Keberlimpahan adalah Sikap Hidup

Orang sering mencampuradukkan hakikat diri dengan banyaknya uang yang
dihasilkannya. Lazimlah anggapan orang kaya punya peluang lebih besar
daripada orang miskin. Padahal apakah dia berpenghasilan US$1 juta
setahun atau hanya US$15.000 setahun, setiap orang masih berkemampuan
meraih tingkat keberlimpahan tertentu dalam hidupnya.

Bisa dicontohkan saat Nazi menguasai Jerman, banyak sekali warga
masyarakat yang kaya raya dirampas-tumpas kehidupannya dalam arti
sesungguhnya. Mereka yang hartanya disita ini kemudian dibawa dan
dipastikan nasibnya di kamp-kamp konsentrasi. Namun dalam tekanan
hampir niscaya berujung maut itu bisa dijumpai sosok-sosok inspirator
istimewa.

Sebut Viktor E. Frankle atau Anne Frank yang meskipun berada dalam
situasi kemiskinan terburuk karena tak ada sesuatu pun yang
tertinggal, kini mereka dianggap punya kehidupan berkelimpahan. Dalam
Man's Search for Meaning, Frankle mengatakan bahwa satu-satunya milik
pribadi yang tak akan pernah dapat diambil adalah sikap.

"Kami yang hidup di kamp-kamp konsentrasi bisa mengingat sejumlah
penghuni kamp saat berjalan menuju ruang eksekusi berusaha membantu
orang lain, memberikan potongan terakhir rotinya. Mungkin potongan
itu tak berarti, tapi mereka mereka memberi cukup bukti bahwa apapun
bisa dirampas dari seorang manusia, kecuali satu: `kemerdekaan
terakhirnya' untuk memilih satu sikap dalam situasi penuh
keterbatasan, memilihcaranya sendiri.

Frankle yang seorang psikolog, mengadopsi satu sikap kreatif yang
membantunya bertahan dalam neraka dan mimpi buruk kehidupan di satu
kamp konsentrasi. Dia bisa mewujudkan keberlimpahan internal dirinya
dengan menjalankan haknya melakukan itu. Sikap sama memandunya meniti
setapak untuk mencapai dan hidup dalam keberlimpahan begitu keluar
kamp konsentrasi.

Kita Saluran Keberlimpahan
Saat berpikir tentang kesejahteraan (prosperity), pengertian bahwa
sumber dayalah yang mengalir menuju diri seseorang akan sangat
membantu pemahaman. Kita hanya semacam saluran bagi keberlimpahan.
Begitu hal ini disadari, selanjutnya kita meulai mengidentifikasi
fakta dan kenyataan bahwa kita juga yang menentukan bagaimana
mengalirkan sumber daya ini.

Frankle menegaskan adanya pembedaan ini saat dia dikurung di sejumlah
kamp konsentrasi, saat satu per satu barang miliknya dilolosi dari
tubuh, termasuk sepatunya. Satu-satunya yang tertinggal dalam dirinya
adalah kemampuan untuk meyakini dan memegang teguh gagasan dia masih
orang yang baik, meskipun semua telah dirampas.

Inilah pembedaan penting yang harus dibuat karena dengan begitu kini
punya atau tidak punya uang tidak lagi merupakan bagian dari
pertanyaan tentang harga diri (self-worth). Uang tidak menentukan
siapa Anda karena hanya satu merupakan satu sumber daya. Yang sungguh
penting adalah punya satu rasa diri (inner sense of self). Uang hanya
satu unsur eksternal.

Begitu seseorang berhenti menyamakan harga dirinya dengan uang, pintu-
pintu kemungkinan pun berayun membuka baginya karena mereka mau
mencoba lebih banyak hal. Sejak mereka punya perasaan yang lebih baik
tentang dirinya, mereka menjadi lebih berani dan membuka pikiran dan
wawasannya untuk mencoba sesuatu dengan cara yang sama sekali beda.

Jadi, dalam istilah para pakar Neuro Linguistic Programming (NLP),
penentu sukses tidaknya usaha yang dilakukan hanya soal berkata pada
diri sendiri, "Inilah hasil yang kuinginkan dan ada sejumlah cara
tersedia yang bisa dilakukan untuk mencapai. Sejumlah kemungkinan.
Jika cara yang satu gagal, kemudian aku akan mencoba cara yang lain."

Dan bila hasil masih belum sesuai yang diharapkan, itu hanya
merupakan umpan balik bahwa Anda perlu mencoba cara yang lain lagi.
Hal ini tak berarti Anda gagal atau pribadi yang menyedihkan. Itu
hanya berarti ada satu atau lebih cara di luar sana yang akhirnya
akan berfungsi dan itu berada di luar diri Anda. Anda masih orang
yang sama di dalam diri.

Yang Terpenting: Sikap
Mengukur harga diri dari seberapa banyak duit yang dimiliki seseorang
bisa sangat merusak. Bisa dicontohkan dari cerita seorang wanita yang
punya kekayaan senilai US$17 juta yang dirancang baginya dalam satu
rekening dana perwalian oleh orangtuanya. Rekening itu akan
menghasilkan bunga sedikitnya US$800.000 per tahun selama dia masih
hidup.

Wanita ini menemukan identitas dan harga dirinya dalam gaya hidup
(lifestyle) yang dijalani sehari-hari dan seberapa banyak yang
dimilikinya. Dalam satu kesempatan jalan-jalan cuci mata di satu
department store di kotanya, dia membelanjakan US$18.000 di bagian
pakaian dalam.

Hampir semua yang dilakukannya—khususnya saat membelanjakan uang
berjumlah besar—merupakan hasil membandingkan diri dengan kakaknya.
Saudarinya ini juga dalam situasi sama: punya rekening perwalian yang
memberi hasil banyak dari bunganya saja. Namun sang kakak ini tak
pernah menilai uang sebagai salah satu aspek yang menentukan
identitasnya.

Sang kakak tak pernah menjadikan seberapa banyak kekayaan sebagai
penentu harga dirinya. Baginya semua yang dinikmati sekarang akan
berkurang dan bahkan hilang bila ada masalah. Dia menikah dan memulai
sejumlah bisnis bersama suaminya. Mereka akhirnya menjadi sangat
sukses dengan usaha sendiri dan setelah bertahun-tahun penghasilan
dari dana perwalian relatif kecil dibandingkan penghasilan dari
bisnisnya.

Dalam kurun waktu sama, wanita yang mendasarkan identitas dan harga
dirinya pada apa yang dimilikinya menariknya terus membelanjakan uang
dalam jumlah besar untuk bisa mengimbangi kakaknya. Wanita itu
akhirnya bangkrut karena hanya mengandalkan dari satu sumber daya.
Inti cerita ekstrim ini menegaskan: sikaplah yang menentukan orang
akan terus dalam keberlimpahan atau bangkrut.

Sumber: Keberlimpahan adalah Sikap Hidup oleh Rab A. Broto. Rab A.
Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan
dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Kini
Rab A. Broto Buletin pemimpin redaksi "Bee Parents" dan anggota dewan
redaksi majalah bulanan "Indonesian Tax Review Digest" yang
diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [email protected] 
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke