Dalam Mimpi Dua Lelaki


Pembaca yang budiman, di sini pada kesempatan yang baik ini pula, aku ingin
mnegajak pembaca sekalian untuk ikut merasakan apa yang aku rasakan dalam
kehidupanku ini.



Curahan hatiku yang akan aku beberkan semua di sini tanpa harus membuka jati
diriku yang sesungguhnya. Mungkin semua orang atau bahkan seluruh dunia bila
melihatku pasti langsung bisa menebak kalau aku seorang gadis yang amat
sangat lugu dan polos, terlihat dari penampilanku, gaya bicaraku, cara
pandangku, jalan pikiranku. Semuanya setuju memvonis kalau aku gadis yang
lugu.

Nah, mungkin dari kepolosanku itulah ladang usaha bagi seseorang untuk
membodohiku bahkan sampai menyakitiku.



Tepatnya waktu aku berumur 21 tahun datanglah seorang pemuda ke dalam
kehidupanku. Mungkin dari kepolosanku waktu itu, aku langsung mengiyakan
ketika dia mengajak berpacaran. Juga dari keluguanku itulah aku berpikir,
bahwa semua pemuda itu baik, sehingga aku berani memutuskan pacaran walaupun
baru dalam 2 minggu perkenalan.



Hari-hariku menjadi indah, dunia seakan milik berdua. Karena itu adalah
cinta pertamaku. Kenangan yang tak pernah tergantikan. Khayalanku pun
semakin tinggi, aku berharap dia adalah lelaki yang diciptakan untukku, jadi
pasanganku, jadi jodohku untuk yang pertama dan terakhir dalam kehidupanku.



Tapi mimpi tak selamanya jadi kenyataan, keinginan tak selamanya bisa
terwujud, dan khayalan tak selamanya sesuai harapan.



Saat kubuka dan kubaca surat beramplop kuning, di bait terakhir bertuliskan
"semoga dukamu hari ini menjadi senyummu di hari esok". Hatiku hancur
berkeping-keping. Cinta pertamaku putus di tengah jalan. Aku tidak bisa
menerima semua ini. Dia lebih memilih wanita lain yang memang jauh lebih
segala-galanya dari diriku. Sedangkan aku hanya punya cinta dan kesetiaan.
Tak lebih dari itu.



Mimpiku musnah sudah. Rencana pernikahan yang pernah kami rancang, harus aku
kubur sendiri dalam-dalam. Saat itu aku hanya bisa menangis dan larut dalam
kesedihan. Dalam kegelisahanku, aku pernah berniat untuk mengakhiri hidupku.
Alhamdulillah, karena sedikit bekal ilmu agama aku mengurungkan niatku,
bahwa seseorang tak berhak meminta paksa nyawa seseorang apalagi nyawanya
sendiri. Tapi aku harus bangkit, aku harus menerima dan siap menghadapi
kenyataan terburuk sekalipun. Mungkin itu adalah konsekwensinya orang
bercinta. yah, patah hati.



Perlahan namun pasti, itulah yang aku rasakan waktu itu. Aku mulai membuka
lembaran-lembaran hidupku yang baru dan menutup rapat-rapat kenangan masa
laluku yang suram.



Enam bulan berlalu, ada peristiwa yang tak pernah terlupakan dalam hidupku.
Aku dipaksa kawin orangtuaku dengan seseorang yang sama sekali tidak aku
cintai. Terasa belum pulih ingatanku tentang cinta pertamaku yang putus di
tengah jalan, sudah ada masalah yang siap menanti.



Hatiku hancur manakala orangtuaku menyetujui pernikahan itu. Mengapa mereka
tidak menanyakan hal itu kepadaku, bukankah itu hak seorang gadis untuk
menerima atau menolak pinangan seseorang?



Dua bulan kemudian pernikahan itu berlangsung. Aku mungkin bisa saja
menggagalkan pernikahan itu dengan cara kabur atau apalah, tapi itu tidak
bisa menyelesaikan masalah. Aku harus menjaga nama baik keluargaku di mata
masyarakat, walaupun harus dengan mengorbankan diriku sendiri.



Ketika aku resmi menjadi seorang istri, aku hanya bisa berharap ini adalah
yang terbaik untukku. Awal dari kebahagiaanku. Tapi aku merasa diriku
ditakdirkan hanya untuk menderita. Kebahagiaan seakan sealalu menjauh dari
kehidupanku. Semua yang aku impikan dalam pernikahanku ternyata awal dari
penderitaan hidupku yang sesungguhnya.



Pertama mneginjakkan kaki di rumah suamiku, aku disambut wajah masam oleh
ibu mertuaku, pertanda ketidaksukaannya padaku. Tapi mengapa dia tidak
menghentikan saja pernikahanku bila tidak bisa menerima kehadiranku?
Seandainya dia tidak mengijinkan pernikahan itu terjadi, aku pasti akan
berbahagia dan tidak akan merasakan semuanya ini. tapi nasi sudah menjadi
bubur, aku harus tegar menjalani semua ini.



Hari-hari bertambah kelam. Seperti di neraka, panas dan membosankan. Sebutan
kere dan sial selalu mnejadi makanan sehari-hariku, apalagi bila suamiku
tidak ada di rumah, aku seperti mendengarkan radio non-stop yang selalu
mengusik panas di telinga. Aku memang selalu mengeluh pada Tuhan, mengapa
kau mendapat suami yang sama sekali tidak aku cintai dan ibu mertua yang
sangat membenciku.



Selang beberapa bulan aku hamil, dan akhirnya melahirkan seorang anak
laki-laki. Aku berharap dengan melahirkan cucunya, ibu mertuaku bisa
mengubah sikapnya ke aku. Ternyata tidak sama sekali, ia masih tetap acuh
tak acuh kepadaku.



Akhirnya kami berdua sepakat untuk mempunyai rumah sendiri. Aku mulai
membuka diri untuk suamiku. AKu merasa sangat membutuhkannya. Dia memang
suami yang baik dan bertanggung jawab. Perlahan aku mulai mencintainya. AKu
juga merasa sangat bahagia karena sudah tidak satu atap lagi dengan ibu
mertuaku. Tapi kebahagiaan itu hanya sekejap aku rasakan. Dia masih saja
mengganggu kehidupan rumah tanggaku.



Tak beberapa lama, ibu mertuaku mengalami sakit keras. kabar yang sangat
mengagetkan, lebih mengagetkan lagi ketika dia memberikan pilihan kepada
suamiku; melihat ibunya meninggal atau harus menceraikna istrinya. Dua hal
yang sangat membingungkan hati suamiku, antara ibu yang telah melahirkan dan
membesarkan atau istri yang telah memberikan keturunan.



Aku bingung, dalam kondisi seperti itu pun ibu mertuaku masih saja
membenciku, hanya karena kau terlahir dari keluarga yang tidak mampu.



Ketakutan yang kusimpan sendiri akhirnya terjawab sudah. Suamiku lebih
memilih ibunya daripada harus mempertahankan rumah tangganya. Seperti
disambar gledek di siang bolong ketika suamiku mengucapkan talak satu
kepadaku. Linangan air mata tak terbendung lagi. Rasa cinta yang mulai
kupupuk kini luntur sudah bersamaan dengan derasnya air mata yang mengalir.
rasa itu lebih menyakitkan daripada cinta pertamaku yang putus di tengah
jalan. Tapi aku harus kuat menjalani semua ini. Aku tidak boleh larut dalam
kesedihan, karena itu perbuatan sia-sia, seperti membuang garm ke laut.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuaku. Dengan status janda ku
orang-orang di sekelilingku mulai membicarakanku. Singkat cerita, aku
dipertemukan kembali dengan cinta pertamaku yang kebetulan sudah meduda
selama dua tahun karena dicampakkan istrinya. Aku bersimpati kepadanya
seolah aku lupa akan semuahal menyakitkan yang pernah dilakukan kepadaku.
Karena status yang sama, akhirnya kami semakin dekat. benih-benih cinta kini
mulai tumbuh kembali, istilahnya cinta lama bersemi kembali.



Kebahagiaan serasa menghampiri kehidupanku waktu itu. tapi di tengah
kebahagiaan itu, datang mantan suamiku. Dia mengajakku rujuk kembali. Dia
merasa sudah tidak ada yang menghalangi untuk hidup bersamaku lagi, karena
ibunya sudah meninggal. Dia ingin kumpul lagi seperti dulu, bahagia bersama
ayah-ibunya. Sedangkan aku seperti mendapat tekanan batin. Aku sudah
terlanjur janji untuk hidup bersama dengan cinta pertamaku.



Aku dihadapkan pada persoalan yang rumit. Dihadapkan pada dua lelaki yang
pernah masuk dalam kehidupanku sekaligus yang pernah menyakitiku. Aku
bingung dengan semua ini. Satu sisi aku ingin hidup bahagia bersama cinta
pertamaku, juga aku merasa tidak sanggup berpisah darinya. Sisi lain bila
kau melihat buah hatiku, orang yang paling aku sayangi di dunia ini,
menderita, aku paling tidak tega. Aku tidak tega menghancurkan harapannya
untuk kumpul bersama ayah dan ibunya.



Pembaca, seandainya itu terjadi pada Anda, siapakah yang akan Anda pilih?
Haruskan menuruti ego dan buah hati menderita, ataukah menuruti sang buah
hati tapi hati terasa tersiksa? Aku mohon pecahkanlah permasalanku...



*Kisah Arifah dari Welahan Jepara*


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke