Kejadian ini memang sudah sangat lama, tapi bagi saya ini adalah salah satu 
pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Kala
itu, tahun 1992, sehabis mengikuti UMPTN di ITB, saya melanjutkan
perjalanan ke Jakarta, mencari peruntungan mengikuti seleksi masuk STAN
Prodip Keuangan Jakarta. Pada waktu berada di terminal bis Pulo Gadung,
ada seorang anak kecil, yah kira-kira umurnya sepuluh atau sebelasan
tahun-lah, sedang menangis tersedu-sedu. Tidak ada yang mendekati,
menegur atau menolongnya. Saya, sebagai orang kampung yang baru kali
kedua saat itu menginjakkan kaki di Jakarta, mendekati dan menanyakan
kenapa dan sebagainya. Akhirnya saya tahu bahwa anak tersebut menangisi
hasil jerih payahnya berjualan berbagai macam makanan, minuman dan
sejenisnya (asongan) yang dibawa kabur sesama pengadu nasib di Jakarta,
orang yang lebih besar.   Uang
tiga puluh ribu hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan hilang. Kata
dia, sedianya mau dibawa pulang. Dia menangis karena uang hilang dan
tidak bisa pulang kampung. Di kantongnya sudah tidak ada uang sama
sekali. Saya tanya pulangnya ke mana? Dia menyebut sebuah daerah di
Jawa Barat (saya lupa nama daerahnya).
Hati saya trenyuh. Tidak tega
membiarkan anak kecil ini menangis. Saya tidak tahu ongkos naik kereta
api dari Jakarta sampai ke rumahnya pada waktu itu. Yang saya tahu
kalau saya, dari Magelang, Jawa Tengah ke Jakarta naik bis ekonomi
empat ribu lima ratus rupiah.   Saya teringat nasihat guru Agama di SMA saya 
dulu, SMAN 1 Purworejo. Bapak
Umar Ma’ruf namanya, memberikan nasihat agar berbuat baik kepada siapa
saja, insya Allah doanya akan dikabulkan oleh Allah.  Saya
ambil uang lima ribu rupiah, saya serahkan seraya memberi nasihat agar
diam dan berhati-hati. Saya doakan semoga selamat sampai rumahnya. Saya
tidak tahu namanya dia siapa, saya juga tidak memperkenalkan diri. Saya
pikir tidak begitu diperluka. Saya juga bukan anak orang kaya. Diberi
bekal oleh bapak saya untuk mendaftar di ITB Bandung dan STAN Jakarta.
Ini adalah panggilan Allah. Pikir saya pada waktu itu. Biarlah, toh
nanti saya bisa menemui kakak saya yang ada di Sukapura, Jakarta Utara.  Saya 
pun melanjutkan perjalanan menuju Sukapura naik Metro Mini jurusan Tanjung 
Priuk.  Hari-hari selanjutnya saya sibuk mengurusi pendaftaran di STAN yang 
kampusnya ada di Jurangmangu. Untuk
sementara pertemuan dengan anak yang malang itu pun terlupakan. Hingga
hari yang ditunggu tiba. Pengumuman UMPTN, saya lulus untuk pilihan
kedua, Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang, juga lulus seleksi
untuk STAN Prodip Keuangan Spesialisasi Anggaran. Hari-hari selanjutnya
saya kuliah, rupanya balasan kebaikan dari Allah itu datangnya begitu
cepat.   Pertama,
lulusnya saya di dua tempat adalah karunia-Nya. Kedua, saya
dipertemukan dengan senior saya yang sangat perhatian, dicarikan rumah
kontrakan dan juga guru ngaji. Saya pun ikut mentoring. Menikuti
program mentoring, bagi saya, adalah sebuah nikmat, karunia sangat
agung dari Allah SWT. Sepekan sekali saya mengaji, meski
sembunyi-sembuyi pada waktu itu. Takut ada intel kata mentorku. Saya ikut 
mengaji dengan sangat senang hati.   Satu
tahun kuliah saya lalui, di tingkat dua saya terpilih menjadi ketua
