Perjalanan Khianat

        Entah apa yang terjadi,,, hampir dua tahun terkadang bahkan sering saya 
lupa pada_Nya. Tiada doa teralirkan lagi kecuali meminta dipanggil ke sisi_Nya 
sebelum semua keluarga saya, walau egois memang. 
        Saya hanya menjalani hidup apa adanya,,, mengalir seiring waktu, 
keinginan pasti ada tanpa mohon dan pinta, terkadang saya menolak,,, tapi Ia 
selalu memberi hal-hal terbaik,,, selalu dan selalu sampai sangat banyak orang 
mengatakan saya sangat beruntung. 
Hingga suatu saat jiwa saya terusik oleh hati, saat mantan wakil ketua BEM 
saya, mas Yudhi menanyakan karakter diri, saya merasa bukan siapa-siapa, tidak 
tahu siapa sebenarnya yang ada dalam tubuh ini. Saya merasa ada sesuatu yang 
hilang, bukan pada saat itu,,, tapi hampir dua tahun ini,,, dan mas Yudhi hanya 
mengingatkan rasa kehilangan itu. Saya tidak ingin ada lagi pengingat tentang 
rasa kehilangan maya,,, dan saya memutuskan untuk mencari apa yang hilang. 
Saya mengutus jiwa dan hati yang berseteru untuk mencari jawaban dalam labirin 
pikiran,,, dan akhirnya bersama pikiran, mereka menjelajahi masa lalu, harapan, 
dan mimpi-mimpi saya untuk pencarian. Setiap jengkal neuron mereka bangunkan 
dan bertanya padanya tentang apa yang hilang. Pada saat neuron tak bsa 
menjawab, neuronpun terus berpikir mencari jawaban dan tak mau tidur. Jiwa, 
hati, dan pikiran terus mencari sampai hampir semua neuron terbangun tapi tak 
ada yang bisa menjawab. 
Jiwa, hati, dan pikiran saya selalu memegang satu prinsip dalam pencarian,,, 
`Saya percaya pada Allah', dan mereka sangat tercengang saat mereka akhirnya 
menyimpulkan saja apa yang dicari karena tak ada neuron yang bisa menjawab,,, 
saya mencari tuhan yang padahal menjadi prinsip yang tak akan terduakan atau 
meluruh dalam tiap jejak pencarian. Pertanyaannya, Apa yang terjadi dengan 
prinsip yang tak terduakan bahkan tidak akan meluruh itu? Apakah dia sedih dan 
akan pergi dengan perlakuanku yang hanya menjadikannya prinsip? 
Saya senang akhirnya setelah dua bulan menemukan apa yang akan saya cari, tapi 
saya sedih menemukan apa yang akan saya cari, karena selama ini saya merasa 
saya sangat setia padanya. Dengan tekad penuh dan energy kesedihan, akhirnya 
saya mencarinya dari dunia terluar yang saya tahu, the universe, jagat raya. 
Saya mengetahui sedikit tentangnya, lalu galaksi, saya juga hanya sedikit tahu, 
bumipun begitu, sampai akhirnya saya bertanya tentang diri saya sendiri, dan 
ternyata yang saya tahu hanyalah hal-hal maya, abstrak, bukan realistis,,, yang 
berarti SAYA TIDAK TAHU APA-APA…  Saya down, saya jatuh, tidak ada ekspresi 
yang bisa menggambarkannya. Saya terdiam,,, sesaat… 
Saya mencoba kembali ke pertanyaan awal,,, tentang universe sampai ke diri 
saya,,, akhirnya saya bertanya apakah jagat raya memang seperti yang saya tahu, 
yang digambarkan ilmuwan-ilmuwan di buku-buku, mengapa tidak ada jenis lain 
yang seperti manusia kalau memang ada planet lainnya,,, atau jagat raya memang 
tidak ada? Seperti tiadanya galaksi maupun bumi,,, tapi semakin dalam saya 
berpikir,,, saya akhirnya bertanya apakah saya ada? Apakah saya hanya sebuah 
gelombang pikir yang bisa tiba-tiba hilang? Apakah saya hanya sebuah mimpi dari 
sesuatu yang pada saat sesuatu itu bangun saya ternyata tidak ada? Atau saya 
memang tidak ada… 
Saya terus mencari segala kemungkinan jawaban, saya menunggu dari setiap neuron 
yang tlah saya bangunkan, tapi tak ada jawaban untuk itu. Yang timbul hanyalah 
gambaran diri yang berada di tengah bangunan bekas kerusakan, sendirian, 
seperti inti neuron yang bercabang-cabang, tiba-tiba cabang-cabang meretak, dan 
bangunan runtuh bersama saya yang luruh. Akhirnya saya menghentikan pencarian. 
Besoknya saya ikut ESQ basic training yang sudah berkali-kali saya ikuti, bukan 
untuk pencarian, hanya ingin merasa dibutuhkan, bukan ria, hanya ingin merasa 
ada dan diakui, karena saya belum memutuskan tuk percaya pada pertanyaan yang 
saya ajukan. Di sini saya tersadar, tentang perkataan Syifa, seorang teman yang 
umurnya hanya lebih muda satu hari dari saya. ` Kebetulan itu ga ada mb Yovin'… 
Di sini perkataan Syifa dibuktikan oleh_Nya. 
Bukan suatu kebetulan saya pernah ikut training ESQ, yang bukan kebetulan saya 
bersama Dian saat mas Gun mengutus undangan ESQ FPIK, yang hampir saja tidak 
jadi karena datang hanya di hari kedua dan tidak diperbolehkan masuk, yang 
bukan kebetulan ada kak Reggy yang memperbolehkan kami masuk, yang bukan 
kebetulan Allah selalu memberi hal-hal terbaik pada saya untuk mengetuk pintu 
hati saya tapi belum juga saya sadari, yang bukan kebetulan saya tidak jadi 
pulang liburan semester yang sudah direncanakan sehingga saya ikut LKMM Madya 
dan yang bukan kebetulan kata-kata sederhana mas Yudhi membangunkan jiwa  dan 
hati saya. 
Semuanya bukan kebetulan, terutama saat mata saya terbuka lebar-lebar di waktu 
sebuah ayat terpampang di layar ESQ yang besar sekali, `TIDAK KUCIPTAKAN JIN 
DAN MANUSIA KECUALI UNTUK MENYEMBAHKU'. Saya terpana, tercengang, dan saya 
sadar,,, saya belum mengetuk neuron-neuron spiritual saat pencarian saya, 
padahal saya tahu saya mencari Allah,,, saya menangis dan bersujud pada_Nya, 
menyadari kesombongan saya selama ini yang menuhankan logika dan meletakkan 
sebuah keraguan pada_Nya tentang ciptaan_Nya. Saya percaya pada Dia sehingga 
tak kan ada masalah-masalah besar karena ada Allah Maha Besar. Dan saya 
bersyukur telah menemukan kembali Allah yang tak pernah hilang yang bahkan 
lebih dekat dari urat nadi saya, dan saya ingin Allah jangan pernah 
meninggalkan saya, karena saya mencintainya lebih dari apapun,,, makna 
lailahaillallah benar-benar mengalir dalam darah saya. Dan saya merasakan 
menjadi manusia yang nol, yang hanya punya Allah dan itu jauh-jauh lebih banyak 
dari kepunyaan apapun…

Yovina Mulyadi
Dalam pencarian tak terbatas yang penuh batas









Suara Cinta

Hal yang tak sempat tersampaikan 
yang ingin kuungkapkan padamu
Tuhan memberi sangat banyak kemudahan dan rezeki bagiku
Bukan hanya bahagia dipapahkan tapi kebingungan yang sangat 
Karna ku tak pernah pinta_Nya
Ku tlah berkata menemukan_Nya,,,
tapi  belum tahu hakikat segalanya saat itu
Pertemuan denganmu memang takdir_Nya
Dengan segala komplikasi di dalam dan luar logika, 
entah cinta dan segala
Ternyata menjadi pintu terluas yang pernah kutemukan
Menuju dunia lain dalam alam ini
Dunia penuh batas yang sangat tak terbatas
Pikiran manusia
Aku tlah mengetuk pintu itu sampai berkeliling
Melihat segala labirin luar biasa itu
Mendalami setiap liku akhirnya jadi pilihan utama
Bersama hati dan jiwa yang ditemani pikir
Mencari apa yang dicari
Berpindah antara masa lalu, harapan, dan mimpi-mimpi
Sampai ku pada pintu berikutnya
Jawaban mencengangkan,,, aku mencari tuhan
yang slama ini tlah kutemukan
Waktu-waktu pencarian nyata
Berputar diluar keakuanku
Dan tlah tiba saatnya ku hanya diam
Tiada ada jawaban lagi
atas Tanya eksistensi diri
Tak ada jawaban
Pertanyaan terhenti,,, kukeluar dari labirin pikir
Berjalan ke realita
Mencari tak bermaya
Oh tuhan, sungguh hamba tak tahu diri
Semua jawab hanya padamu
Aku memang ada
Aku memang ada
Ku tak hanya temukan Mu tapi juga aku dan tiadaku
Jiwa hati dan pikiranku tlah berdamai
Dalam satu suara cinta padamu, demi engkau segalanya

Yovina Mulyadi (Nurheart)




Kirim email ke