"Curi aku dari pamanku," katanya.
Lama bergaul dengan orang-orang Hong Pho, aku sedikit banyak paham metafor 
mereka. Jika seorang perempuan Ho Pho meminta seorang lelaki mencuri dirinya 
dari keluarganya, itu artinya ia bersedia dipinang.
Langsung kusampaikan pada Chung Fa. Ia senang.Katanya, ia tak kan 
menghalangiku. Sepanjang malam tak dapat kupicingkan mata untuk tidur. Karena 
untuk kali pertamanya dalam hidupku, aku disergap oleh satu kata sakti 
mandragunayang tak terbilang banyaknya mengubah hidup orang di muka bumi. 
Dadaku berubah menjadi kaleng, dan kata itu menjelma menjadi tawon yang 
terjebak berdengung-dengung dalam kaleng itu. Kata nan sakti itu adalah : 
menikah.
Terlalu cepatkah ini?
Tidak, bukankah aku telah mencintai perempuan Ho Pho itu seumur hidupku? 
Terlalu besarkah rencana ini sehingga aku tak mampu menanganinya? Tapi aku 
telah mengalami demikian banyak hal besar dalam hidupku, tak pernah aku sampai 
tak bisa menggambarkan perasaanku seperti sekarang. Ketika ia hilang tak tahu 
rimbanya, aku juga telah mencarinya seakan seumur hidupku. Kata menikah 
benar-benar membuatku gugup.Karena terlalu besar cinta, demikian besar, 
sehingga sulit kupercaya kata ajaib itu akhirnya menghampiriku.
Aku dilanda perasaan yang tak terjelaskan. Khayalan-khayalan fantastik tentang 
menikah dan rumah tangga menyerbuku. Aku telah jadi orang yang berbeda. Sungguh 
dahsyat akibat dari ide menikah ini. Di dalam kepalaku sekarang ada 
gambar-gambar, misalnya foto keluarga, beranda rumah, perempuan hamil, suara 
anak kecil, cangkir the, orang sedang menyiram bunga, aneh, lucu, tapi indah.
Aku menatap mata A Ling dalam-dalam. Ia melihatku dengan cara bahwa ia tahu aku 
tak mungkin kehilangan dirinya, dan ia tahu, bahwa dalam matanya itu, aku telah 
menemukan diriku sendiri, seorang lain yang telah pula kucari-cari sepanjang 
hidupku. Sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa dari seluruh 
lika-liku hidupku, untuk perempuan inilah aku telah dilahirkan. Jarak antara 
kedua matanya adalah bentangan titik zenit dan nadir ekspedisi hidupku. Di 
dalam kedua mata itu, petualanganku menempuh benua demi benua, menyeberangi 
samudra, mengarungi padang, dan melawan angin, telah mencapai tujuannya. Aku 
jatuh cinta, sungguh jatuh cinta. Kini tak ada hal lain yang kuinginkan selain 
mencari nafkah dekat-dekat rumah saja, lalu segera pulang untuk perempuan ini, 
seseorang yang aku ingin memakai namaku dibelakang namanya, seseorang yang 
ingin kulihat kali terakhir jika aku berangkat tidur dan kulihat kali pertama 
jika aku bangun.
(Maryamah Karpov, Andrea Hirata)
Intinya : Lelaki itu mencari gadis pujaannya lebih ke setengah bagian dunia, 
sampai membuat kapal  dan berlayar dengan segala rintangan nyata ataupun gaib. 
Setelah menemukan gadis itu dalam penderitaan dan membawanya pulang, ia minta 
izin ke ayahnya untuk menikah. Ayahnya yang selalu berkata ia untuk semua 
permintaannya sesulit apapun, kali ini untuk keinginan terbesarnya tergugu dan 
berkata TIDAKĀ…

Kirim email ke