kelas. Setiap ada tugas dari dosen untuk memfotokopi diktat bahan
kuliah, saya sendiri yang memfotokopi untuk delapan puluh orang. Saya
fotokopi di Mampang, Jl. Tendean yang mau ke arah Ma’had Al Hikmah,
kampus kedua saya. Cari yang murah. Saya bawa sendiri dan saya bagikan
sendiri, saya juga tidak mengambil selisih harga. Semua saya niatkan
untuk beribadah.. Umar bin khattab, khalifah kedua, juga memanggul
sendiri gandum untuk diberikan kepada rakyatnya.  Pada
waktu pelaksanaan mentoring untuk adik-adik kelas saya ikut membantu
menjadi mentor, meski tidak terdaftar. Jadi tidak dapat ’honor’
mengajar dari panitia. Tetapi alangkah kagetnya (dan juga senangnya)
saya pada waktu mau muraja’ah (setoran hafalan) di
lembaga tahfidz Al Qur’an Al Hikmah Bangka II, Jakarta Selatan, ada
seseorang mendekati saya dan menyerahkan bungkusan. Katanya, ini tanda
terima kasih dari panitia mentoring (namanya waktu itu KD2I, Kajian
Dasar-dasar Islam). Padahal rentang
waktu antara pelaksanaan mentoring dan hari itu hampir satu tahun. Saya
sendiri sudah lupa. Ketika saya buka ternyata isinya selembar kaos
ospek dan uang sebesar dua puluh ribu rupiah. Saya jadi teringat firman Allah 
yang mengatakan, dan akan diberikan rizki yang tidak disangka-sangka.  Saya
juga senang saja ketika diminta untuk membimbing satu kelompok
adik-adik kelas di kampus, juga anak-anak es em a di Ujung Aspal,
Pondok Gede, Bekasi dan anak-anak es em pe di Pancoran.  Pokoknya
untuk kebaikan saya senang melakukannya. Rupanya karunia dari Allah itu
datang kembali. Setelah saya menikah yang langsung dilanjutkan
’berbulan madu’ ke Kota Palu melaksanakan surat penempatan saya dari
kantor pusat Ditjen Anggaran, Allah menunjukkan kemurahannya kepada
saya. Sampai di Palu saya disambut senior saya yang saya tidak mengenal
sebelumnya. Kebetulan juga beliau mau pindah ke Batam, jadi perkakas
rumah tangganya diberikan kepada saya.   ”Ini adalah rizki yang tidak di 
sangka-sangka yang diberikan Allah kepada saya,” pikir saya.  Rupanya
Allah itu tidak pernah bosan memberikan kasih sayangnya kepada
hamba-hamba-Nya. Ini saya rasakan ketika saya mengantar istri yang akan
melahirkan di Jakarta. Selama di kapal dalam perjalanan Pantoloan
(Palu) sampai pelabuhan Ujung Pandang, saya mendapat teman ngobrol. Kami sangat 
akrab, dia saya ajak untuk menikmati perbekalan kami. Kami
naik kapal kelas ekonomi. Sampai di Ujung Pandang tidak ada sesuatu
yang mecurigakan. Selepas pelabuhan dan melanjutkan ke Surabaya, ada
sesuatu yang hilang. Istri saya membuka tas tempat menaruha uang tujuh
ratus ribu, ternyata empat ratus ribuan hilang beserta cinci mahar
nikah istri saya. Istri saya menangis, kami tidak terpikirkan bagaimana
untuk ongkos melahirkan dan kembali lagi ke Palu. Tapi yah, apa boleh
buat. Sudah hilang. Kita berusaha tabah dan mengikhlaskannya.  Kemurahan
Allah datang lagi, pada waktu melahirkan, tidak keluar uang banyak.
Hanya membayar tiga puluh ribu rupiah, istri saya melahirkan di
puskesmas.   Dan rasa-rasanya kemurahan Allah itu datang hingga sekarang. 
Semoga saja tidak akan pernah putus.   Dan ternyata ... berbuat baik itu 
menyenangkan. Sangat menyenangkan.  Wallahu a’lam.
www.bangibad.blogspot.com



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke