Komunikasi

Pagi-pagi Yanto diberitahu oleh direksi bahwa dia harus memimpin
rapat bagian penjualan lagi minggu depan. Mendengar hal itu, Yanto
langsung lemas. Memimpin rapat termasuk salah satu hal yang
ditakutinya.

Bagaimana tidak? Meskipun jabatannya sebagai marketing support, dia
adalah satu-satunya karyawan yang baru bekerja empat bulan, sedangkan
semua anggota rapat adalah karyawan yang sudah bisa disebut senior di
bidangnya. Selain senior, mereka juga sering memandang rendah orang
lain.

Yanto sendiri heran mengapa harus dia yang memimpin rapat, mengapa
tidak orang lain yang lebih senior saja, atau manager penjualan yang
sudah bekerja tujuh tahun lamanya. Tapi ketika dia menanyakan hal itu
pada direksi, jawabannya benar-benar mengecewakan, tidak memuaskan.
Beliau hanya tertawa dan balik bertanya: "Memangnya dilarang?"
Aduuuh. Betul-betul bikin pusing.

Pada waktu rapat pertama, akhir bulan lalu, Yanto begitu gugup
sehingga tidak bisa mencatat semua hasil rapat. Bahkan kadang-kadang
dia tidak bisa mengikuti jalannya rapat secara fokus.

Buktinya kadang-kadang dia menanyakan sesuatu yang sudah dibahas
sebelumnya. Pikirannya terasa buntu. Jantungnya berdebar-debar
kencang sekali. Tangannya juga sedingin es. Benar-benar memalukan.

Para peserta rapat lainnya saling berpandangan dan tersenyum-senyum
secara sembunyi-sembunyi, tapi Yanto bisa merasakan bahwa mereka
menertawakannya. Untung sekretaris direksi ikut dalam rapat itu untuk
membantu membuat notulen rapat, sehingga Yanto cukup tertolong.

Menghadapi tugas keduanya ini Yanto bingung. Dia benar-benar tidak
tahu bagaimana mengatasi kegugupan dan ketakutannya yang luar biasa
itu. Belum lagi kalau para manajer divisi lain juga ikut rapat.
Lengkap sudah ketakutan Yanto.

Dia lebih baik sakit flu berat sehingga bisa tinggal di rumah dan
tidak usah ke kantor dan tidak usah memimpin rapat. Tapi sayangnya
dia sehat walafiat. Baru kali ini Yanto merasa sedih karena sehat.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak terlalu sulit memimpin rapat
penjualan tersebut. Yanto mulai dengan pembukaan mengenai tujuan
rapat dan apa yang diharapkan dari semua peserta rapat.

Kemudian dia hanya meminta agar semua area manager melaporkan
perkembangan penjualan di masing-masing areanya. Kalau ada masalah
yang dihadapi mereka, maka semua orang boleh urun rembug.

Kadang-kadang manajer penjualan yang membantu menganalisis dan
mencari jalan keluar. Kalau pembicaraan sudah terlalu keluar dari
jalur, maka tugas Yanto lagi untuk mengembalikan jalannya diskusi
kejalur yang seharusnya. Boleh dibilang sebenarnya tugasnya bukan
sebagai pemimpin rapat, tapi hanya sebagai fasilitator.

Menganalisis

Akhirnya Yanto merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu. Dia mencoba
mencari cara agar dia dapat merasa nyaman berada di ruang rapat. Dia
mulai menganalisis siapa saja peserta rapat. Berapa lama mereka sudah
bekerja. Apa keahlian mereka.

Kemudian bagaimana sikap mereka sehari-hari dan sikap mereka dalam
rapat. Apa saja kesulitan semua peserta rapat, dan lain sebagainya.
Termasuk siapa-siapa saja yang sering menertawakannya dan mengapa
mereka begitu. Yanto bermasud mengumpulkan data secara diam-diam.

Yanto mulai mencari data tentang para peserta rapat. Dia pun
mendatangi mereka satu per satu. Yanto melakukan pendekatan langsung
dengan mereka. Dia berusaha lebih mengenal mereka semua.

Terhadap orang yang terbuka, Yanto bersikap terbuka juga. Terhadap
orang yang tertutup, dia lebih hati-hati agar tidak berkesan sok
ingin tahu. Terhadap orang yang sudah senior, Yanto tidak mau
menimbulkan kesan menggurui.

Terhadap orang yang arogan, Yanto bersikap rendah hati tapi tidak
tampak bodoh sehingga dia tidak dihina. Terhadap orang yang harus
dihormati, Yanto bersikap hormat. Terhadap orang yang mudah akrab,
Yanto juga tidak menutup diri.

Demikianlah Yanto berusaha mengenal semua orang. Ternyata hasilnya
tidak mengecewakan.

Tanpa sadar Yanto telah membuka jalur komunikasi pribadi dengan semua
orang. Mereka jadi lebih mengenal Yanto, dan sebaliknya Yanto lebih
mengenal mereka. Berbeda dengan dulu, perkenalan mereka dulu hanya
sebatas pertemuan di ruang rapat. Kini mereka bisa saling menyapa,
kadang-kadang bercanda. Yanto lebih bebas karena tidak canggung lagi
mendatangi ruang para manajer itu. Malah kadang-kadang Yanto makan
siang bersama mereka.

Ketika rapat bulanan tiba, Yanto merasakan perbedaan yang luar biasa.
Dia tidak lagi ketakutan. Dia tidak lagi lupa mencatat hasil rapat.
Tangannya tidak dingin lagi. Jantungnya tidak berdebar kencang lagi.

Suasana jauh lebih santai. Kalau Yanto melihat mereka berbisik-bisik
sambil tersenyum, dia sudah tidak lagi curiga pada mereka. Dia tidak
lagi merasa bahwa mereka sedang menertawakannya. Suasana rapat benar-
benar berubah bagi Yanto.

Yanto kini merasa dirinya berada di antara teman, bukan lagi di
tengah orang asing. Kini dia sadar bahwa selama ini yang dialaminya
adalah masalah komunikasi. Mereka semua sebenarnya baik. Dia sendiri
yang selama ini kurang mau berkomunikasi. Make friends! Be happy!

Sumber: Komunikasi oleh Lisa Nuryanti, Pemerhati Etika dan
Kepribadian


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke