah punya political will (kemauan politik)

untuk mengatasi persoalan-persoalan fun­damental yang dihadapi Ibukota

Negara (Jakarta) secara holistik dan berjangka. panjang. Bukan

semata-mata pengen­dalian banjir, tetapi juga penyediaan pasokan air

baku bermutu penghentian ekspolitasi air tanah, penataan kembali tata

ruang dan pemeliharaan keseimbangan lingkungan Jakarta.



Jika masalah Jakarta ditangani secara parsial, misalnya membangun

terowongan air bawah tanah (deep tunnel), situ, resapan air dan sumur

injeksi air, maka tak akan menyelesai­kan masalah secara menyeluruh.

Jakarta takkan pernah memiliki pasokan air baku yang bermutu. Air baku

kali-kali Jakarta dijejali pencemaran yang sangat serius. Sebab air

baku Kali Ciliwung dan kali-kali lainnya, pada musim hujan penuh

Lumpur, dan hitam pekat pada musim kemarau.



Kalau hanya berkutat di dalam, maka krisis air di Ibukota Negara

Jakarta, takkan pernah selesai. Sebaliknya, air sungai­sungai itu akan

semakin kotor dan tercemar. Padahal manusia sangat membutuhkan sekitar

70% pasokan air bersih untuk kehidupannya sehari-hari.



Jika kebutuhan air Jakarta tidak ditangani secara terencana dan

terarah mulai sekarang, maka dalam tempo tiga atau empat tahun ke

depan, Ibukota Negara ini, akan mengalami krisis air bersih yang

sangat serius. Sebab sekarang saja, intrusi air laut sudah sampan ke

kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, dan Tomang, Jakarta Barat. Lambat

lawn, warga Jakarta yang bermukim di kawasan barat, pusat, timur dan

selatan, akan menghadapi kesulitan air seperti yang sudah lama dialami

oleh saudara-saudara mereka di kawasan utara.



Kapan lagi Jakarta memiliki sungai-sungai yang mengalir­kan air yang

jernih dan sehat, seperti kota-kota besar dunia lainnva? Bagaimanakah

nasib Program Kali Bersih (Prokasih) Jakarta? Kapankah Jakarta akan

bebas dari banjir kiriman?



Semua pertanyaan tersebut hanya akan terjawab dengan membangun TSJ.

Bukan mengutak-atik Banjir Kanal Barat atau Banjir Kanal Timur.

Persoalan pasokan dan pengendali­an air di Jakarta, tidak bisa

ditangani dari bagian tengah atau hilir. Sebab sumbernya ada di hulu.

Karena itu, TSJ akan melindungi Jakarta dari punggung dan lengan,

sesuatu yang sangat ideal, meskipun harganya mahal.



Krisis air Jakarta hanya bisa diatasi dengan perencanaan dan manajemen

air yang menyeluruh dan berjangka jauh ke depan. Kuncinya. mari kita

mulai berpikir untuk mewujudkan "Mimpi untuk- Jakarta" melalui proyek

monumental Tirta Sangga Jaya.

(Sumber Majalah Berita Indonesia – Edisi 39/2007)




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [email protected] 
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke