Kembalilah Kepadaku,
Wied...<http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2007/01/02/83/Kembalilah.Kepadaku..Wied...>



Wiwied (26) telah kunikahi selama dua tahun, pernikahan kami memang
dilandasi oleh cinta. Dan menurutku Wiwied adalah seorang istri yang sangat
kudambakan, maka segera kunikahi Wiwied setelah mengenalnya selama empat
bulan.



Wiwied cukup terampil menjadi ibu rumah tangga, pilihan hidup yang memang
disukainya. Wiwied tidak suka berkarier walaupun dia adalah sarjana sastra
dari perguruan tinggi terkenal di Semarang. Aku menyetujui pilihan hidup
Wiwied untuk berkarir di rumah saja sebagai ibu rumah tangga. Toh menurutku
ibu rumah tangga adalah karier terhebat, karena di tangannya seluruh aspek
rumah tangga termasuk anak-anak menjadi tanggung jawabnya. Ibuku juga wanita
rumah tangga biasa. Dan berkat tangan beliaulah aku belajar mandiri sampai
bisa hidup seperti ini. Wiwied seperti cermin ibuku.



Memasuki bulan ke lima pernikahanku, mendadak aku dikejutkan oleh kedatangan
tamu di malam hari saat kami berdua menjelang tidur. Tamu tersebut mengetuk
rumah kami dengan keras, hingga aku dan Wiwied terperanjat dan mengira yang
datang adalah perampok. Dari jendela kuintip, yang datang adalah seorang ibu
bersama anak muda yang memasang muka marah kepadaku. Kubuka pintu dan
kutanyakan keinginannya. Ternyata ibu tersebut meminta pelunasan hutang
Wiwied dan dengan setengah berteriak ibu tersebut mengancam akan mengambil
barang barang di rumah kami. Wiwied ketakutan saat kutanya, untuk apa uang
itu sampai dia berhutang. Wiwied menangis sesenggukan dan mengatakan bahwa
dia berhutang untuk membayar uang sekolah adiknya. Aku tak mampu berkata,
karena semua gajiku telah kuberikan padanya. Apalagi untuk sekolah adiknya,
tak bisa aku memarahinya. Dengan lemas, aku meminta waktu kepada penagih
itu, dan kujaminkan diriku atas nama Tuhan, untuk membayar hutang mereka.



Sebagai suami, tentu saja aku mencoba memahaminya dan meminjam uang dari
perusahaan di mana aku bekerja untuk melunasi hutang Wiwied tersebut.
Kuberitahu ke Wiwied, untuk hutang di kantor, tiap bulan gajiku akan
dipotong 30 persen. Wiwied meminta maaf, aku memaafkan. Untuk membela
adiknya, tak mengapalah dia sampai "merusak" gajiku. Apalagi dia telah
berjanji tak akan mengulangi. "Lain kali aku akan bilang kepada Mas,"
janjinya.



Sebulan setelah peristiwa tersebut, mendadak aku dikejutkan lagi oleh
seorang ibu yang pagi-pagi sekali sudah bertamu ke rumahku dan kembali
berteriak mengancam akan mengambil barang-barang dari rumah kami, jika
Wiwied tak melunasi hutangnya. Apa lagi ini? Kenapa berulang? Kuhadapi ibu
itu, dan dengan melepaskan jam tanganku sajalah ibu itu mau pergi. Itu pun
setelah dia membaca nota pembelian jamku, yang lebih daripada tagihan utang
yang akan dia terima. Tuhan, aku mulai merasa tak nyaman dengan istriku.



Dan benarlah, itu bukan peristiwa yang terakhir. Peristiwa yang sama
berulangkali terjadi. Kegaduhan karena tagihan utang itu membuat tetanggaku
acap keluar rumah. Aku malu. Untunglah, atau malanglah, seringkali kejadian
itu, dari cerita pak RT, ketika aku sudah ke kantor. Dan satu aku lunasi,
datang lagi yang lain. Wiwied tak pernah kapok. Aku mulai berpikir kalau dia
"sakit". Aku mulai ragu dengan pernikahan kami. Dia seperti kecanduan,
kesurupan dalam berhutang.



Pembaca tahu untuk apa uang hasil hutang itu? Dia membeli baju, sepatu tas,
kosmetik dengan merek merek terkenal yang acap dia pamerkan ke temen-teman
senamnya, teman semasa kuliahnya. Dan kutahu kemudian, dia juga menjadikan
itu pameran untuk para mantan pacarnya. Olala, ternyata penyakit hidup dalam
kemewahan itu telah jadi obsesinya sejak dulu.



Wiwied hampir membuatku gila, dia tak dapat menahan dirinya untuk tidak
berbelanja. Semua ingin dibelinya padahal sebagai satf karyawan perusahaan
swasta, gajiku tidak lagi seberapa setelah dipotong pinjamanku untuk
"adkinya" itu. Dan semua uang gajiku ludes di tangannya dalam hitungan hari
saja. Sedangkan Wiwied istriku bergaya bak istri pejabat dengan penampilan
yang glamours. Wiwied lupa diri.



Berkali kali kukatakan kepada Wiwied untuk menyudahi ulahnya tersebut,
karena satu persatu barang di rumah kami sudah kami jual sebagai pencicil
hutang. Wiwied menangis dan mengatakan bahwa dirinya sangat menyesal dan
tidak mau melakukannya lagi. Tapi ternyata semua itu hanya di mulut saja.
Penagih tetap datang. Dan yang kutahu, meski dia tak lagi berhutang, tapi
timbunan hutangnya itu telah terlalu banyak dan jatuh tempo nyaris di waktu
yang bersamaan. Sampai suatu waktu, kesabaranku habis. Aku tampar dia,
ketika datang penagih dengan jumlah yang sangat besar. Tak ada lagi yang
bisa kulakukan. Tak kutahu, apa yang bisa membuat dia kapok. Jalan terakhir
pun kutempuh. Kepada penagih utang kuminta mengambil semua barang di
rumahku, dari komputer dan teve, juga meja dan lemari, tempat tidur dan
kompor gas, semuanya. Rumahku kosong. Yang tertinggal hanyalah debu karpet
saja. dengan begitu aku harap Wiwied akan tersadar. Malam itu aku tidur di
lantai beralas busa gulung, dan kulihat Wiwied menangis semalaman hingga
matanya bengkak di keesokan paginya. Aku yakin, kali ini dia telah sadar.



Saat berangkat ke kantor, Wiwied kembali meminta maaf dan mengatakan bahwa
ini semua adalah pelajaran mahal yang harus dia bayar. Kukatakan bahwa aku
akan menjual rumah tinggal kami, untuk mencari tempat tinggal baru dan
memulai hidup baru. Jauh dari tetangga yang telah tahu keburukan kami. Dia
hanya diam saja.



Sepulang kerja, tak kutemukan Wiwied di rumah, hanya selembar surat yang
ditujukan kepadaku, bahwa dia telah pergi meninggalkanku. Tidak sampai di
situ, yang membuatku terperanjat adalah ternyata surat rumah kami sudah
digadaikannya kepada orang lain. Gila. Gila!!!



Kucari Wiwied ke rumah orang tuanya, ibunya mengatakan bahwa Wiwied sudah
lama sekali tidak datang ke rumah keluarganya. Dia juga mengabarkan bahwa
Wiwied berhutang sejumlah uang kepada ibunya. Aku cuma bengong. Istriku yang
manis itu, tak kusangka telah berbuat sejauh itu.



Kini 6 bulan telah aku tinggal sendiri. Masih di rumah yang sama. Sudah
habis semua tabunganku untuk menebus rumah ini, dan Wiwied tak juga kutahu
kabarnya. Sungguh, jika kamu baca cerita ini, Wied, dan kamu berjanji mau
berubah, kuterima engkau kembali. Aku mau melupakan semua yang telah
terjadi. Aku ingin kamu kembali dan kita membangun kembali impian kita. Aku
tak bisa bayangkan, apa yang terjadi dengan kamu di luar sana, dalam
keterbatasanmu itu. Ijazahmu pun masih di rumah kita. Apa yang kamu bisa.
Kembalilah....



Sebagaimana yang dituturkan Wahjudi


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke